Rabu, 22 April 2026

Cerpen

Pembunuhan!

PEMBUNUHAN! Pembunuhan! Seorang ibu berteriaksaat melewati jembatan Jambong dengan motor matiknya. Lampu depan motor langsung enerabas hutan

Editor: bakri

 Mereka punmengejar. Aku terengah-engah, mereka juga terengah-engah. Sampai kakiku terganjal batu dan sol sepatu hak tinggiku patah, kedua lelaki itu telah menodongkan belati ke wajahku. “Aku tak punya apa-apa.” Terdengar ada sesuatu yang jatuh dari pohon tempat aku tersudut. Bulu di sekujur tubuhku meremang, entah karena dinginnya atau karena takut. Lelaki kurus bersebo itu mengancamku. Temannya satu lagi merampas tasku.

 Begitu kulihat ada orang datang. Aku berteriak minta tolong. Tapi sialnya, belati itu telah menghujam perutku. Aku tercekat. Sakit pun cepat menyebar. Mereka mengambil apa saja yang ada di tubuhku. Aku bagai kehabisan napas. Saat itu yang kupikirkan, apakah secepat ini aku akan mati. Samarsamar kudengar orang yang datang itu berteriak dan kedua orang yang merampokku entah lari kemana. Aku nyaris tenggelam dan adam. Entah berapa lama kemudian, aku bisa mendengar sirene. Aku tak sanggup membuka mata. Tapi aku masih yakin, nyawaku masih melekat.

***

 Kami memang tak punya niatan apapun malam itu. Kami hanya ingin menghisap ganja. Kalau di kampung, takutnya ada polisi atau intel. Begitu tercium bau, kami akan dicari dan ditangkap.

 Tapi saat melihat ada seorang  ewek turun dari mobil dan menyusuri jalan ini, niat itupun muncul. Kamimengintip, apa yang dibawa cewek itu. Dan  emperhatikan suasana di sekeliling. Begitu terasa aman dan tenang, kukira inilah kesempatannya. Awalnya kami mengikuti cewek ituhanya untuk  erampok, bukan yang lain.

 Tapi cewek itu tahu kami menguntitnya. Ia pun berlari sambil meminta tolong. Ini memang beresiko. Tiba-tiba cewek itu terjatuh dan mengaduh. Kesempatan semakin terbuka. Kutodongkan belati. Cewek itu ketakutan. Aduhai, ternyata cewek ini cantik! Ah, aku jadi pingin. Temanku  erampas apapun yang bisa dirampas. Dari belakang kudengar derum motor, cahaya dari lampu depannya menyilaukan.

 Kami mempercepat aksi. Tapi cewek ni sepertinya menemukan cara. Ia berteriak minta tolong. Tentu saja temanku ini panik. Tubuhnya yang tambun berbalik sana berbalik sini. Ia mundur, aku terdorong. Belati yang masih kuarahkan pada cewek itu tiba-tiba menusuk perutnya. Cewek itu meringis. Aku panik. Seumur-umur belum pernah aku membunuh orang. Setelah mengambil apapun yang ada di tubuh cewek itu, kami pun larisecepat  ungkin, semampu mungkin. Tak lama lagi, polisi pasti akan datang mencari. Saat itu, aku tak tahu, entahbagaimana pikiran tentang Tuhan tibatiba saja muncul di benakku. Oh Tuhan!  Meureudu, 07 Agustus, 2016

Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved