Pojok Budaya
Belajar Menulis Hikayat dari Teks Latin, Aslinya Masih Terkunci
Sumber yang tersedia adalah teks hikayat dalam aksara Latin. Dari sana saya mulai belajar kaidah: buhu dan pakhôk.
Oleh: Moritza Thaher*)
Melodinya sudah selesai. Aransemen juga sudah siap. Penyanyi sudah hafal nadanya. Syairnya masih menunggu seseorang yang selalu punya alasan untuk menunda.
Ini sudah berkali-kali terjadi. Saya punya beberapa penulis syair yang biasa saya ajak bekerja sama. Mereka berbakat dan saya menghargai kerja mereka.
Baca juga: Pintu yang Masih Ditanya-tanya, Qanun Sudah Berjalan Tanpa Mereka
Masalahnya sederhana: jadwal dan kondisi mereka yang menentukan kapan lagu saya selesai.
Kadang itu penulis yang tengah mengerjakan pesanan lain. Kadang ada pekerjaan yang datang lebih dulu. Lagu itu menunggu.
Beberapa lagu sudah terlalu lama menunggu syairnya. Suatu hari saya berhenti menunggu.
Saya perlu bisa menulis sendiri. Lagu-lagu yang saya garap punya struktur. Syairnya perlu struktur yang setara.
Saya ingin menulis dalam kaidah sastra klasik Aceh. Hikayat. Syair yang punya aturan dan struktur yang sudah berumur ratusan tahun.
Yang Saya Pegang Sudah Satu Tangan dari Aslinya
Sumber yang tersedia adalah teks hikayat dalam aksara Latin. Dari sana saya mulai belajar kaidah: buhu dan pakhôk.
Buhu adalah metrum, cara mengukur panjang suku kata per baris. Pakhôk adalah rima, persajakan yang mengikat baris satu ke baris berikutnya.
Baca juga: Hujan Turun, Kebakaran Lahan Capai 99 Hektare di Nagan Raya Akhirnya Padam
Saya membaca pola itu berulang kali. Menghitung suku kata. Membandingkan baris satu dengan baris berikutnya. Lambat laun kaidahnya mulai terasa.
Saya mulai bisa merasakan ketika sebuah baris terlalu pendek atau terlalu panjang. Kaidah itu mulai terasa seperti irama.
Teks yang saya pelajari sudah melewati satu tangan sebelum sampai ke saya. Snouck Hurgronje dan timnya mengalihaksara sekitar 600 naskah Jawoe ke aksara Latin.
Tujuannya: memahami perlawanan Aceh. Program kolonial yang menghasilkan koleksi naskah. Saya belajar kaidah sastra klasik Aceh dari warisan proyek itu.
Baca juga: Kemenag Buka Pendaftaran Nikah Massal 2026, Peserta Berkesempatan Dapat Bantuan Modal Usaha
H.Agussalim pernah berkata tentang kondisi ini: "Dengan demikian kita meneruskan politik penjajahan."
Saya membaca kalimat itu sambil menggenggam teks yang saya pelajari. Keduanya di tangan yang sama.
Saya masih menebak berapa banyak yang berubah dalam perjalanan teks itu. Dari sanalah keinginan untuk membaca langsung dari Jawoe itu muncul.
Jalur ke Aksara Aslinya Baru Terbuka
| Pintu yang Masih Ditanya-tanya, Qanun Sudah Berjalan Tanpa Mereka |
|
|---|
| Buloh Peurindu: Senandung Terakhir dari Geulanggang Labu |
|
|---|
| Yang Tak Masuk Pasal: Dua Dasawarsa Menunggu Giliran Kebudayaan Aceh dalam Revisi UUPA |
|
|---|
| Jauh Dulu, Baru Pulang: Validasi Dulu Baru Dapat Kesempatan? |
|
|---|
| Pustaka yang Kekurangan Mulut |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/MORITZA-THAHER.jpg)