Jumat, 24 April 2026

Kupi Beungoh

Membangun Dayah Model Aceh di Moro Filipina, Mungkinkah?

Dalam perjalanan darat di beberapa daerah Mindanao, tak ubahnya sepertinya zaman konflik RI - GAM (Gerakan Aceh Merdeka) tempo dulu.

Editor: Zaenal
SERAMBINEWS.COM/Hand Over
Tgk Muhammad Faisal, Pimpinan Dayah Darul Ihsan Abu Hasan Krueng Kalee, berfoto bersama pejuang Moro saat kunjungan ke Mindanao, beberapa hari lalu. 

Analisis

Setelah mereka mengamati Aceh berdamai dengan RI, kemudian berkunjung ke Aceh bulan Oktober 2018 lalu, juga setelah mendengar langsung dari kami tentang otonomi khusus, provinsi istimewa dalam bidang agama dan adat, seperti adanya lembaga MPU, Dinas Dayah, Majlis Adat Aceh dan lain-lain, mereka berkeinginan akan membangun khusus lembaga pendidikan layaknya dayah di Aceh sebagai solusi penangkal generasi yang jauh dari ajaran radikalisme dan terorisme.

Dengan pertimbangan amatan dan analisis mendalam, kami menyimpulkan setidaknya ada empat hal penting dan mesti menjadi perhatian pada muslim Bangsamoro ini.

Pertama, Bangsamoro terkena imbas Arab Spring dan konflik jazirah Arab.

Hal ini terlihat sudah ada benih-benih perselisahan dari dalam berbagai faksi, berupa konflik sektrarian pada teologis dan ideologis perjuangan.

Kedua, Perlunya narasi Islam alternatif bagi Bangsamoro, khususnya kalangan muda yang menghendaki perdamaian pada Bangsamoro.

Baca: Jalankan Reintegrasi, Mantan Pejuang Moro akan Tiru Pola Pertanian Dinamis Lamteuba

Sebagai bentuk keseriusan menyelesaikan konflik Bangsamoro, dalam beberapa forum, saya merekomendasikan program yang bisa ditindaklanjuti dalam kerja sama dengan Aceh atau Indonesia.

Pertama, Menyelenggarakan pertemuan dan diskusi di tingkat terendah, seperti di masjid, markaz, ma’had, dan madaris yang menyentuh masyarakat akar rumput.

Kedua, menggandeng sebanyak mungkin ulama muda untuk mengembangkan dialog keagamaan yang toleran sebagai jalan membangun narasi alternatif.

Ketiga, mendirikan pesantren atau dayah (islamic boarding school) berdasarkan teologi ahlus sunnah wal jamaah al-asy’ariyah seperti di Indonesia, sebagai ruang menyiapkan generasi baru yang berkarakter tawassuth, tawazun, i'tidal, dan tasamuh sebagaimana pendidilkan kita di Indonesia.

Keempat, menyusun kurikulum berdasarkan kurikulum pesantren di Indonesia, yang disesuaikan dengan kearifan lokal, berdasarkan masukan dan kebutuhan kaum muslim Mindanao.

Kelima, mengirim tenaga pengajar untuk mengikuti training di pesantren atau dayah di Indonesia.

Keenam, mendatangkan guru dari pesantren Indonesia untuk membantu sistem pengajaran di Mindanao.

Tujuh, mengirim para santri atau pelajar dari Mindanao ke pesantren atau dayah di Indonesia.

Kedelapan, membuat program pertukaran pelajar antara pelajar Islam Mindanao dan Indonesia.

Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved