Kera yang Satu Ini Beda dengan Manusia, Dia Suka Mengganggu dan Berteman dengan Pembuat Onar
Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Current Biology pada 4 Januari 2018 tersebut cukup mengejutkan.
Dalam percobaan kedua, hewan tersebut menyaksikan sebuah drama komedi di mana seorang manusia menjatuhkan boneka binatang.
Selanjutnya dua orang masuk, sesorang berusaha merebut mainan, sedang yang lain mengembalikannya.
(Baca: Luhut dan Jusuf Kalla Minta Hentikan Penenggelaman Kapal, Begini Jawaban Tegas Menteri Susi)
(Baca: Tiga Kali Dipenjara belum Juga Kapok, Pedagang Ini Kembali Ditangkap dalam Kasus Sabu)
Setelah menunjukkan video-video tersebut, para peneliti menawarkan potongan apel yang tersembunyi di bawah berbagai karakter dalam video tersebut.
Pada kedua kasus di atas, para bonobo lebih suka "menerima" irisan apel dari (atau berteman dengan) karakter yang lebih agresif.
Pada percobaan terakhir, kera-kera ini melihat karakter kartun yang menyerahkan kursi ke tempat lain. Kemudian dilanjutkan dengan video lain yang menampilkan karakter kartun yang tidak mau menyerahkan kursi.
Bonobo sekali lagi memilih karakter yang kurang bermurah hati.
"Saat ini, kita dapat mengatakan bahwa kita melihat bonobo dan anak manusia menunjukkan kecenderungan yang berlawanan," kata Christopher Krupenye, peneliti penelitian ini dikutip dari Tech Times, Jumat (05/01/2018).
(Baca: Ternyata 8 Senjata Api yang Dimusnahkan di Polres Aceh Utara Milik Anggota Din Minimi)
Para peneliti berpikir bahwa bonobos berperilaku seperti ini, bukan karena mereka menghargai perilaku buruk tapi karena mereka menganggap karakter tersebut dominan.
Dilansir dari The Verge, Minggu (07/01/2018), para peneliti menyebut bahwa bagi bonobo, perilaku agresif ini bisa menjadi pertanda status.
Mereka menyebut, tentunya selalu berguna untuk memiliki teman dengan status yang tinggi.
Ini juga beraku untuk manusia.
Hanya saja, status tinggi pada manusia lebih dikaitkan dengan menjadi orang baik.
"Bagi mereka, dominasi sangat penting," kata Krupenye, yang berasal dari University of St Andrews, Skotlandia.
"Kami berpikir bahwa mereka melihat penghalang sebagai individu dominan karena individu menghalangi tujuan orang lain," sambungnya. (The Verge,LA Times,Tech Times)