Cerpen
Mad Brek
HUJAN mengguyur bumi dengan lebatnya. Sulit dibedakan, apakah hari masih fajar atau sudah senja
“Ya, akulah Gubernur Rasyib yang kau cari!”
Kemudian Mad Brek berbalik, diiringi senyum culas Gubernur Rasyib. Senyum yang seakan mencabik nurani; sorotan mata yang menusuk relung kalbu. Api kebencian berkobar bagai kesumat. Disertai tatapan khianat dan menjijikkan. Waktu dan angin menguap dalam kubangan.
“Hati-hati dalam perjalanan, Kawan. Banyak Budok Apui yang berkeliaran di sekitar sini, kau bisa habis dimangsanya sewaktu-waktu.”
“Ya, mungkin mereka sedang menungguku di luar sana. Menunggu sebuah kesempatan baik.”
Mad Brek memantik korek di ujung rokok ganjanya. Aroma khas ganja kembali diterpa angin yang berhembus dari barat daya. Aroma asap itu mengikuti arah langkah Mad Brek berjalan. Dia terus berjalan menyusuri malam sehabis badai; mengarungi air payau yang tergenang, menginjak lumpur, sampah dan apa saja yang berserak di jalanan.
Di setengah perjalanan Mad Brek menatap langit, dan tidak ditemukannya sekelip bintang pun. Mad Brek menembus kepekatan malam bagai Pendekar Syair Berdarah yang sedang membungkus diri dalam kidung kematian.
Sementara itu hujan mulai reda. Jatuh pelan satu demi satu. Langit masih bertudung hitam, semakin pekat merenda kegelapan pada seisi dunia, seakan sedang menebar lembing yang mengerikan. Sambil berjalan Mad Brek terus menyambung rokok ganjanya. Tidak dihiraukan apakah sesuatu di kegelapan sedang mengintainya. Jangkrik menjerit gundah, cacing-cacing tanah menangis; dan sekali-kali terdengar lolongan anjing liar. Dia berpikir, menghambakan diri mungkin bukan jalan terbaik untuk tetap bertahan; bukan jalan terbaik untuk tetap terhina. Mad Brek larut di tengah-tengah pergolakan batinnya. Dia ingat nasib Ampon Nu yang berakhir tragis di ujung kelewang dengan leher nyaris putus dan terbungkus kain putih. Entah siapa pelakunya. Mad Brek berjalan sempoyongan. Dia mengingat sehelai kain putih pemberian Gubernur Rasyib di tangannya.
Tanpa disadarinya, dia sedang menuju ke persimpangan yang lengang. Tak ada lampu. Kelelawar-kelelawar berterbangan. Anjing-anjing hitam berkeliaran. Suara burung hantu bersahutan dari balik dahan ketapang yang berdiri tegak di sudut persimpangan jalan. Mad Brek tiba-tiba terhenyak dan terhempas ke tepian malam. Mukanya bengkak. Dahinya menganga dan luka itu mulai melelehkan cairan merah kental. Rahangnya seperti terkena tumbukan, lalu disusul tulang hidungnya yang retak. Dia remuk redam. Darah segar mengalir lewat celah bibirnya yang lebam membiru. Koreknya terlempar, dan dari ujung rokok ganja masih menyala api, segurat sinar, samar di keremangan.
Bara di ujung rokok ganja semakin memerah. Di udara tercium bau anyir bercampur harumnya daun haram yang terbakar.
“Aku dapat mengendus baumu, kemari kau. Kau tahu segala rahasiaku. Kau akan membocorkan tentang pembunuhan itu. Tak perlu bohong padaku,” sebuah suara bergema. Suara hujan tidak dapat membendung keriuhan. Si pemilik suara mengamati Mad brek dengan ujung matanya yang tajam. Mengetahui mangsanya sekarat dan tak berdaya, laki-laki berjubah merah mengetipkan jarinya. Mad Brek masih melihat seseorang berjaket hitam di samping tubuhnya.
“Tidak ada rencong di sini. Hanya ada bungkusan kain, dan sekeping upih. Aku telah memeriksa badannya. Hanya ada bekas borok yang menjijikan. Licin bagai jeli disiram es. Aku tidak tahu benda apa ini. Atau mengapa dipakai seperti baju singlet. Kau mungkin tahu?” lelaki berjaket hitam itu itu berkata pada lelaki berjubah merah.
“Aku sendiri tidak tahu, aku hanya khawatir dia akan membahayakan Gubernur Rasyib.”
“Upih di dadanya cuma upih pinang. Tanda pengenal bahwa dia seorang bekas penderita budok,” kata lelaki berjaket hitam sambil menyalakan sebatang rokok.
Si lelaki berjubah merah mengetip jarinya sekali lagi, lalu melambaikan tangan kepada kawannya agar menjauh.
“Dia si Raa…Syib keparattt ituuu…Pembunuh Ampon Nu,” Mad Brek berusaha dengan sisa tenaganya merangkak. Tangannya meraih-raih angin dan menunjuk-nunjuk lelaki berjubah merah.