Jurnalisme Warga
Rumoh Mirah Samalanga, Kejayaan yang Terbaikan
BILA kita memasuki Keude Samalanga, ibu kota kecamatan paling barat Kabupaten Bireuen, maka kita akan jumpai
Amatan saya, Kubu Teungku Delapan di ruas jalan nasional Banda Aceh-Medan tampak lebih terurus dan tertata dengan baik, bahkan arealnya lebih luas. Tanah dan masjidnya dipagari sehingga lebih indah. Di sini bahkan sering macet karena para pengguna jalan kerap berhenti mendadak untuk bersedekah di kotak amal yang disediakan di sisi badan jalan atau di samping kuburan tersebut.
Pemkab Bireuen hendaknya jangan terlalu larut dalam euforia setelah sukses mendapat opini dan penghargaan tata kelola keuangan yang baik dari BPK RI, yakni Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) tahun 2019 secara berturut-turut sejak tahun 2015.
Seyogianya raihan opini tersebut bukan hanya sekadar prestasi sesaat dari dari dinas terkait, sebab masih banyak persoalan kemasyarakatan yang perlu segera dibenahi. Salah satunya adalah apa yang saya sampaikan tadi, yakni terbengkalainya sejumlah situs cagar budaya dan sejarah tanpa ada upaya pelestarian yang serius dari pemkab setempat. Seharusnya, setiap situs budaya dan sejarah di Bireuen diinventarisasi dan dipublikasi. Kini, banyak kita jumpai saat berkunjung ke Samalangan objek-objek sejarah dan budaya yang tidak ada keterangan apa-apa. Misalnya, tentang Rumoh Mirah, Rumoh Krueng, makam Tun Sri Lanang, dan makam Pocut Ditanjong.
Mungkin kondisi yang sama akan kita jumpai di kecamatan lain di Bireuen yang menyimpan sejarah masa lalu, seperti di Kecamatan Jangka tentang sosok Teungku Habib Bugak yang mewakafkan tanahnya di Mekkah, Arab Saudi, sebagai tempat singgahan jamaah haji asal Aceh menunaikan ibadah haji pada musim haji ke tanah suci, yaitu Baitul Asyi (Rumah Aceh). Adakah usaha pelestarian situs-situs peninggalan beliau di Bugak, Kecamatan Jangka?
Seharusnya setiap kecamatan punya museum kecil, minimal satu pojok (corner) di Kantor Camat untuk menyimpan objek sejarah daerah atau peninggalan masa lalu. Pendeknya, perlu ada upaya penyelamatan terhadap objek sejarah seperti halnya Rumoh Mirah dan situs budaya lainnya, baik yang ada di Bireuen maupun di kabupaten/kota lainnya di Aceh. Mari menjadi pelopor pelestarian situs dan cagar budaya masa lalu di daerah kita masing-masing agar semakin banyak destinasi wisata yang layak dikunjungi wisatawan domestik dan mancanegara di Aceh.
Semoga reportase ini dapat membuka cakrawala berpikir kita dan menjadi saran bagi pemangku kepentingan di Bireuen khususnya dan Provinsi Aceh umumnya, sehingga aset, situs, cagar budaya, dan nilai sejarah dapat dipelihara dengan baik dan menjadi pelajaran berharga bagi generasi Aceh yang akan datang. Juga menjadi objek penelitian penting bagi peneliti yang ingin menggali sejarah Aceh di masa lampau. Mari!
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/teuku-rahmad-danil-cotseurani-pegawai-pdam-tirta-krueng.jpg)