Opini
Fenomena Jilboobs dan Hijab Syar’i
FENOMENA jilboobs, belakangan ini telah menjadi satu wacana hangat yang menyita perhatian publik
Itulah sebabnya, implementasi Kurikulum 2013 (K-13) yang baru saja diterapkan secara nasional pada tahun ajaran baru kali ini, paling tidak harus mampu menjadi garda terdepan sebagai upaya antisipasi menekan propaganda penggunaan jilboobs. Secara teknis, proses pembelajaran yang dilakukan selain fokus pada pemahaman materi, juga harus menekankan pentingnya pemahaman moral dan etika kepada siswa, utamannya dalam hal berbusana.
Namun demikian, upaya yang dilakukan untuk menekan propaganda penggunaan jiboobs di sekolah, hendaknya mengedepankan cara-cara persuasif. Misalnya, dengan memberikan teguran secara halus, selalu memberikan contoh berbusana muslim yang syar’i dan selalu menekankan nilai-nilai agama dalam berbusana. Upaya persuatif akan mempunyai dampak jangka panjang dari pada menggunakan upaya-upaya yang bersifat paksaan maupun otoriter (Burgon & Huffer, 2002). Selain itu, upaya persuasif akan bisa mendorong lahirnya kesadaran dari dalam diri sendiri. Kesadaran dari dalam diri sendiri inilah yang sebenarnya penting dan diperlukan untuk membendung propaganda jilboobs, baik dari media sosial maupun propaganda dari teman-teman sebaya di lingkungannya.
Akhirnya, munculnya fenomena jilboobs ini harus disikapi sebagai otokritik yang membangun bagi umat Islam, utamanya kaum muslimah. Otokritik tersebut harus dijadikan landasan untuk tidak kembali terjerumus ke dalam lubang yang sama. Evaluasi dan introspeksi diri mutlak dilakukan, sehingga keteguhan hati dalam berhijab menjadi benar-benar murni hanya karena Allah Swt semata. Dengan begitu, tuntutan bagi kaum muslimah untuk bisa mejalankan ajaran agamanya secara total dan sempurna (kaffah) bisa dilakukan. Wallahu a’lam.
Pangki T. Hidayat, S.Pd., Alumnus Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP), Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Direktur Eksekutif Research Center for Democratic Education, Yogyakarta. Email: pangki.hidayat4@gmail.com