Opini
‘Avatar’ dan Hutan Kita
MESKIPUN film jenius karya James Cameron’s cuma fiksi, namun sesungguhnya merefleksikan bagaimana pertarungan manusia
Avatar dan banyak film lainnya mencoba menggiring rasa dan pikiran kita kesana, bagaimana klan-klan yang hidup damai berteman dengan alam harus berbenturan dengan kepentingan perburuan mineral. Beruntung dalam kisah Avatar ada tokoh yang berhasil menyelamatkan hutan Pandora tetap utuh. Sementara di dunia nyata, semua terbalik 180 derajat. Film ini seperti berusaha mengobati luka hati kita. Apakah kita akan terus berutopia, padahal dibalik itu semua, hutan kita luluh lantak dan tambang-tambang kita mengganga ditinggalkan para investor setelah menggali semua mineralnya?
Kita punya potret Freeport untuk kasus Lhong Setia Mining, kita punya kisah Teluk Buyat untuk kasus merkuri tambang emas Gunung Ujeun, kita juga punya kisah Taman Nasional Gunung Leuser dan Tahura Pocut Meurah yang dijarah di depan mata dan tinggal menunggu bala. Kita hidup dalam paradoksi yang kita ciptakan sendiri, seolah-olah kita kuat dan sanggup menahan semua bencana yang bakal menimpa kita dan sungguh tepat apa yang disampaikan Alan Weisman: “Kita mungkin terkecoh oleh naluri-naluri bertahan hidup kita, yang telah terlatih selama ribuan tahun untuk membantu kita menyangkal, menolak, atau mengabaikan tanda-tanda kiamat supaya kita tidak mati ketakutan.”
Apabila naluri-naluri itu menyesatkan kita ke penantian yang berujung ke keterlambatan, berarti itu buruk. Apabila naluri-naluri itu memperkokoh ketahanan kita dalam menghadapi kejadian-kejadian yang makin lama makin mengerikan, itu bagus. Lebih dari sekali, harapan gila dan keras kepala telah mengilhami pemikiran-pemikiran kreatif yang menghindarkan manusia dari kehancuran.
Barangkali itu pula mengapa dalam rasa paranoid kita, diciptakan film Kiamat 2012, sebagai upaya kita menenangkan hati. Padahal setiap hari kita tengah menggali kuburan kita, jika tidak untuk kita sendiri pastilah kuburan itu tengah kita ciptakan untuk anak-anak cucu kita yang akan menikmati merkuri, polusi, kekeringan, perubahan iklim yang ekstrim dan banjir bandang, longsor yang rutin menghiasi media seolah menjadi sebuah keniscayaan yang begitulah seharusnya mereka akan alami dalam hidup mereka yang telah diciptakan oleh para pendahulunya.
* Hanif Sofyan, Aceh Environmental Justice. Email: acehdigest@gmail.com