Rabu, 22 April 2026

Cerpen

Pembunuhan!

PEMBUNUHAN! Pembunuhan! Seorang ibu berteriaksaat melewati jembatan Jambong dengan motor matiknya. Lampu depan motor langsung enerabas hutan

Editor: bakri

Karya Ikhsan Hasbi

 PEMBUNUHAN! Pembunuhan! Seorang ibu berteriaksaat melewati jembatan Jambong dengan motor matiknya. Lampu depan motor langsung  enerabas hutan yang ditumbuhi pepohonan tinggi dan memapar dua orangbersebo. Salah satu dari mereka menusukkan sebilah belati ke tubuh seorang gadis dan membawa lari tasserta seluruh perhiasan di tubuhnya.

 Si ibu ingat betul penampilan kedua orang bersebo itu. Seorang di antara mereka punya tato sepanjang lengan, tinggi dan agak tambun. Seorang lagi kurus, saat berlari terlihat kakinyapincang sebelah. Namun sayang, si ibu tidak bisa melihat wajah di baliksebo tersebut.

 Saat itu seekor tupai sedang melompat di antara ranting pohonjambu klutuk. Angin sejuk tiba-tiba berembus dan lampu di ujung jembatan agak ergetar.

 ***

 Aku pulang dari rumah seorang kerabat malam ini. Udaranya agak sejuk. Memang dari sore hari sudahterlihat mendung. Kukira malam ini akan  ujan. Tadi aku mau minta suamiku mengantar, tapi ia lagi sibuk.Ada tugas yang mesti disiapkan buat acara di kantor besok, katanya. Aku tak mau  engganggu. Kalau sudah dipercaya, jangan setengah-setengah,kataku. Aku ingin suamiku fokus bekerja dan profesional. Aku sering melewati  embatanJambong, yang menghubungkan beberapa kampung dari sungai yang lebar dan kerap memakan korban. Jembatan itu bisa menjadi alternatif, daripada harus memutar melaluijembatan lain meski teraspal.

 Tapi memang di daerah ini rawan. Terlebih suasana hutan dan gelap. Untung, sudah setahun ini, aparatur desa  punya inisiatif untuk memasang lampu di ujung jembatan. embatan ini kira-kira sudah lebihdari setengah abad dibangun. Aku belum lahir saat itu. Katanya sejak  dibangun, jembatan ini dihuni roh-roh makhluk halus yang jahat. Tapi aku sama sekali tak percaya. Malah kulihat, orang-orang kampung justrusering buat hajat tengah  alam atau pagi-pagi sekali.

 Dulunya ujung jembatan itu jadi tempat preman mangkal. Di sanagubuk tempat mereka tidur-tiduran dan bermalas-malasan. Karena sangat mengganggu, tetua kampung meminta bantu polisi untuk mengusir mereka  dan mencabut arus listrik di ujungjembatan. Jadilah jembatan ini gelap  ejak saat itu. 

 Sejak masa konflik, sudah jarang  orang yang mempergunakan jembatan  ni. Lebih-lebih di malam hari. Kontak senjata. Cerita-cerita konyol tentang korban tembakan. Resiko diculik atau ditembus peluru nyasar, membuat banyak warga memilih jalur lain yang lebih ramai dan lebih terang dibandingjembatan ini.

 Malam ini, saat hendak melewati jembatan, aku terkejut. Seorang gadis terlihat berlari sambil meminta tolong. Kupercepat sedikit laju motorku, meski agak oleng karena jembatannya goyang. Di belakang gadis itu tiba-tiba muncul dua orang bersebo. Dari postur dan gerak mereka, aku tahu  keduanya lelaki. Di tangan si kurus ada sebilah belati. Aku berteriak, Pembunuhan! Akan ada pembunuhan!”

 Suasana terasa mencekam, apalagi  angin sejuk merayap senyap. Membuat bulu kudukku meremang. Cecaran lampu motor membuat kedua lelaki itu silau. Aku mulai mengingat serinci mungkin penampilan mereka. Tapi sebelum sampai ke tempat, gadis itu telah ditusuk. Keduanya berusaha  melepaskan cincin dari jari gadis itu, gelangnya, alung sampai anting. Gadis itu tampak mencepuk-cepuk udara.Kedua lelaki itu lalu melarikan diri, meninggalkan si gadis yang sekarat.

 Tolong! Tolong!” Bagaimana mungkin ada pertolongandi sini. Ini hutan. Aku agak gemetaran menggenggam ponsel dan sebisa mungkin  menenangkan diri, llu menelepon adikku yang bertugas di polsek setempat dan beberapakenalan yang bekerja di rumah sakit.

***

 Sudah sedari tadi aku mendengar ada manusia yang meminta tolong. Iaberlari menjauh dari dua lelaki yang mengikutinya. Aku ingin tahu. Aku terus melompat dari ranting ke ranting. Selagi lapar yang tampaknya abadi ini, aku menggigit buah jambuklutuk yang menyatu dengan ranting. Ingin sekali  ku membantu gadis itu.

 Namun dengan tubuh kecilku ini, aku tidak bisa berbuat apa-apa. Apalagi bahasa kami berbeda. Aku cuma bisa melihat dan mendengar. Lalu entah bagaimana, inisiatif itu tumbuh. Aku berusaha melempar beberapa jambu yang bisa kuangkat dan meluruhkan ke bawah. Kulihatorang bersebo itu   ejenak berhenti dan memperhatikan ke sekeliling. Tiba-tiba dari ujung seberangjembatan, muncul cahaya. Kukira itu malaikat. Cahaya itu semakin  endekat, ketika dekat, ternyata aku salah lihat. Seorang ibu muncul denganmotornya, berkali-kali ia berteriak dan membunyikan klakkson.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved