Cerpen
Mad Brek
HUJAN mengguyur bumi dengan lebatnya. Sulit dibedakan, apakah hari masih fajar atau sudah senja
“Sebisa mungkin aku bantu. Tapi kau harus merahasiakan segala yang kau tahu tentang prahara Jembatan Piadah itu. Gubernur Rasyib tidak suka dikhianati,” kata si kurus.
“Baiklah. Dimana aku dapat bertemu dia?” jawab Mad Brek datar. Dia mematikan rokoknya. Lalu membuangnya entah kemana.
Mad Brek membuang pandangannya ke luar jendela yang tidak berdaun. Menatap ke arah derai hujan yang berjatuhan. Wajahnya agak sinis, menyimpan selarik gejolak, bulu-bulunya merinding, dan di kulitnya yang tidak ditumbuhi bulu tampak kutil berwarna hitam, bekas-bekas borok yang sudah lama sembuh.
Pada tiang-tiang tembok yang ambruk - bekas Jembatan Piadah - bersandar beberapa tubuh, yang terlihat jelas ketika kilat berkelebat. Hanya tiga orang. Hitam. Dipastikan bahwa mereka sedang mengintai. Entah apa. Mereka tampaknya bukan dari kalangan itu. Mereka tampak tegap dan gagah, seperti para perompak, sehingga orang-orang Bulan Pancung untuk saat ini tidak memberontak dan bersikap damai. Mereka merengkuh segalanya dengan kesungguhan. Ketiganya bergerak tanpa menghiraukan hujan yang menerpa jaket hitam yang melindungi tubuh mereka. Bukannya berteduh, mereka malah bergerak menuju sebuah puing kapal yang menjulang di bibir sungai, menyelinap di antara kepingan kayu besar. Bekas kapal itu berderak. Ketiga orang itu tidak takut pada badai, tidak takut pada kegelapan, tidak menjerit. Lalu, dengan hinanya mereka menghambakan diri pada pemimpin yang telah memenggal kepala pemimpin mereka beberapa waktu yang telah lewat.
“Gubernur Rasyib telah berjanji apa padamu?” si Kurus berkata sambil menepuk bahu Mad Brek. Perbincangan kecil itu seperti ramah tamah untuk membungkam malam.
“Kain putih,” jawabnya singkat.
Si Kurus tertawa kecil dan mengetip jarinya. Lalu merangkul Mad Brek, berusaha menjalin keakraban. Si Kurus mempersilahkan Mad Brek duduk pada pada lantai kayu puing kapal yang mulai lapuk. Kemudian di melangkah ke pojok, bekas gudang, bertekuk sambil memegang kardus. Tidak lama, sebuah bungkusan disodorkannya kepada Mad Brek.
“Untuk siapa?”
“Untuk kaubawa pulang ke Keuruto. Sampaikan salamku kepada Panglima Tar dan Nahkoda Kim.”
Selintas Mad Brek teringat Panglima Tar dan Nahkoda Kim. Di manakah mereka sekarang? Mungkin mereka sedang terperangkap dalam Hutan Paya Cicem ketika mereka melarikan diri dari Piadah. Mungkin tubuh mereka sedang menggigil kedinginan bersama Cut Nyak Siti Sara, perempuan korban DI/ TII yang terkubur di sana, lantaran berdakwah menentang kaum penguasa puluhan tahun silam. Mungkin juga mereka telah beku seperti Pucok yang tertembak dadanya. Ah, nanti saja, pikir Mad Brek, bagaimana caranya membebaskan Panglima Tar dan Nahkoda Kim. Saat ini yang terpenting adalah bertemu Gubernur Rasyib dan menagih janji lamanya ketika di Keureuto.
“Kau kenal mereka?”
“Ya, mereka pernah bersekutu ketika perang di Piadah dulu.”
“Perang di Piadah?”
“Ya, perang yang telah merenggut tangan kananku.”
“Jadi?”