Kamis, 4 Juni 2026

Opini

‘Uroe Raya’ dalam Adat Aceh

HARI Raya (Uroe Raya) Idul Fitri 1435 Hijriah, yang puncaknya baru saja kita rayakan pada 1 Syawal lalu, menarik dikaji dalam perspektif

Tayang:
Editor: bakri

Oleh M Adli Abdullah

HARI Raya (Uroe Raya) Idul Fitri 1435 Hijriah, yang puncaknya baru saja kita rayakan pada 1 Syawal lalu, menarik dikaji dalam perspektif adat Aceh. Mulai dari substansi maupun simbolisisasinya. Uroe raya dalam perspektif adat Aceh, pada awalnya berlangsung selama satu bulan penuh. Selama sebulan penuh itu pula, masyarakat Aceh saling menyapa, membangun bersilaturahim dan mengunjungi rumah keluarga, guree (guru), handai taulan dan lainnya untuk saling bermaaf-maafan. Tentu dengan sajian kueh uroe raya, yang tetap berada di setiap meja tamu pada rumah orang Aceh.

Di Aceh untuk bulan Syawal disebut dengan Buleun Uroe Raya, makanya sebutan untuk 12 bulan Kamariah (Hijriah) sebagai berikut: Buleun Asan Usen, sebagai sebutan untuk bulan Muharram; Buleun Sapha sebutan untuk bulan Safar, bulan Rabiul Awal dikenal sebagai Buleun Moklot, bulan Rabiul Akhir menjadi Buleun Adoe Moklot atau Moklot Teungoh, Jumadil Awal disebut Buleun Moklot Keuneulheueh, Jumadil Akhir dalam bulan Aceh disebut Buleun Kanuri Boh Kajee, Rajab disebut Buleun Kanuri Apam, Syakban menjadi Buleun Kanuri Bu, Ramadhan disebut Buleun Puasa, Syawal disebut Buleun Uroe Raya yang lagi kita nikmati sekarang ini, Zulkaedah disebut Buleun Mapet atau Meurapet, dan terakhir Zulhijjah dinamakan Buleun Haji.

 Uroe Makmeugang
Di Aceh di kenal juga uroe makmeugang, yang juga merupakan tradisi turun temurun di Aceh, untuk menyambut hari kebesaran dalam masyarakat Aceh, seperti ketika menyambut Hari Raya Idul Fitri, Hari Raya Idul Adha dan menyambut bulan suci Ramadhan. Tradisi itu berlansung selama dua hari. Tak lengkap rasanya berhari raya tanpa persediaan makanan enak untuk disantap bersama keluarga, yang dalam hal ini adalah daging sapi atau daging kerbau. 

Pasar daging pun tumbuh bak jamur musim hujan. Hampir setiap pelosok pasar kecamatan, rakyat menggelar lapak-lapak tempat penjualan daging. Hampir semuanya menjual dengan harga yang seragam. Harga jual daging di hari makmeugang ini biasanya lebih mahal dari hari biasanya. Tapi jarang dipermasalahkannya, dalam tradisi adat Aceh. Si kaya akan membeli lebih banyak, untuk dibagikan kepada tetangga yang miskin dan anak yatim.

Menurut sebuah riwayat, meugang pertama sekali diperingati pada masa Kerajaan Aceh Darussalam dipimpin Sultan Iskandar Muda yang berkuasa pada 1607-1636 M. Istilah makmeugang diatur dalam Qanun Meukuta Alam Al Asyi (Undang-Undang Kerajaan). Saat itu, Sultan memerintahkan perangkat desa untuk mendata warga miskin, dan kemudian membagi daging untuk dinikmati bersama keluarga. Mereka harus ikut gembira menyambut hari-hari besar agama Islam. Kebiasaan itu terus turun-temurun, menjadi tradisi yang dilakukan masyarakat. Mengonsumsi daging sambil bersilaturrahmi.

 Masa Kerajaan
Menurut de Weert (Takeshi, 1984) seorang pengembara Eropa yang pernah singgah ke Aceh pada 1603, pada masa pemerintahan Sultan Saidil Mukammil, atau dikenal juga dengan Shah Alam, untuk menentukan Buleun Uroe Raya, di Kerajaan Islam Aceh Darussalam, dulunya dengan melihat bulan, maka rakyat berbondong-bondong turun ke kota atau ke tepi laut untuk melihat bulan dengan mata telanjang. 

Setiap malam hari raya, ditandai dengan pumukulan bedug (peh tambo) di meunasah sambil membaca hikayat kepahlawanan Aceh seperti Hikayat Malem Dagang, Hikayat Muhammad Hanafiah, Hikayat Nur Parisi, Hikayat Hasan Husein dan sebagainya. Di kenegerian Samalanga misalnya, kaum lelaki kumpul di meunasah untuk membaca Rabbani, tari sufi dari Turki, atau dikenal juga dulunya meugroup, sedangkan kaum ibu mempersiapkan juadah hari raya.

Pada masa perang Aceh dengan kolonial Belanda (1873-1942) warga menambah dengan bacaan Hikayat Prang Sabi. Namun kemudian pemerintah kolonial Belanda melarang rakyat membacanya. Pasalnya, hikayat ini dapat membangkitkan semangat perlawanan melawan Belanda. Sebagai gantinya maka dibaca Barzanji atau Dalail Khairat di setiap meunasah dan masjid.

Tradisi lain di Aceh, dalam menyambut uroe raya, yakni pada malam takbiran disalurkan zakat fitrah kepada fakir miskin dan kaum duafa. Supaya mereka juga dapat bergembira pada 1 Syawal. Keuchik dan Teungku Meunasah, melakukan pengawasan terhadap warga yang tidak berzakat, serta menagih sesuai aturan Islam. Mereka dapat memaksa warga untuk mengeluarkan zakat fitrah.

Pada pagi uroe raya, warga mandi sunat hari raya, mengenakan pakaian baru, sarapan sedikit dan menuju ke tempat sembahyang dengan memuji Allah Swt sebagai rasa syukur kepadaNya. Setelah itu bermaaf-maafan, mengunjungi kerabat, menziarahi makam orang tua atau saudara dekat lainnya.

Pada masa kerajaan Aceh, sultan, uleebalang serta pembesar negeri menerima kunjungan bawahannya dan rakyat. Kalau sekarang disebut open house. Silaturrahim ini, untuk mengakhiri dendam dan permusuhan. Maka dalam adat Aceh, permintaan maaf dan mengakhiri permusuhan biasanya dilakukan pada uroe raya, hari perkawinan, dan hari kematian.

 Ajang silaturrahmi
Mudah-mudah juga open house yang sekarang lagi trend di kalangan aparatur pemerintahan juga dapat menjadi ajang silaturahmi dan bermaaf-maafan apalagi kita baru saja selesai pileg dan pilpres tentu inilah masanya untuk saling berseliturahmi dan melupakan yang lalu, energi yang ada mari kita curahkan untuk membangun negeri lupakan friksi dan faksi, tapi satukan langkah dan hati membangun negeri yang kita cintai.

Pada uroe raya, warga diharuskan mencium orang tua, kakak, abang, nenek, paman di lutut atau dalam tradisi orang Jawa disebut sungkem. Kini, pemberian hormat dengan mengucapkan assalamualaikum serta bersalaman. Pada masa dulu, dikenal adat beu-euet beurale (mengangkat dua tangan di tangan atas kepala) atau dinamakan juga sembah jeurulang. Adat sembah jeurulang ini hampir mirip dengan budaya yang ada di selatan India, mungkin juga pengaruh budaya India yang dibawa ke Aceh.

Pada Hari Raya Puasa dan Hari Raya Haji, suami-isteri berkewajiban mengunjungi orang tua kedua pihak. Khusus untuk pengantin baru akan mendapat hadiah uroe raya berupa uang dari mertuanya sebagai sambutan sembahnya. Lazimnya, hadiah uroe raya diberikan selama tiga tahun usia perkawinan. Memasuki usia perkawinan keempat, jangan berharap ada “salam tempel” hadiah uroe raya.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved