Jurnalisme Warga

Tapaktuan, Kota Seribu Masjid

Malam Rabu lalu sekitar pukul 22.00 WIB, saya berangkat dari Banda Aceh menuju Tapaktuan dengan minibus

Tapaktuan, Kota Seribu Masjid
IST
TEUKU ZOPAN MUSTIKA

Terkait kebencanaan, setibanya di Tapaktuan saya baru percaya bahwa ketika gempa dan tsunami 2004 silam, jumlah korban tsunami di Tapaktuan tidak banyak. Betapa tidak? Sebelum naik air laut, tepatnya saat berhentinya gempa besar, sebagian besar masyarakat sudah naik ke perbukitan. Ada juga yang menyebutkan bahwa air laut naik saat tsunami tersebut tidak begitu tinggi.

Maklum, karena ini kali pertama menginjakkan kaki di Tapaktuan, rasa penasaran saya masih sangat tinggi. Jauh sebelum sampai di kota ini, saya banyak mendengar kata saudara sepupu saya yang ibunya orang Tapaktuan bahwa Tapktuan merupakan kota yang dingin. Tak disangka, saat saya tiba di kota ini, ternyata cuaca sedang panas-panasnya. Resepsionis hotel tempat saya menginap mengatakan bahwa hanya hari ini saja di sini sangat panas, sedangkan hari-hari sebelumnya tidak sepanas ini.

Hanya seharian saya bersama Bang Yudi berlalu lalang di jalanan Kota Naga. Dalam sehari itu kami sempat berfoto di jejak telapak kaki Tuan Tapa di pinggir laut yang fenomenal tersebut, lalu kami bergerak ke ruang terbuka hijau (RTH) di pusat kota, dan ‘mendaki’ ke BPBD.

Awalnya, rencana kami pergi ke BPBD di pagi hari. Namun, berhubung pagi itu pihak BPBD bersama tim pemadam kebakaran (damkar), Taruna Siaga Bencana (Tagana), Search and Rescue (SAR), dan lainnya sedang patroli (pawai) dalam rangka perayaan HUT Damkar Aceh Selatan, maka rapat inisiasi Forum PRB diagendakan pada sore harinya. Pagi itu, ketika masih sarapan di sebuah warung di kota, lewatlah konvoi pawai tersebut, tapi kami tidak sempat mengambil video karena jumlah mobil patrolinya tak begitu banyak.

Satu hal yang mengesankan saya dari Kota Tapaktuan ini yang mungkin nyaris luput dari perhatian orang banyak, yakni begitu banyaknya masjid dan meunasah yang dibangun berdekatan. Tidak seperti di Banda Aceh atau kota-kota lainnya di Aceh yang masjid-masjidnya agak berjarak. Kecuali di Beureunuen (Pidie) dan Kuala Bhee (Aceh Barat), ada dua masjid yang dibangun bersebelahan. Seumur hidup saya berkeliling Aceh, baru kali ini saya lihat banyak masjid yang berdekatan. Ya, di Tapaktuan ini. Melihat realitas yang demikian, kiranya tak salah kalau saya juluki Tapaktuan ini sebagai “Kota Seribu Masjid”.

Ada Masjid Agung Istiqamah di pusat Kota Tapaktuan yang berdiri dengan megahnya. Didominasi warna oranye, masjid ini sedikit mirip Masjid Agung di Meulaboh. Di sini tempat ditempanya para santri tahfiz penghafal Alquran. Kata Bang Yudi, di masjid ini setiap selesai shalat Magrib para santri yang berasrama di dekat masjid tersebut mulai “pasang kuda-kuda” untuk fokus menghafal ayat-ayat Quran dan menyetor hafalannya kepada ustaz dan ustazah. Minimal hafalan Juz ‘Amma (Juz 30). Pada kesempatan di malam itu, saya shalat Magrib dan Isya di masjid ini.

Tak jauh dari Masjid Agung Istiqamah, kira-kira tak sampai 500 meter, ada Masjid Tuo yang dindingnya terbuat dari kayu. Masjid ini merupakan masjid tua yang ada di Kota Tapaktuan.

Masjid merupakan simbol religiositas umat Islam di suatu wilayah. Di samping sebagai tempat ibadah, masjid juga merupakan pusat penghimpunan kekuatan umat di berbagai bidang. Dilihat dari banyaknya masjid yang dibangun berdekatan di kota ini, walaupun tidak selalu menjamin kualitas masjid itu sendiri, dan juga tidak menjamin banyaknya jamaah yang shalat di masjid itu, setidaknya hal itu menggambarkan nilai ketaatan masyarakat setempat yang tercermin dari tekad mereka dalam membangun masjid dan memakmurkan rumah Allah.

Harapan kita semua, tentu saja, masjid bukan hanya sekadar simbol ketaatan umat Islam dalam menjalankan kewajibannya, tetapi juga menjadi titik awal dalam menyusun strategi pembangunan di berbagai bidang, demi kesejahteraan masyarakat di masa yang akan datang.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved