Wahai Para Istri Inilah Dosa-Dosa Suami yang Perlu Diketahui
“Sesungguhnya termasuk manusia paling jelek kedudukannya di sisi Allah pada hari kiamat adalah laki-laki yang menggauli istrinya kemudian dia sebarkan
Setiap harta atau rezeki yang Allah titipkan kepada seorang suami tentu saja tidak menjadi dosa ketika istrinya ikut menikmati sebab memang sang suami mencari rezeki untuk menafkahi suaminya.
Sebaliknya jika istri yang mendapatkan rezeki, maka haram hukumnya bagi suami memakan harta istrinya tanpa seizin sang istri. Harta suami yang dinafkahkan kepada istri adalah sebuah kewajiban suami.
Sebaliknya, jika ada istri yang memberikan nafkah kepada suami, maka itu sifatnya adalah sedekah.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman yang artinya, “Kemudian jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari maskawin itu dengan senang hati, Maka makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap lagi baik akibatnya.” (Qs. An Nisa:4).
Al Bukhari meriwayatkan hadis Abu Sa’id ra dalam Shahihnya, ia berkata, “Dari Abu Sa’id al Khudri ra, Zainab, isteri Ibnu Mas’ud datang meminta izin untuk bertemu. Ada yang memberitahu, “Wahai Rasulullah, ini adalah Zainab.”
Nabi Shallalahu ‘Alaihi Wasallam bertanya, “Zainab yang mana?” Maka ada yang menjawab, “(Zainab) isteri Ibnu Mas’ud.”
Beliau menjawab, “Baiklah. Izinkanlah dirinya.” Maka ia (Zainab) berkata, “Wahai, Nabi Allah. Hari ini engkau memerintahkan untuk bersedekah. Sedangkan aku mempunyai perhiasan dan ingin bersedekah. Namun Ibnu Mas’ud mengatakan bahwa dirinya dan anaknya lebih berhak menerima sedekahku.”
Nabi bersabda, “Ibnu Mas’ud berkata benar. Suami dan anakmu lebih berhak menerima sedekahmu.” Dalam lafazh lain, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menambahkan, “Benar, ia mendapatkan dua pahala, pahala menjalin tali kekerabatan dan pahala sedekah.”
Berselisih dengan Istri | Jangan merasa karena menjadi seorang suami lalu Anda sekehendak hati meluapkan emosi kepada istri. Ingat, wanita yang kini menjadi istri Anda adalah seorang wanita yang hakikatnya telah Allah pilihkan untuk mendampingi Anda dalam menjalani kehidupan yang singkat ini.
Sejatinya, istri adalah patner yang bisa menjadi tempat berbagi tentang semua masalah yang dihadapi bukan sebaliknya malah di ajak berselisih demi meluapkan semua emosi atau marah.
Meluapkan emosi kepada istri bukanlah solusi untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi. Seorang sahabat berkata kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, “Ya Rasulullah, berpesanlah kepadaku.” Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berpesan, “Jangan suka marah (emosi).” Sahabat itu bertanya berulang-ulang dan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tetap berulang kali berpesan, “Jangan suka marah!” (HR. Bukhari).
Betapa penting akhlak seorang suami untuk menahan emosinya agar tidak diluapkan kepada istrinya. Dan betapa hancur hati seorang istri jika suaminya tiba-tiba meluapkan emosinya tanpa mau menjelaskan terlebih dulu apa yang menjadi sebab ia marah-marah kepada istrinya. Di sinilah seorang suami harus mampu menahan emosinya dan mengisi spiritualnya agar mempunyai kelembutan.
Pelit pada Istri | Tidak sedikit suami yang jika mendapatkan uang lalu disimpannya sendiri di dalam dompetnya. Tak serupiah pun ia bagi kepada istrinya kecuali jika istrinya melapor karena untuk membeli kebutuhan dapur, dan anak-anaknya. Prilaku seperti ini tentu saja seolah-olah sang suami tidak mempunyai rasa percaya kepada istrinya.
Padalah dalam Islam tidaklah seperti itu. Seharusnya, setelah seharian suami bekerja dan mendapatkan uang, maka ia beri tahu dan diberikan kepada istrinya. Dan jika ia perlu untuk memenuhi kebutuhannya, maka mintalah kepada istrinya. Kepercayaan suami kepada istri dengan memberikan gaji atau uang kepada istri sepenuhnya akan membuahkan rasa cinta yang semakin berlipat. Sebab istri merasakan betapa ia benar-benar telah dipercaya untuk menjadi ‘bendahara’ bagi suaminya.
Karena itu, janganlah seorang suami bersikap kikir (pelit) kepada istrinya, sebab Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam melarang bersikap seperti itu. Dari Aisyah ra yang menyatakan bahwa Hindun binti Utbah pernah mengadu kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Abu Sufyan (suamiku) tidak memberikan nafkah yang cukup kepadaku dan kepada anak-anakku.”
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/selingkuh_20160826_222424.jpg)