Salam

Klarifikasi Mualem Bisa Menyejukkan

Ketua Umum Partai Aceh (PA) yang juga Ketua Komisi Peralihan Aceh (KPA), Muzakir Manaf alias Mualem

Klarifikasi Mualem Bisa Menyejukkan
DOK SERAMBINEWS.COM

Ketua Umum Partai Aceh (PA) yang juga Ketua Komisi Peralihan Aceh (KPA), Muzakir Manaf alias Mualem membuat klarifikasi tentang wacana referendum yang dilontarkannya dua pekan lalu. Wacana referendum itu sudah mengundang banyak tanggapan pro dan kontra sampai ke tingkat nasional dan ikut memanaskan iklim politik pascapemilu.

Mualem sangat menyadari dan mengakui pernyataannya tentang referendum kian lama semakin meninggikan suhu politik baik di Aceh maupun Jakarta. Makanya, mantan Panglima Gerakan Aceh Merdeka (GAM) itu membuat penjelasan melalui video yang beredar sejak Selasa (11/6) malam. “Bahwa pernyataan saya tentang referendum tidak mewakili rakyat Aceh. Saya lakukan hal tersebut secara spontan kebetulan pada event haul meninggalnya Teungku Hasan Muhammad Di Tiro,” kata Mualem dalam point pertama klarifikasinya.

Statemennya tentang referendum yang menghebohkan itu disampaikan secara spontan pada acara peringatan meninggalnya Hasan Tiro yang dirangkai dengan acara buka puasa bersama kader Partai Aceh dan undangan lainnya, pada Senin (27/5), di Banda Aceh. “Alhamdulillah, kita melihat saat ini, negara kita di Indonesia tak jelas soal keadilan dan demokrasi. Indonesia di ambang kehancuran dari sisi apa saja, itu sebabnya, maaf Pak Pangdam, ke depan Aceh kita minta referendum saja,” kata Mualem kala itu sebagaimana dikutip sejumlah media.

Ada empat point dalam pernyataan klarifikasi tersebut yang intinya Mualem menyadari rakyat Aceh saat ini cinta damai dan pro Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Ia berharap Aceh ke depan harus lebih maju, dengan membangun Provinsi Aceh dalam bingkai NKRI.

Mualem menyatakan juga, bila ada hal-hal lain yang belum sesuai MoU Helsinki, maka akan diusahakan untuk merealisasir semua butir-butir yang belum tuntas itu.

Sebetulnya, Mualem menyampaikan wacana referendum untuk mengingatkan Pemerintah Pusat agar segera menuntaskan butir-butir MoU Helsinki. Wacana referendum, kata Mualem, adalah barter agar Pusat tidak mengabaikan penjanjian dan kesepakatan dalam MoU Helsiniki antara Republik Indonesia dengan GAM.

Mualem menegaskan, jika ke depan banyak poin dalam MoU Helsinki tidak dituntaskan, maka “Ya mungkin bukan referendum lagi, mungkin total merdeka, Aceh minta merdeka, keluar saja dari NKRI.”

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan, Wiranto mengatakan wacana referendum yang dilontarkan Muzakir Manaf, tidak dapat digelar karena tidak ada dasar hukumnya. Semua peraturan yang mengatur tentang referendum sudah dicabut oleh pemerintah, misalnya Tap MPR Nomor 8 tahun 1988 atau Tap MPR nomor 4 tahun 1993 tentang Referendum. “Kemudian UU juga sudah dicabut, misalnya UU nomor 6 tahun 1999, itu mencabut UU nomor 5 tahun 1985 tentang referendum, itu dicabut. Jadi ruang untuk referendum dalam hukum positif di Indonesia sudah tidak ada. Jadi nggak relevan lagi, apalagi kalau kita hadapkan kepada international court yang mengatur tentang masalah ini, ini juga nggak relevan,” tambahnya.

Ketua DPR RI Bambang Soesatyo menolak secara tegas referendum yang diwacanakan Mualem. Alasannya, Indonesia merupakan negara kesatuan yang berdaulat dan NKRI adalah harga mati. “Saya mengimbau kepada TNI untuk mengantisipasi perkembangan isu referendum Aceh agar dapat memberikan rasa aman bagi masyarakat, dan tidak menimbulkan pergolakan politik daerah lainnya,” ujar Bambang Soesatyo.

Namun, karena niatnya ingin menuntut realisasi butir-butir MoU Helsinki, wacana referendum itu banyak mendapat dukungan dari kalangan eks kombatan GAM. Mereka mendukung wacana Mualem karena menganggap Pusat kurang serius dalam merealisasikan beberapa butir MoU antara Pemerintah RI dan GAM.

Satu hal yang paling penting kita catat, meski bersitegang, namun pihak yang pro dan kontra tetap menjunjung tinggi semangat untuk menjaga perdamaian Aceh agar tak terusik lagi dalam bingkai NKRI. Masyarakat harus beraktivitas secara tenang dan damai. Maka, mari kita bersyukur sambil berdoa agar Aceh akan terus aman, damai, serta Insya Allah makmur sejahtera.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved