Opini
Islam, Jenggot, dan Kumis
SUATU ketika di Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir, pernah diadakan semacam kontes atau perlombaan; bagi mahasiswa yang jenggotnya panjang
Jenggot dan kumis keduanya memberikan perlambangan bagi seorang laki-laki. Bila laki-laki tidak berjenggot dan berkumis terkadang disebut banci. Namun antara jenggot dan kumis, dalam Islam mana yang harus lebih diutamakan; apakah kumisnya atau jenggotnya yang harus dipelihara?
Dua hadis di atas mengimformasikan, bahwa memelihara jenggot lebih diutamakan dalam Islam dari pada memelihara kumis. Hal ini juga ditegaskan dalam hadis riwayat Imam Ahmad, Turmizi dan Nasai. Rasulullah bersabda, “Barang siapa tidak menggunting kumisnya, maka dia bukanlah dari golongan kami.”
Untuk mengetahui kenapa kaum laki-laki dalam Islam disuruh memelihara jenggot dan menggunting kumis. Jawabannya, karena ada hadis dari riwayat Abu Hurairah ra yang menyebutkan Rasulullah bersabda, “Bahwa di antara fitrah Islam adalah mengguntingkan kumis dan memanjangkan jenggot, karena sesungguhnya orang-orang Majusi memanjangkan kumis mereka dan mencukur jenggotnya. Maka berbedalah kalian dari mereka dengan cara mengguting kumis dan memanjangkan jenggotmu.”
Menurut hadis ini kalau ditafsirkan, maka jawaban yang kita temukan mengapa Islam lebih mengutamakan jenggot dari pada kumis adalah untuk membedakan umat Islam dengan orang-orang yang beragama Majusi. Karena ada hadis yang menyatakan, “Siapa yang menyerupai suatu kaum, maka akan dianggap sebagai kaum itu.”
Islam itu indah
Lalu apakah orang yang memelihara kumis dan mencukur jenggot ini ikut berdosa? Saya tidak cukup ilmu untuk memberikan jawaban atas pertanyaan ini. Yang saya tahu, Islam adalah agama yang paling indah. Seperti dikatakan Rusulullah saw, “Sesungguhnya Allah itu indah, dan sangat menyukai pada keindahan.” (Hadis). Jadi, sejauh kumis itu terurus dan terawat rapi hingga terkesan indah dan bersih, tidak menjijikkan, saya kira tak ada persoalan.
Memang ada kisah yang menyebutkan, suatu ketika dua orang utusan Raja Kisra datang menghadap Rasulullah dengan kumis mereka yang tebal panjang, sedang jenggotnya telah dicukur bersih. Nabi bertanya: “Siapa yang menyuruh kalian berbuat seperti itu?” (maksud Nabi mengapa mereka mencukur jenggotnya sampai habis). Kedua utusan Raja Kisra menjawab: “Tuhan kami Raja Kisra memerintahkan kami seperti ini”. Lalu Rasulullah bersabda: “Tetapi Tuhanku memerintahkanku agar menumbuhkan jenggot dan mengguntingkan kumisku,” kata Nabi.
Hadis ini mengindikasikan bahwa dalam Islam juga tidak ada larangan memakai kumis, sejauh kumis itu selalu digunting rapi agar terlihat indah. Hal ini juga didukung oleh pendapat para ulama yang menyatakan bahwa apa saja yang penjang melebihi genggaman tangan hendaknya harus dipotong. Panjang yang dimaksudkan di sini adalah bulu yang tumbuh pada bagian anggota tubuh, terutama jenggot yang batas guntingannya bila sudah melebihi genggaman tangan.
Dari dialog Rasulullah dengan dua utusan Raja Kisra itu, kita ketahui bahwa Rasulullah sendiri menumbuhkan jenggotnya dan menggunting kumisnya. Malah bekas jenggot Rasulullah sampai saat ini masih dapat dilihat di Museum Topkapi Istanbul Turki, sebagai Museum terlengkap di dunia dalam menyimpan berbagai atribut sejarah peninggalan Islam, termasuk atribut peninggalan Rasulullah saw; mulai dari pedang bersarung emas dan permata yang pernah dipakai Nabi, sampai jenggot dan gigi Nabi masih tersimpan utuh di sebuah ruangan khusus dalam Museum Topkapi Istanbul, Turki. Nah!
Nab Bahany As, budayawan, tinggal di Banda Aceh. Email: nabbahanyas@yahoo.co.id
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/ilustrasi-mengaji_20160702_232157.jpg)