Opini
Menjadi Tetangga yang Baik
IBNU Mas’ud ra menerangkan, hadis tersebut di atas merupakan jawaban bagi seseorang yang bertanya
Hadis di atas menjelaskan betapa melakukan sekali kejahatan terhadap tetangga sama dengan melakukan sepuluh kejahatan. Ini membuktikan betapa para tetangga kita adalah orang-orang yang harus dimuliakan.
Dari Anas bin Malik ra, Rasulullah saw bersabda: “Tidak beriman kepadaku orang tidur malam dalam keadaan kenyang, sedangkan tetangganya kelaparan sedangkan dia mengetahui dan menyadarinya.” (HR. Thabrani dan Al-Bazzar). Ibnu Hajar Al-Asqalani juga berkata: “Janganlah menganggap remeh berbuat baik kepada tetangga meskipun hanya sedikit.”
Kerap kita jumpai, perbuatan yang namanya ghibah (membicarakan orang lain), namimah (mengadu domba), mencela, dan menghina lebih banyak terjadi antartetangga, baik tetangga dalam keluarga (tempat tinggal) maupun tetangga luar yang letaknya berjauhan.
Setiap orang yang berdekatan dengan kita selama kurun yang cukup panjang, itu adalah jaar (tetangga) kita. Di sanalah setiap kita mempunyai hak (yang harus kita terima) dan mempunyai kewajiban (yang harus kita lakukan) terhadap orang lain, dalam hal ini dengan tetangga kita.
Larangan menyakiti tetangga
Ajaran Islam melarang kita menyakiti tetangga. Hadis-hadis di bawah ini menjelaskan hukum menyakiti tetangga, betapa buruk dampaknya, dan betapa besar kerugiannya. Ironisnya, hanya sedikit manusia yang selamat dari perbuatan tersebut.
Abu Hurairah ra mengatakan, Rasulullah saw bersabda: “Demi Allah, tidak beriman (diucapkan tiga kali) --tidak sempurna imannya-- yang dapat menyelamatkannya dari neraka. Seorang sahabat bertanya: Siapakah wahai Rasulullah? Beliau menjawab: Yaitu orang yang tidak mengamankan tetangganya dari kejahatannya.” (Muttafaq “alaih, Imam Bukhari, Imam Muslim dan Imam Ahmad).
Dalam keterangan lain disebutkan, Abu Hurairah berkata: “Seorang laki-laki melaporkan kepada Rasulullah saw seraya berkata: Wahai Rasulullah, sesungguhnya si fulanah (sebutan untuk wanita) banyak melakukan shalat, sedekah dan berpuasa, hanya saja dia suka menyakiti tetangganya dengan lidahnya. Maka Rasulullah saw menjawab: Orang itu akan masuk neraka. Dia berkata: Wahai Rasulullah, sesungguhnya si fulanah disebut-sebut kurang shaumnya, sedikit shalat sunatnya, dan dia bersedekah dengan sedikit keju, tetapi dia tidak suka menyakiti tetangganya. Maka Rasulullah saw bersabda: Wanita itu akan masuk surga.” (HR. Imam Ahmad, Al-Bazzar dan Ibnu Hibban).
Banyak cara untuk memuliakan tetangga. Berbagai hal bisa dilakukan dengan keadaan tetangga yang bersangkutan, juga kondisi kita. Namun secara umum, semua orang ingin diperlakukan secara baik oleh tetangganya. Juga ingin terhindar dari perilaku buruk tetangganya. Karena itu, mari kita memuliakan tetangga! Semoga kita menjadi mulia di mata Allah Swt, juga mulia di mata para tetangga kita. Amin ya raabbal ‘alamin.
* H. Usamah El-Madny, Peminat isu keagamaan dan sospol, tinggal di pinggiran Aceh Besar. Email: usamahelmadny@gmail.com
Kunjungi juga :
www.serambinewstv.com | www.menatapaceh.com |
www.serambifm.com | www.prohaba.co |