Breaking News:

Sidang DOKA

Toke M dan Oknum Intelijen Berinisial S Rjs Disebut dalam Lingkaran Kasus Irwandi, Siapa Mereka?

Irwandi secara gamblang menuturkan ada peran oknum tertentu yang menyeretnya hingga menjadi pesakitan di kursi terdakwa di depan Majelis Hakim Pengadi

Penulis: Fikar W Eda | Editor: Ansari Hasyim
Wartakota/Henry Lopulalan
SIDANG LANJUTAN - Gubernur nonaktif Aceh Irwandi Yusuf sedang mendengarkan keterangan saksi dalam sidang lanjutan di pengadilan Tipikor, Jalan Bunggur Besar, Jakarta Pusat, Senin(11/2/2019). Terdakwa kasus suap DOKA 2018 dan kasus penerimaan gratifikasi pelaksanaan proyek pembangunan Dermaga Sabang dengan agenda sidang mendengarkan 30 orang saksi. (Warta Kota/Henry Lopulalan) 

Berikut bagian dari wawancara yang pernah dimuat di Serambinews.com pada 28 Maret 2019.

Dalam beberapa pernyataan Anda selama ini terkesan ada beberapa pihak yang punya andil dalam proses penangkapan Anda oleh KPK. Siapa saja mereka dan apa kira-kira alasannya?
Yang mau menang tender proyek Balohan, Sabang, pada akhir tahun 2017, tapi dia tak bisa menang juga karena, menurut Kepala BPKS, Ir Fauzi Husin, perusahaan tersebut tidak lengkap walau tawarannya terendah. Perusahaan itu dibawa oleh seorang pengusaha lokal terkenal bernama Toke M. Sedangkan yang kasak-kusuk di belakang Toke M adalah SRj, seorang oknum anggota intelijen yang sudah bertugas di Aceh sejak masa konflik.

Anda yakin?
Oknum ini bahkan diduga terlibat juga dalam kasus penembakan mobil Kepala Inspektorat Aceh, Syahrul Badruddin, menyangkut kepentingan toke tersebut juga. Tapi kasus tersebut entah kenapa dihentikan penyelidikannya.

Terus, kira-kira apa lagi yang dilakukan Mr SRj terhadap Anda?
Mr SRj ini dalam upaya memenangkan tender proyek Balohan untuk kepentingan Toke M banyak melakukan intimidasi lewat pesan-pesan WA dan melakukan beberapa kontra yang menyerang saya lewat media online tertentu. Kepala BPKS mengadu kepada saya tentang hal tersebut dan saya minta bukti adanya intimidasi dari oknum itu. Lalu saya mendapat bukti berupa capture pesan WA.

Saya melapor ke Waka BIN tentang intimidasi serta barang buktinya. Yang bersangkutan pun di-recall ke Jakarta. Lalu yang bersangkutan bersumpah untuk balas dendam. Bahkan dalam akun FB-nya dia menyebutkan kira-kira, ‘Kau usir aku dari Aceh, kau kutangkap.’

Kira-kira tiga minggu kemudian saya dipanggil menghadap Waka BIN. Pak Waka menyampaikan kepada saya bahwa SRj bilang Toke M itu pengusaha titipan seorang pimpinan suatu instansi penting.

Setelah Anda ditahan KPK, apakah Anda masih diusik?
Baru-baru ini SRj mengirim ancaman kepada saya via Sayuti MH (kuasa hukum Irwandi -red ). Bunyi ancamannya kira-kira begini: Tolong bilang sama Irwandi kesabaran saya hampir habis. Pada pertengahan tahun 2017 saya pergi ke Turki untuk melihat pameran persenjataan di Istanbul atas izin Kepala BAIS.

Terus, apa hubungannya dengan penangkapan Anda?
Pada Oktober 2017 saya kedatangan tamu, yaitu Wakil Perdana Menteri Turki. Beliau saya jamu sacara adat dan ada memori Lada Sicupak. Beberapa lama setelah itu saya difitnah ke pusat bahwa saya sedang mempersiapkan referendum kemerdekaan Aceh yang didukung oleh Turki

Sementara itu seperti diberitakan sebelumnya, mengomentari tuntutan Jaksa KPK terhadap terdakwa Irwandi Yusuf, Askhalani menyatakan bahwa Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) bukanlah lembaga yang mudah diintervensi atau diatur-atur oleh pihak mana pun dalam penegakan hukum di Indonesia.

Dalam kasus Irwandi Yusuf, GeRAK melihat, uraian konstruksi kasus yang telah disampaikan jaksa KPK dalam tuntutan 982 halaman itu cukup kuat dan telah membuktikan bahwa memang ada perbuatan melawan hukum.

Halaman
123
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved