Kamis, 4 Juni 2026

Opini

Hijrah Kekinian

PERISTIWA hijrah Rasulullah saw dalam tradisi Islam merupakan sebuah sejarah yang sangat monumental

Tayang:
Editor: bakri

Kesadaran barau
Pada hakikatnya, hijrah tidak sekadar perpindahan fisik, tetapi lebih dari pada itu hijrah secara mental dan spiritual untuk memperoleh kesadaran baru bagi peningkatan martabatnya sebagai umat manusia. Penekanan hijrah insaniah terkait dengan perbaikan hakikat hidup manusia agar dapat menjadi lebih baik dalam memaknai hidup itu sendiri.

Ini dapat disimpulkan dari pengorbanan ‘Ali bin Abi Thalib ketika menggantikan Rasul dipembaringannya untuk mengelabui kaum musyrik, yang pada hakikatnya adalah mempertaruhkan hidupnya. Ini menjelaskan bahwa hidup bukan sekadar menarik dan menghembuskan nafas. Tetapi hidup adalah kesinambungan dunia dan akhirat dalam keadaan bahagia. Karena itu, tidak ada arti hidup seseorang jika tidak menyadari bahwa ia mempunyai kewajiban yang lebih besar dan yang melebihi hari ini.

Pada konteks yang lebih luas, hijrah dapat dimaknai sebagai hijrah tsaqafiyyah atau hijrah dari kebudayaan jahiliyah menuju kebudayaan madaniyah, yaitu transformasi budaya terkait peningkatan peradaban manusia dengan ilmu dan teknologi. Nilai hijrah secara transformatif kebudayaan pada dasarnya ditujukan untuk mengambalikan keutuhan moral dan martabat kemanusiaan secara universal (rahmatan lil ‘alamiin).

Dalam pergaulannya, Rasul saw menghargai dan memperlakukan semua orang secara sama tanpa perbedaan, termasuk di dalamnya adalah kebersamaan, gotong royong dan kesetia kawanan. Tak dapat dipungkiri bahwa dalam perjalanannya, akhlak dan kepribadian manusia tidak terlepas dari degradasi dan pergeseran nilai. Maka momen hijrah ini sangat tepat untuk mengoreksi akhlak dan kepribadian sejalan dengan misi kenabian Muhammad saw, “Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Bukhari).

Sebagai transformasi keagamaan, hijrah Rasul juga menjadi hijrah Islamiyah yang terkait dengan membumikan nilai-nilai Islami kepada manusia dan kesehariannya. Artinya, peralihan diri menuju kepasrahan total kepada Allah Swt. Transformasi keagamaan dalam konteks hijrah ini, dapat dikatakan sebagai pilar utama keberhasilan dakwah Rasul Saw. Ketika Rasul menjadikan Madinah negeri yang tentram dan damai walaupun dihuni oleh masyarakat yang heterogen (Muhajirin dan Anshar) menganut agama Islam, Yahudi, dan Nasrani. Ini menunjukkan manifestasi dari nilai-nilai islami yang mampu mewujudkan masyarakat tentram, adil dan makmur.

Relasi kuat antara hijrah dan transformasi spiritual ini menjadi ibrah bagi umat Islam untuk melakukan hijrah rohani dengan meninggalkan semua sifat-sifat negatif dan egoisme pribadi menuju ke arah perbaikan diri serta senantiasa berpikir, bertindak dan berbuat positif demi kepentingan bangsa, negara serta agama, agar umat Islam kembali memperoleh kejayaan demi tegaknya kalimat Allah. Perintah hijrah harus tetap dilakukan, meski maknanya tidak harus bersifat tempat atau fisik. Karena ini mencerminkan bahwa kehidupan ini berproses dan prosesnya harus menuju yang lebih baik.

Dalam konteks kekinian, penting hijrah jiwa, pikiran, dan moral di segala lini kehidupan, sehingga menjadi awal dari kebangkitan dan kesuksesan. Pemikiran negatif dan pesimis menyebabkan energi di dalam tubuh tidak dapat berfungsi secara optimal. Sebaliknya, pemikiran yang positif menjadikan energi terpusat pada harapan, cita-cita yang mulia sehingga memunculkan motivasi yang luar biasa untuk menggapai peradaban dan kehidupan yang lebih baik. Semoga!

* Dr. Marhamah, M.Kom.I., Dosen Komunikasi Islam/Ketua Jurusan Bimbingan Konseling Islam (BKI) IAIN Lhokseumawe. Email: marhamahrusdy@gmail.com

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved