Cerpen

Mad Brek

HUJAN mengguyur bumi dengan lebatnya. Sulit dibedakan, apakah hari masih fajar atau sudah senja

Editor: bakri

Suara Mad Brek parau tersendak-sendak bagai tertelan tulang ikan. Sesaat kemudian, sebilah mada parang besar melesat menuju batang leher Mad Brek. Akan tetapi,  suara letusan terdengar mendahului kelebat parang. Berulang kali. Puluhan kali. Letusan itu muncul tiba-tiba dari balik kegelapan, disusul rubuhnya sesosok tubuh  kerempeng. Orang yang bersimbah darah itu adalah orang yang mengenakan jubah merah, dikenal sebagai kepala perompak dari Bantaian. Dia rubuh di atas gundukan tidak jauh dari tempat Gubernur Rasyib dulunya membantai  Ampon Nu dan beberapa anak buahnya yang terhimpun dalam Persatuan Rompak  Bintang Laut. Bergetarlah langit Cot Patisah di malam bulan Muharram yang gelap.

“Kami sudah menepati janji kami Ampon,” berkata seorang lelaki berjaket hitam dalam sunyi lalu pergi sambil mengetipkan jarinya. (*)

Muara Batu, 26 Februari 2014                           

* Iswandi Usman, lahir di Matang Panyang  Aceh Utara, 5 Februari 1981.  Menetap di Kampung Blangmee, Kutablang, Bireuen. Sehari-hari bekerja sebagai guru di SD Negeri 8 Muara Batu, Aceh Utara.

Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved