Senin, 20 April 2026

Kupi Beungoh

Membangun Dayah Model Aceh di Moro Filipina, Mungkinkah?

Dalam perjalanan darat di beberapa daerah Mindanao, tak ubahnya sepertinya zaman konflik RI - GAM (Gerakan Aceh Merdeka) tempo dulu.

Editor: Zaenal
SERAMBINEWS.COM/Hand Over
Tgk Muhammad Faisal, Pimpinan Dayah Darul Ihsan Abu Hasan Krueng Kalee, berfoto bersama pejuang Moro saat kunjungan ke Mindanao, beberapa hari lalu. 

Karena semua faksi-faksi masih bersenjata lengkap.

Belum ada pemotongan senjata sebagaimana yang pernah dilakukan di Aceh pascadamai.

Baca: Mirip Sejarah GAM di Aceh, Natalius Pigai Ungkap Awal Mula Berdirinya OPM di Papua

Jadi, perjalanan damai mereka tak semulus yang Allah SWT karuniakan kepada RI-GAM.

Para pejuang Bangsmoro terpecah ke beberapa faksi yang sudah berbeda dasar dan haluan perjuangan, mungkin tersebab inilah perdamaian sulit dicapai di sini.

Lebih kurang hampir sama dengan OPM (Organisasi Papua Merdeka) di bawahnya ada beberapa faksi dan kesukuan.

Perdamaian yang disepakati Bangsamoro - Filipina pun masih sangat rapuh, karena semua kelompok masih memiliki senjata dan ada struktur pemerintahan dalam pemerintahan.

Sekarang, muslim Bangsamoro sedang mencari format terbaik dalam segala hal untuk menyongsong referendum pada tahun 2019 mendatang.

Baca: UU Otonomi Bangsamoro Diteken, Presiden Filipina Tawarkan Perdamaian kepada Kelompok Abu Sayyaf

“Alhamdulillah'ala kulli haal,” sebagai ibrah, kita sepatutnya bersyukur atas rahmat Allah SWT, Aceh  sampai saat ini perdamaiannya masih terwat dengan rapi, bahkan sekarang, perdamain Aceh, sudah menjadi pilot project penyelesaian konflik separatisme di Asia dan dunia.

Baca: Turki Sambut Baik Undang-undang Otonomi Bagi Muslim Moro Filipina

Tim kami

Kami diundang dari berbagai unsur. Penulis, Muhammad Faisal dari Dayah Aceh dan UIN Ar-Raniry, Nur Rosyid Murtadho, Koordinator FNKSDA (Front Nahdliyyin untuk Kedaulatan Sumber Daya Alam), Fuad Faizi dari UIN Cirebon, Muhammad Husein, senior ulama NU dan dua anggota UNDP.

Dari amatan saya, pemerintah Filipina fokus membina kelompok MILF yang sudah berdamai dengan pemerintah untuk melakukan semacam "asimilasi" agar tidak terkontaminasi dengan berbagai bentuk ancaman perdamaian yang disepakati dengan susah payah.

Di antaranya, pada pendidikan agama Islam yang sebenarnya jauh dari radikalisme dan terorisme.

Karena memang domain saya, dalam berbagai kesempatan saya persentasikan model kurikulum sebagaimana yang sudah ada pada Dinas Pendidikan Dayah (DPD) Aceh yang jauh dari radikalisme dan terorisme.

Baca: Milisi Muslim Moro Pelajari Damai Aceh

Baca: Akademisi dan Peneliti Aceh Bahani Bangsamoro soal HAM

Di antaranya, di hotel Royal Mandel, Davao City, Pulau Mindanao, Pilipina, di Red Planet Cagayan De Oro, dan di Cotabato City.

Acara yang dilaksanakan oleh UNDP dan Al Qalam serta didukung penuh oleh otoritas Filipina, saya dituntut layaknya ulama dan tokoh pendidikan di Aceh.

Padahal sudah saya sampaikan, saya bukanlah ulama, di Aceh masih banyak ulama besar yang mumpuni menyelesaikan konflik, berdamai, dan mengisinya dengan pendidikan untuk generasi muda Islam.

Pimpinan Dayah Darul Ihsan Abu Hasan Krueng Kalee, Tgk Muhammad Faisal, bersama delegasi dari Aceh, berfoto bersama pengurus Moro Islamic Liberation Front (MILF), dan perwakilan UNDP, di Mindanao Filipina, November 2018.
Pimpinan Dayah Darul Ihsan Abu Hasan Krueng Kalee, Tgk Muhammad Faisal, bersama delegasi dari Aceh, berfoto bersama pengurus Moro Islamic Liberation Front (MILF), dan perwakilan UNDP, di Mindanao Filipina, November 2018. (SERAMBINEWS.COM/Hand Over)
Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved