Opini

‘Proxy War’ Ancaman Nyata Narkoba

MARAKNYA penyalahgunaan narkoba kian menghangtui banyak orang. Barang haram tersebut kian mudah diperoleh

‘Proxy War’ Ancaman Nyata Narkoba
Empat Tersangka kurir Narkoba Jaringan Internasional yang merupakan ABK Kapal MV Sunrise Glory, masing-masing Hsieh Lai Fu (52), Huang Chiang (40), Chencun Hang (39) dan Chen Chien (52) bersama barang bukti 1 Ton 29 Kg sabu(KOMPAS.COM/ HADI MAULANA) 

Berkaca dari hasil survei BNN di atas, maka sudah saatnya Aceh memperkuat upaya pencegahan dan pemberantasan penyalahgunaan narkoba. Apalagi sudah sejak lama Aceh menjadi salah satu pintu masuk peredaran narkoba di Indonesia. Kecuali itu, Aceh juga merupakan penghasil ladang ganja terbesar di Indonesia. Fenomena ini tentu sangat memiriskan, terlebih jika melihat yang menjadi korban penyalahgunaan narkoba sebagian besar merupakan kalangan generasi muda.

“Proxy war”
Menko Polhukam, Wiranto menyatakan, Indonesia sekarang masih darurat narkoba. Ia mengingatkan gelombang gempuran narkoba begitu masif dari segi jumlahnya. “Tiap hari 30 anak muda meninggal karena narkoba. Kalau sebulan ada 900 orang, berarti setara dengan tiga pesawat boing 737 yang jatuh dan semua penumpangnya tewas, ini jumlah yang besar sekali,” kata Wiranto (Liputan6.com, 12/7/2018).

Padahal isu generasi produktif untuk menuju Indonesia emas pada 2030 telah dicanangkan demi merajut bonus demografi. Namun menyahuti isu besar pembangunan manusia ini, bukan tidak mungkin hanya tinggal di atas kertas, jika perang melawan narkoba ini tidak berhasil dilakukan. Dampak dari kegagalan ini adalah Indonesia harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit untuk “merawat” generasi muda yang “terlajur” menjadi budak narkoba. Hasilnya, kita akan kehilangan sebuah generasi demi cita-cita yang mulia menuju Indonesia emas pada 2030. Bagaimana mau membangun generasi muda emas, jika mereka perperilaku malas, tidak produktif, dan bermental kriminal karena pengaruh narkoba?

Untuk melemahkaan sebuah negara, tidak harus selalu dengan menghancurkannya dengan pasukan atau senjata canggih, namun cukup merusaknya dengan perang tanpa bentuk (proxy war) sebagai senjata utama dalam melumpuhkannya. Sehingga dengan instrumen proxy war ini, lebih mudah dan murah, serta musuhnya pun tidak terlihat.

Melihat fenomena di atas, tentu bukan pekerjaan mudah dalam memberantas dan mencegah penyalahgunaan narkoba. Tidak cukup hanya pihak BNN dan kepolisian saja yang berperan, mengingat luasnya wilayah dan terbatasnya personil yang ada untuk mengawasi darat, laut, dan udara Indonesia dari ancaman bahaya narkoba.

Penyuluhan bahaya narkoba memang perlu, namun siapa jamin anak-anak kita yang hidup di era milenial ini bisa terbebas dari jerat narkoba, jika hati mereka mudah tersaruk di lubang euforia zaman now yang serba bebas ini? Satu upaya preventif yang mungkin bisa dilakukan adalah dengan memperkuat dan membentengi anak-anak dan keluarga kita dari pengaruh masif narkoba, yaitu dengan memperkuat fondasi agama di tengah keluarga.

Abd. Halim Mubary, S.Kom.I., staf pengajar Komunikasi dan Penyiaran Islam pada IAI Al-Aziziyah Samalanga, dan penghulu pada KUA Kecamatan Makmur, Bireuen. Email: halim_mubary@yahoo.com.

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved