Kupi Beungoh

Mengenang Prof Safwan Idris, Sang Idola Rakyat Aceh

Penembakan dan pembunuhan terhadap Prof. Safwan Idris yang saat itu menjabat sebagai Rektor di IAIN Ar-Raniry sangat mengejutkan.

Mengenang Prof Safwan Idris, Sang Idola Rakyat Aceh
Sumberpost.com
Almarhum Prof Dr Safwan Idris 

Apalagi tak pernah diketahui latar belakang dan motif hingga pelaku tega merenggut nyawa sang ulama, bahkan hingga saat ini.

Prof Safwan bukan lawan politik siapapun, pula diketahui tidak memiliki permusuhan dengan siapa pun juga. 

ALIANSI alumni dan mahasiswa syariah (Amarah) UIN Ar-Raniry melakukan aksi di Simpang Lima Banda Aceh, Selasa (16/9/2016). Mereka menuntut polisi mengusut kasus pembunuhan terhadap Prof Dr H Safwan Idris MA, mantan rektor universitas itu pada 16 September 2000 lalu. SERAMBI/SUBUR DANI
ALIANSI alumni dan mahasiswa syariah (Amarah) UIN Ar-Raniry melakukan aksi di Simpang Lima Banda Aceh, Selasa (16/9/2016). Mereka menuntut polisi mengusut kasus pembunuhan terhadap Prof Dr H Safwan Idris MA, mantan rektor universitas itu pada 16 September 2000 lalu. SERAMBI/SUBUR DANI ()

(Kenang Safwan Idris, FAH UIN Gelar Diskusi)

(Usut Pembunuhan Tokoh Aceh)

***

BEBERAPA bulan sebelum kejadian, saya yang ketika itu menjabat posisi Sekjend Solidaritas Mahasiswa untuk Rakyat (SMUR), menolak pernyataan Prof. Safwan yang menyeru mahasiswa untuk kembali ke kampus, ke Darussalam yang damai.

Kami di pergerakan mahasiswa kala itu, menilai seruan rektor dan tokoh berpengaruh ini berpotensi mereduksi kekuatan gerakan mahasiswa Aceh yang sedang bertumbuh dan berjuang menyelesaikan pelanggaran HAM dan mengakhiri konflik Aceh secara demokratik.

Tapi saya tidak selamanya berbeda pandangan dengan beliau, lebih sering berfikiran sama malah.

Jika banyak orang mengenal dan mengenang Prof. Safwan sebagai tokoh pendidikan, di mata saya, almarhum lebih dari itu.

Ia tokoh Aceh yang spesial, dengan kapasitas melampaui jabatan yang biasa diembannya dalam dunia pendidikan.

(Ajal Usai Shalat Magrib)

(SMUR bukan PRA)

Bagaimana tidak, putra asli Aceh Rayeuk kelahiran Siem ini merupakan sosok visioner dan berani.

Jauh-jauh hari, ia sudah menyatakan pandangannya bahwa persoalan (konflik) Aceh tidak akan selesai jika penyelasaiannya dilakukan dengan cara-cara represif dan pendekatan militeristik.

Ia turut mendukung gerakan reformasi ’98 oleh mahasiswa, sertu turut menuntut pencabutan DOM Aceh 1989-1998.

Halaman
1234
Editor: Zaenal
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved