Jurnalisme Warga
Sambai Oen Peugaga, Penganan Khas Bulan Puasa
SETIAP daerah di Indonesia memiliki beragam jenis penganan khas dan unik yang dapat dinikmati ketika berbuka puasa
Ia jawab, “Pada hari pertama hingga empat hari puasa, daunnya lengkap hingga 44. Tapi setelah itu tidak lagi. Karena tidak semua orang suka. Ada yang tidak suka dengan aroma atau rasanya. Sekarang kalau diracik sekitar 4-5 dedaunan saja.”
Karena penasaran, saya tanya lagi,”Mengapa sampai 44 dedaunan?” Ia lalu jelaskan,”Orang tua saya dulu juga ngomong 44 jumlah daun. Saya tidak tahu mengapa. Itu sudah dari sananya, dari warisan indatu.”
Ditambahkan lagi, “Allah memberi keistimewaan di bulan Ramadhan. Segala daun kayu yang kita makan tidak akan mabuk. Kalau kita makan di luar bulan puasa, bisa mabuk. Karena di antara 44 dedaunan ini, banyak yang tidak cocok. Ada daun yang kalau dicampur dengan daun yang lain, jika dimakan, maka orang akan mabuk. Tapi di bulan Ramadhan, kita tidak akan mabuk. Semua bisa dimakan. Daun yang berjumlah 44, diibaratkan kira-kira sebanyak itu dedaunan yang bisa dimakan manusia.”
Di samping itu ia katakan, “Dedaunan yang kita makan ini adalah daun-daun muda. Daun-daun ini akan bertasbih untuk orang yang memakannya. Kita akan dimuliakan.”
Apa yang dikatakan Ibu Salbiah saat ini telah menjadi fakta ilmiah bahwa tumbuhan juga bertasbih dan bersujud kepada Allah. Sebagaimana firman Allah dalam Alquran Surah Al-Isra ayat 44, “Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.”
Dalam sehari, sambai peugaga milik Ibu Salbiah laku 40 hingga 50 bungkus. Per bungkusnya dihargai Rp 5.000. Di balik kekhasan dan keunikannya, tentu ada simbol dan makna budaya yang perlu untuk dikaji lebih lanjut.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/teuku-cut-mahmud-aziz-sfil-ma-dosen-prodi-hubungan-internasional-fisip-universitas-almuslim.jpg)