Opini
Merawat Ingatan Perang Aceh-Belanda
HARI ini, 142 tahun yang lalu (26 Maret 1873-26 Maret 2015), adalah momen bersejarah dalam prahara duka rakyat Aceh
Keempat, adalah pelajaran yang dapat dipetik dari memori 26 Maret 1873 yakni jangan terpengaruh dengan kebaikan lawan-lawan politik yang tiba-tiba menjadi teman. Karena bisa jadi, dalam waktu tertentu mereka akan menerkam pelan-pelan untuk merebohkan sendi-sendi kekuatan masyarakat Aceh. Aceh telah banyak mengalami pengalaman pahit sejak zaman kolonialisme Inggris, Belanda dan paska kemerdekaan 17 Agustus 1945, di mana kita terlalu terbuai dengan janji, tetapi akhirnya kita mengetahui dikhianati.
Kelima, masyarakat Aceh harus mewaspadai setiap pementasan ‘sinetron’ politik, dengan judul dan ‘artis’ yang baru. Karena perbedaan cara pandang untuk melepas adrenalin bagi pengambil kebijakan. Dengan hipotesa-hipotesa kehidupan untuk membuat Aceh sebagai laboratorium pengkhianatan.
Dan, keenam, memori 26 Maret untuk masa kini dan masa depan yakni setiap pemimpin dan masyarakat Aceh, harus melakukan cek dan ricek alias tabayyun dalam setiap informasi baru. Konfirmasi bisa dilakukan jika ada data yang sesuai fakta. Tidak dibantah lagi, apalagi dengan teknologi informasi yang canggih, semua bisa dilakukan dengan cepat dan akurat antara fakta atau fitnah.
Begitulah makna, dari sisi lain merawat ingatan Maklumat Perang Aceh-Belanda. Semua menjadi ingatan kolektif sebagai bagian dari perwujudan persatuan rakyat Aceh. Jika rakyat Aceh, termasuk para elitenya bersatu, maka tujuan untuk kemajuan dan kesejahteraan tinggal menunggu waktu. Semoga!
* M. Adli Abdullah, Pegiat Kajian Sejarah Aceh dan Dosen Universitas Syiah Kuala (Unsyiah), Banda Aceh. Email: bawarith@gmail.com