Kupi Beungoh
Mengenal Sosok Habib Abdurrahman Al-Zahir
Belanda didukung oleh persenjataan dan pasukan yang memadai, sedangkan Aceh pada awal lima tahun pertama mengalami kekurangan pasukan dan senjata
Oleh Sayed Murtadha Al-Aydrus MSc*
“Beliau menceritakan bahwa neneknya, Syarifah Maryam, yang merupakan putri dari Habib Abdurrahman bin Muhammad Al-Masyhur, harus berjualan secara kecil-kecilan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan selalu dalam pengawasan Belanda. Melihat kondisi ini, penulis berkeyakinan bahwa pemberian uang tersebut hanya sebuah propaganda Belanda untuk merusak karakternya di mata masyarakat Aceh.”
Habib Abdurrahman bin Muhammad Al-Masyhur atau di Aceh lebih terkenal dengan sebutan Habib Abdurrahman Al-Zahir, dilahirkan pada tahun 1832 di Tarim, Hadramaut. Sebagaimana tradisi kaum Ba'alawi, mereka mengantarkan anak-anaknya untuk belajar pendidikan agama di Kota Tarim dan juga ke berbagai wilayah lainnya.
Hal ini juga diterapkan oleh orang tua Habib dengan mengantarkan dia ke berbagai pusat pendidikan baik di Yaman, Mesir, dan India. Sehingga tidak mengherankan apabila pemahaman Habib tentang dunia Islam dari berbagai perspektif sangat baik. Beliau juga dibekali dengan ilmu dagang oleh ayahnya dengan mengantarnya berkeliling Eropa.
Baca: Banjir Terjang Tol Madiun Jawa Timur, Jalan Jadi Kolam, Ini Videonya
Dalam hal agama dan politik, salah satu guru beliau adalah Habib Fadil bin Alwi bin Muhammad Sahil Maula Dawilah. Guru beliau adalah salah satu tokoh ulama masyhur di Turki yang berasal dari Malabar, India. Sayid Fadil bin Alwi Shahil Maula Dawilah merupakan tokoh yang antiterhadap penjajahan Inggris di India yang kemudian dideportasi ke Timur Tengah, karena penentangan terhadap kolonialisme Inggris di India.
Beliau pernah menduduki berbagai jabatan di masa kesultanan Turki Usmani, di antaranya pernah menjadi Amir di Zufar, anggota kabinet dan penasihat Sultan Abdul Hamid II. Ada kemungkinan, Habib Abdurrahman bin Muhammad Al-Masyhur melakukan pendekatan untuk menjadikan Aceh sebagai Vassal di bawah kesultanan Turki melalui gurunya Sayid Fadil bin Alwi Sahil Maula Dawilah. Tetapi sayang pada saat itu Turki sudah tidak memiliki kekuatan, malah sudah mendapatkan julukan "The Sick Old Man of Europe." Ini berbeda saat jaya-jayanya di bawah Sultan Sulaiman Al-Qanuni.
Selain jasa dan peran di atas, Habib Abdurrahman bin Muhammad Al-Masyhur juga berjasa dalam melakukan rehab terhadap Masjid Baiturrahman, mempersatukan para Ulee Balang di bawah kekuasaan Sultan Ibrahim Mansur Shah yang sudah terpecah-pecah pada saat itu dan juga mendamaikan perselisihan sultan dengan anaknya dan juru runding sultan untuk menemui Belanda di Riau.
Baca: Kebakaran Hutan Riau Capai 1.485 Hektar Sejak Januari Hingga Maret 2019, Pemadaman Masih Dilakukan
Begitu besar perhatian Habib terhadap Aceh sampai perang Aceh sudah berkecamuk dengan Belanda, beliau masih berusaha masuk kembali berjuang bersama-sama rakyat Aceh. Di satu sisi bisa saja beliau tidak kembali ke Aceh apabila beliau bersifat opportunis, sebagaimana yang disering didengungkan. Beliau justru berjuang bersama rakyat Aceh sampai memutuskan menghentikan perjuangannya dan kembali ke kampung halamannya pada tahun 1878 M. Sikap beliau tersebut tentunya didukung dengan alasan-alasan yang kuat.
Pertama, beberapa Ulee balang membuat konsesus dengan Belanda. Periode ini terjadi pada ekspedisi Belanda yang kedua, dimana terdapat beberapa Ulee balang yang melakukan konsesus dengan Belanda di antaranya adalah Teuku Nek Meuraksa. Dengan konsesus ini, para Ulee Balang mempunyai akses dan mendapatkan tunjangan dari Belanda, dimana hal ini berlangsung sampai tahun 1942 M.
Sebab, inilah yang di kemudian hari menimbulkan friksi tajam antara Ulee Balang yang telah memposisikan diri sebagai perwakilan kolonial Belanda dengan rakyat Aceh. Pada tahun 1878 M, ketika Habib Abdurrahman bin Muhammad Al-Masyhur sebagai orang asing menghentikan perlawanannya terhadap Belanda, telah melihat banyak para petinggi Aceh yang tunduk kepada lawan atau disebut juga bertaslim. Sehingga tidak mengherankan apabila tampuk kepemimpinan perlawanan beralih kepada para ulama setelah periode ini, di antaranya Habib Teupin Wan (Sayid Abdurrahman bin Hasan Asseqaf) dan Tengku Chik Di Tiro.
Kedua, kekuatan yang tidak berimbang. Para sejarawan cenderung untuk menilai bahwa para imprealisme barat sedang naik daun pada abad ke-19 M. Hal ini dapat dilihat dari penguasaan secara geopolitik dan ekonomi, dimana para imprealisme barat sudah menanamkan sistem politik ekonomi liberal baik di Asia maupun Afrika.
Pada abad yang sama di Eropa sudah berjalan revolusi industri termasuk dalam bidang kemiliteran. Sehingga dalam perang ini, Belanda didukung oleh persenjataan dan pasukan yang memadai, sedangkan Aceh pada awal lima tahun pertama mengalami kekurangan pasukan dan senjata. Kalau pun ada senjata yang dimasukkan ke Aceh, itu harus diselundupkan karena penguasan selat Malaka oleh Belanda dan Inggris. Hal ini juga yang menyebabkan Habib Abdurrahman bin Muhammad Al-Masyhur sebagai orang asing menghentikan perjuanganya, karena melihat kekuatan yang tidak berimbang.
Ketiga, pengrusakan yang massif oleh Belanda. Pada ekspedisi Belanda yang kedua yang dipimpin oleh Van Swieten berhasil merebut dalam (Istana Sultan) dan menghancurkan Masjid Raya Baiturrahman. Belanda tidak hanya merusak istana dan masjid, mereka juga merusak sebagian besar makam-makam tokoh-tokoh yang terdahulu, membakar rumah dan menganiaya perempuan dan anak-anak. Hal ini juga berdasarkan surat Sultan Muhammad Daud Shah yang menulis pengrusakan yang dilakukan oleh Belanda terhadap makam-makam sultan dan pembesar Aceh lainnya.
Hal ini juga yang menyebabkan Habib Abdurrahman bin Muhammad Al-Masyhur menghentikan perlawanannya terhadap Belanda untuk menyelamatkan jiwa, makam-makam dan masjid dari kebrutalan pihak Belanda. Walaupun sebagian berpendapat bahwa perjuangan itu butuh pengorbanan, tetapi perhitungan yang matang juga dibutuhkan dalam politik untuk menjaga aset-aset dan keberlangsungan hidup.
Baca: Begini Kronologi Kontak Senjata Hingga 3 Tentara Gugur di Papua, Penyerang TNI Sekitar 70 Orang
Tiga faktor tersebutlah yang menyebabkan Habib menghentikan perjuangannya, dimana beliau memutuskan untuk berhenti melalui jalan musyarawah, dimana pada saat itu sebagian besar setuju dengan usulan Habib untuk menghentikan perlawanan dengan faktor-faktor di atas.
Dalam catatan Jacobus Diderik Jan van der Hegge Spies (Kapten Kapal Curracao) yang membawa Habib ke Jeddah dari tanggal 24 November 1878 M sampai Januari 1879 M (catatan ini kemudian diterjemahkan oleh Anthony Reid) disebutkan:
"……Sekali Masjid Montasiek jatuh ke tangan Belanda, ia sekali lagi mengadakan pertemuan dengan panglima perang. Waktu itu ia dengan terus terang mengatakan pada mereka, bahwa ia tidak melihat harapan lagi dan bahwa adalah bijaksana untuk menghentikan perlawanan bersama-sama dia. Mengenai dirinya, ia ingin agar dibebaskan dari tugasnya yang dipercayakan padanya, karena akan meninggalkan mereka dan kembali ke Jeddah. Dari dua belas panglima yang hadir dalam pertemuan ini, tujuh orang dari mereka condong untuk menyerahkan diri, sedang lima orang tetap hendak meneruskan perang."
Apabila kita melihat catatan di atas, dapat kita pahami bahwa di sana Habib mengundurkan diri dari tanggung jawab yang diberikan kepadanya dan beliau khawatir akan menimbulkan kerugian yang lebih besar baik secara moril dan materil apabila perlawanan terus dilakukan. Di satu sisi, beliau juga bermusyawarah dengan para pemimpin Aceh lain atas pandangannya itu.
Artinya, beliau melakukan ini tidak secara diam-diam atau tanpa sepengetahuan pemimpin Aceh lainnya (dimana ada 7 pemimpin yang setuju dengan pandangan beliau). Sedangkan masalah "hadiah" yang diberikan oleh Belanda sebesar 10.000 gulden/ $ 1.000 tersebut perlu dilakukan investigasi tentang kebenaran informasi ini.
Banyak yang diberi tunjangan oleh Belanda namun ada juga yang tidak diberikan. Tetapi, pemberian kepada Habib Abdurrahman bin Muhammad Al-Masyhur menjadi isu utama oleh sebagian kalangan di Aceh, walaupun belum ada bukti yang jelas tentang benar tidaknya beliau menerima tunjangan tersebut.
Menurut keterangan keturunan beliau, Syarifah Kahiriah binti Hasan Bafaqih, Habib Abdurrahman bin Muhammad Al-Masyhur tidak menerima sepeser pun uang dari pihak Belanda, bahkan ketika anak-anak beliau ingin bersilaturahmi ke Batavia menjumpai sanak keluarga, Belanda justru menangkapnya. Lebih lanjut, beliau menceritakan bahwa neneknya, Syarifah Maryam, yang merupakan putri dari Habib Abdurrahman bin Muhammad Al-Masyhur, harus berjualan secara kecil-kecilan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan selalu dalam pengawasan Belanda.
Baca: Bertemu Presiden Filipina, Mahathir Mohamad Ingatkan Duterte Hati-hati Terima Pinjaman Dari China
Melihat kondisi ini, penulis berkeyakinan bahwa pemberian uang tersebut hanya sebuah propaganda Belanda untuk merusak karakternya di mata masyarakat Aceh. Selama ini informasi hanya didapatkan dari pihak Belanda, tanpa kita berusaha melakukan cross check dengan pihak keluarga Habib Abdurrahman.
Kenapa Belanda ingin merusak karakter Habib Abdurrahman?
Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya adalah beliau dahulunya terlalu banyak menyusahkan dan merugikan pihak Belanda, baik sebelum maupun ketika masa peperangan. Kedua, pengaruh Habib masih ada di Aceh. Terakhir, untuk membuat masyarakat Aceh lupa terhadap jasa-jasa Habib baik sebelum dan sesudah perang. Karena pengaruh tokoh-tokoh Arab yang menyebar di seluruh nusantara menjadi fobia bagi pihak Belanda, karena pembelaan-pembelaan mereka terhadap umat Islam di Nusantara.
Ketika di Jeddah, Habib Abdurrahman bin Muhammad Al-Masyhur diangkat menjadi Syaikh as Sadat (syaikh para Sayyid) oleh Gubernur Turki pada tahun 1886 dan beliau di sana banyak mengajarkan ilmu-ilmu agama kepada para keluarga Sayid dan juga para pelajar yang berasal dari nusantara. Di antaranya kepada Habib Hasyem bin Umar Bafaqih Aidid, Habib Husein bin Umar Bafaqih, dan Tengku Ali Lampaseh (Montasik).
Ketika Habib berada di Tanah Hijaz, beliau tetap memberikan masukan tentang Aceh dengan pandangan-pandangan positif yang bertujuan untuk kedamaian Aceh. Tetapi sayang, banyak pandangan beliau yang dibelokkan oleh para sejarawan sehingga menimbulkan perspektif negatif tentang beliau. Hal inilah tentunya yang di inginkan oleh beberapa tokoh orientalis supaya kita kaum muslimin membeci tokoh dan ulama di kalangan kita.
*) Sayed Murtadha Al-Aydrus MSc adalah Ketua Asyraf Aceh
KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/surat-yang-dibawa-oleh-habib-abdurrahman-yang-ditujukan-kepada-sultan-turki.jpg)