Opini
Amaliah Menjelang Idul Fitri
ALHAMDULILLAH, tanpa terasa kita sudah berada di penghujung ramadhan, yaitu sepuluh yang akhir,
Takbir telah menggugah hati insan yang bertakwa, takbir juga telah menimbulkan keberanian moril untuk senantiasa berpihak pada yang benar, (qulil haqqa walaukana murran), berani menempuh risiko dalam perjuangan sekalipun pahit dan getir, sesuai ikrar yang selalu diucapkan dalam shalat, inna shalati wanusuki wamahyaya wamamati lillahi rabbil ‘alamin (sesungguhya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah Tuhan semesta alam).
Akhirnya renungkan pula ucapan hukama; laitsa al-‘idu liman labitsal jadid, wala akala al-qadid, wa lakinna al-‘idu liman ta’atahu tazid (tidaklah dinamakan hari raya bagi orang yang hanya memakai baju baru, tidak pula bagi orang yang memakan berbagai hidangan yang lezat tetapi hari raya itu hanya bagi orang-orang yang ketaatannya bertambah kepada Allah swt). Insya Allah, semoga kita menjadi hamba yang bersyukur dan meraih predikat takwa. Amin ya Rabbal ‘alamin. Wallahu a’lamu bish shawab.
* Dr. H. Abdul Gani Isa, SH, M.Ag., Dosen Fakultas Syariah dan Hukum/Ketua Prodi Ilmu Agama Islam Pascasarjana UIN Ar-Raniry, Darussalam, Banda Aceh. Email: aganiisa@yahoo.co.id