Opini

Pendidikan Berasrama; Ancaman Homoseksual

Homoseksual (liwath, sodomi) merupakan perilaku orientasi seksual sesama jenis, baik sesama perempuan

Pendidikan Berasrama; Ancaman Homoseksual
IST
Adnan, Dosen IAIN Lhokseumawe dan Penulis buku ‘Parenting Qurani’

Oleh Adnan, Dosen IAIN Lhokseumawe dan Penulis buku ‘Parenting Qurani’

Homoseksual (liwath, sodomi) merupakan perilaku orientasi seksual sesama jenis, baik sesama perempuan (lesbian) maupun sesama lelaki (gay). Secara psikologis homoseksual dianggap sebagai perilaku disorientasi seksual, yakni penyimpangan seksual. Sebab fitrah manusia menyalurkan naluri seksual kepada lawan jenis (lelaki - perempuan) melalui jalur pernikahan (Qs. Ar-Rum: 21). Maka melampiaskan naluri seksual kepada sesama jenis berarti melawan fitrah manusia.

Hal ini menunjukkan pula bahwa homoseksual bukanlah bawaan sejak lahir (fitrah, genetik), tapi pengaruh faktor lain semisal pola asuh orang tua (parenting), pengalaman hidup dan lingkungan sosial. Sebab itu, pendidikan agama baik formal maupun informal didesain untuk mencegah terjadinya perilaku menyimpang ini.

Di sisi lain, pendidikan berasrama dianggap sebagai solusi untuk membentuk moral feeling dan moral behavior positif pada anak (santri), semisal mandiri, cekatan, terampil, mudah bergaul, religius, beradab, kreatif dan inovatif. Tapi, pada sisi lain pendidikan berasrama memiliki dampak negatif bagi anak, semisal mewabahnya perilaku homoseksual baik sesama santri maupun santri dengan guru pengasuh. Maka terungkapnya kasus pelecehan seksual (homoseksual) yang dilakukan oleh AL (45) dan MY (26) di Pesantren AN terhadap santri pria berumur 13-14 tahun (Serambi, 12/7/2019), merupakan bukti empiris ancaman mewabahnya perilaku homoseksual pada model pendidikan berasrama.

Padahal, Sigmund Freud (1939-1856) dalam teori Psikoanalisa, menyebutkan bahwa kepribadian seseorang dipengaruhi oleh faktor pengalaman masa lalu. Pengalaman masa lalu seseorang merupakan gambaran kepribadian seseorang di masa depan. Apabila pengalaman masa lalu positif, maka menjadi gambaran positif kepribadian seseorang di masa depan, sebaliknya.

Maka pengalaman masa lalu urgen dibina dengan baik dan bijak untuk melahirkan masa depan yang positif. Tapi, jika pengalaman masa lalu seseorang telah menjadi korban perilaku homoseksual, bukan mustahil akan menjadi pelaku di masa depan. Karena realitasnya perilaku menyimpang selalu dilakukan oleh individu yang pernah menjadi korban penyimpangan.

Semisal, pelaku bullying pernah menjadi korban bullying di masa lalu, pribadi temperamental disebabkan oleh pola asuh yang keliru pada masa kanak-kanak, pun pelaku homoseksual biasanya pernah mendapatkan kekerasan seksual yang serupa di masa lalu. Maka Freud menekankan pentingnya peran masa bayi, masa kanak-kanak dan pengalaman masa lalu dalam membentuk kepribadian/karakter seseorang.

Freud meyakini bahwa struktur dasar kepribadian seseorang sudah terbentuk pada usia 5 tahun, sedangkan perkembangan kepribadian sesudah usia 5 tahun sebagian besarnya hanyalah elaborasi dari struktur kepribadian pada usia 5 tahun. Maka usia 5 tahun dianggap sebagai usia keemasan (golden age) dalam membentuk pengalaman positif pada anak.

Sebab itu, model pendidikan berasrama semisal dayah/pesantren baik tradisional maupun modern, panti asuhan dan boording school terpadu, harus mendapatkan pengawasan ketat dan evaluasi berkala baik secara struktural, semisal Dinas Pendidikan Dayah dan Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) maupun kultural dari civil society, semisal orang tua santri, lembaga swadaya masyarakat (LSM), tokoh masyarakat dan media.

Faktor penyebab
Jika dianalisa secara komprehensif dan holistik ditemukan berbagai faktor penyebab terjadinya homoseksual pada model pendidikan berasrama, di antaranya yaitu: Pertama, tingginya intensitas pertemuan sesama jenis. Tidak dapat dipungkiri bahwa pada lembaga pendidikan berasrama, anak/santri memiliki intensitas pertemuan yang sangat tinggi sesama jenis, semisal di kamar, saat belajar mandiri, di ruang makan, di dalam kelas hingga antrian mandi.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved