KUPI BEUNGOH

Aneuk Meutuah

Jika pun anak itu tetap membandel maka bertawakkal-lah kepada Allah Swt.

Editor: Amirullah
Adnan Yahya 

Sebenarnya bahasa ketidak-adaban tersebut akan merusak karakter anak saat itu juga. bahasa tersebut akan ditiru oleh anak dan mereka praktekkan dalam pergaulan mereka. Senada pesan endatu; meunan ue meunan minyeuk, meunan du meunan aneuk.

Maka sudah saatnya pola asuh orangtua kembali merujuk kepada Alquran. Diantaranya dengan membangun komunikasi efektif dan persuasif dalam mengasuh/mendidik anak.

Komunikasi efektif dan persuasif bermakna bahasa yang digunakan dalam mendidik anak yaitu bahasa yang merangkul bukan memukul, mengajak bukan mengejek, menyayangi bukan menendangi, menasihati bukan menghina, dan mencintai bukan membenci.

Sehingga terbentuk citra diri (self image) positif pada diri anak. Akhirnya anak merasa disayangi, dihargai, dicintai, didengar, diajak, dinasihati, dan dimuliakan oleh orangtua. Ketika anak sudah merasakan hal positif dalam pola pengasuhan.

Mereka akan menjadi anak yang baik dan tunduk pada perintah orangtua. Sebaliknya, ketika anak merasakan hal negatif dalam pola pengasuhan orangtua, mereka akan menjadi pembangkang terhadap perintah orangtua.

Untuk itu, dalam mendidik anak janganlah menggunakan ‘paksaan’ dan doktrinasi semata secara membabi-buta tanpa diiringi dengan kasih sayang dan komunikasi efektif dan persuasif.

Jangankan anak sebagai manusia, binatang saja kalau dipaksa akan berontak dan membangkang juga. Itu sebagai pelajaran bagi orangtua bahwa pendidikan yang mengedepankan ‘kekerasan’ akan berdampak buruk pada anak.

Orangtua harus menyadari bahwa anak merupakan amanah Allah Swt, maka didiklah anak-anak itu dengan pedomanNya, bukan dengan pedoman/kemauan orangtua.

Sebab, anak yang dididik dengan kemarahan akan menjadi pemarah. Anak yang dididik dengan kebencian akan menjadi pembenci.

Anak yang dididik dengan hinaan akan menjadi penghina. Anak yang dididik dengan bahasa yang kotor akan berbicara dengan bahasa kotor.

Anak yang dididik dengan teladan tidak beradab akan berperilaku tidak beradab. Anak yang dididik dengan kekerasan akan menjadi temperamental. Anak yang dididik dengan kemanjaan berlebihan akan menjadi penakut dengan risiko kehidupan.

Sebaliknya, anak yang dididik dengan kasih sayang akan menjadi penyayang. Anak yang dididik dengan pujian akan menghargai.

Anak yang dididik dengan kesantunan akan menjadi santun dalam bertindak. Anak yang dididik dengan kemuliaan akan memuliakan sesama. Anak yang dididik dengan bahasa persuasif akan belajar mematuhi dan menyayangi orangtua. Dan anak yang diberikan teladan yang baik akan berperilaku terpuji.

Oleh karena itu, orangtua dituntut untuk mampu berkomunikasi efektif dan persuasif dengan anak. Karena pola komunikasi orangtua terhadap anak akan mempengaruhi tumbuh-kembang anak di kemudian hari.

Jangan salahkan anak berbicara kotor, kalau orangtua mendidik mereka dengan bahasa kotor. Jangan salahkan anak berperilaku tercela, kalau orangtua selalu mempertontonkan perilaku tercela kepada anak.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved