Opini

Menyelamatkan Generasi Muda Islam

Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Provinsi Aceh sebagaimana dilansir Harian Serambi Indonesia

Menyelamatkan Generasi Muda Islam
IST
Teuku Zulkhairi, Dosen Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry, Banda Aceh

Oleh Teuku Zulkhairi, Dosen Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry, Banda Aceh

Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Provinsi Aceh sebagaimana dilansir Harian Serambi Indonesia, Rabu 19 Juni 2019, akhirnya mengeluarkan fatwa bahwa hukum bermain game Player Unknown’s Battle Grounds (PUBG) dan sejenisnya adalah haram.

Pengharaman tersebut dikarenakan game itu mengandung unsur kekerasan dan kebrutalan serta berpotensi memengaruhi perubahan perilaku penggunanya menjadi negatif. Tak hanya itu, menurut MPU, PUBG dan sejenisnya juga dinilai berpotensi menimbulkan perilaku agresif dan kecanduan pada level berbahaya.

Meski agak telat, tapi fatwa ini hadir dalam waktu yang cukup tepat dan dalam keadaan yang sangat kronis. Sebab, saat ini dimana-mana kita dapat menyaksikan keadaan generasi muda Islam di Aceh berada dalam situasi dan keadaan yang mencemaskan, dan mungkin juga terjadi di belahan dunia lainnya. Mereka begitu lalai dan larut dengan permaianan game-game mereka.

Keadaan generasi muda Islam yang lalai saja adalah situasi yang sangat tidak menguntungkan bagi masa depan Islam dan bangsa. Apalagi lalai dengan game yang mengandung unsur kekerasan dan berpotensi mempengaruhi penggunanya menjadi negatif.

Rasulullah Saw dalam hadis yang diriwayatkan Imam Malik pernah melarang sebuah permainan yang dianggap melalailan, yaitu permainan dadu (meja dadu). Rasul bersabda: “Siapa saja yang bermain dengan dadu, berarti dia telah bermaksiat kepada Allah Swt dan Rasul-Nya”. Menurut Syaikh Abdullah Nashih Ulwan, penulis buku “Tarbiyatul Aulad (Pendidikan Anak dalam Islam: 2013)”, pengharaman ini adalah karena permainan ini akan menghabiskan banyak waktu para pemainnya yang akan menyebabkan mereka mengabaikan berbagai kewajiban agama, pendidikan dan duniawi (hlm: 526). Jadi, motif (`illah) pengharaman ini adalah karena dapat menyebabkan “kelalaian”. Lalu bukankah game-game di andorid anak-anak kita itu juga menyebabkan kelalaian yang lebih parah?

Pada faktanya, saat ini kita menyaksikan begitu banyak generasi muda Islam yang berasal dari usia Sekolah Dasar (SD) dan bahkan hingga dewasa sangat sibuk dengan game-game di andorid mereka. Kalau kita perhatikan kegiatan yang mereka lakukan saat berkumpul dengan kawan-kawan seusianya, maka mereka umumnya sedang sibuk bermain game dengan andorid mereka. Begitu juga di cafe-cafe.

Begitu banyak yang lalai dengan permainan game-game. Jika generasi muda Islam berada dalam keadaan yang lalai, bagaimana kita bisa berharap mereka akan dapat memastikan kebaikan bagi masa depan agama dan bangsa? Malahan, besar kemungkinan mereka akan menjadi masalah besar bagi agama dan bangsa di kemudian hari.

Islam adalah agama yang begitu memperhatikan keadaan generasi muda. Allah Swt mengingatkan kita untuk waspada terhadap masa depan generasi muda Islam agar jangan sampai kita meninggalkan generasi muda kita dalam keadaan yang lemah (zurriatan dhi’afa). Allah berfirman dalam Alquran surat an-Nisa ayat 9: “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka.”

Ayat ini di satu sisi meminta kita agar takut jika meninggalkan generasi yang lemah (dalam berbagai bidang), dan di sisi lain merupakan penekanan kuat agar kita bekerja maksimal mendidik generasi muda agar menjadi generasi yang berguna bagi agama dan bangsa.

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved