Kera yang Satu Ini Beda dengan Manusia, Dia Suka Mengganggu dan Berteman dengan Pembuat Onar

Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Current Biology pada 4 Januari 2018 tersebut cukup mengejutkan.

Editor: Faisal Zamzami
Kompas.com
Bonobo, kera kerabat simpanse 

SERAMBINEWS.COM - Kera sering dianggap sebagai salah satu kerabat dekat manusia.

Namun ternyata dalam sebuah penelitian terbaru, mengungkapkan bahwa kera bonobo memiliki kecenderungan untuk menjadi penganggu, berkebalikan dengan manusia yang lebih cenderung menjadi orang baik.

Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Current Biology pada 4 Januari 2018 tersebut cukup mengejutkan.

Pasalnya, dalam penelitian sebelumnya, bonobo ditandai sebagai kerabat manusia yang suka mebantu, tidak seperti simpanse yang lebih agresif.

Selain itu, temuan tersebut juga menunjukkan bahwa bonobo selalu ingin mempunyai sekutu yang kuat, yaitu para penganggu atau pembuat onar.

Hal ini mungkin lebih unik dari yang kita duga.

(Baca: Menteri Susi: Pihak Yang Keberatan dengan Penenggelaman Kapal, Silakan Usul Langsung ke Presiden)

(Baca: Teuku Riefky Serahkan SK Beasiswa PIP untuk Siswa Abdya)

"Sebagai kera non-manusia yang dengan toleransi sosial paling tinggi, bonobo (Pan paniscus) menujukkan tes filogenetik yang kuat apakah sifat ini diturunan pada manusia," tulis temuan tersebut dikutip dari Los Angeles Times, Kamis (04/01/2018).

"Bonobo lebih toleran daripada simpanse, dapat secara fleksibel mendapatkan makanan melalui kerja sama, dan secara sukarela berbagai makanan di penangkaran dana alam liar, bahkan dengan orang asing. Arsitektur saraf mereka menunjukkan karakteristik yang terkait dengan kepekaan yang lebih besar terhadap orang lain," sambungnya.

(Baca: Soal Makam Kuno di Belantara Aceh Besar, Boleh Jadi Pusara Pendiri Kesultanan Aceh Darusalam)

Lalu, apakah bonobo menghargai perilaku saling membantu seperti pada manusia?

Untuk penelitian ini, para peneliti menunjukka 24 sandiwara kecil pada bonobos.

Salah satunya video kartun tentang mencoba mendaki bukit.

Video lainnya menunjukkan rekaman lempar ke atas dan bawah.

Dalam percobaan kedua, hewan tersebut menyaksikan sebuah drama komedi di mana seorang manusia menjatuhkan boneka binatang.

Selanjutnya dua orang masuk, sesorang berusaha merebut mainan, sedang yang lain mengembalikannya.

(Baca: Luhut dan Jusuf Kalla Minta Hentikan Penenggelaman Kapal, Begini Jawaban Tegas Menteri Susi)

(Baca: Tiga Kali Dipenjara belum Juga Kapok, Pedagang Ini Kembali Ditangkap dalam Kasus Sabu)

Setelah menunjukkan video-video tersebut, para peneliti menawarkan potongan apel yang tersembunyi di bawah berbagai karakter dalam video tersebut.

Pada kedua kasus di atas, para bonobo lebih suka "menerima" irisan apel dari (atau berteman dengan) karakter yang lebih agresif.

Pada percobaan terakhir, kera-kera ini melihat karakter kartun yang menyerahkan kursi ke tempat lain. Kemudian dilanjutkan dengan video lain yang menampilkan karakter kartun yang tidak mau menyerahkan kursi.

Bonobo sekali lagi memilih karakter yang kurang bermurah hati.

"Saat ini, kita dapat mengatakan bahwa kita melihat bonobo dan anak manusia menunjukkan kecenderungan yang berlawanan," kata Christopher Krupenye, peneliti penelitian ini dikutip dari Tech Times, Jumat (05/01/2018).

(Baca: Ternyata 8 Senjata Api yang Dimusnahkan di Polres Aceh Utara Milik Anggota Din Minimi)

Para peneliti berpikir bahwa bonobos berperilaku seperti ini, bukan karena mereka menghargai perilaku buruk tapi karena mereka menganggap karakter tersebut dominan.

Dilansir dari The Verge, Minggu (07/01/2018), para peneliti menyebut bahwa bagi bonobo, perilaku agresif ini bisa menjadi pertanda status.

Mereka menyebut, tentunya selalu berguna untuk memiliki teman dengan status yang tinggi.

Ini juga beraku untuk manusia.

Hanya saja, status tinggi pada manusia lebih dikaitkan dengan menjadi orang baik.

"Bagi mereka, dominasi sangat penting," kata Krupenye, yang berasal dari University of St Andrews, Skotlandia.

"Kami berpikir bahwa mereka melihat penghalang sebagai individu dominan karena individu menghalangi tujuan orang lain," sambungnya. (The Verge,LA Times,Tech Times)

Sumber: Kompas.com
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved