Opini
Mengungkap Realitas Cendekiawan Muslim Aceh
Belum lekang dalam ingatan kita peristiwa "sabotase" pengajian Masjid di wilayah Banda Aceh beberapa waktu lalu yang sempat viral
Oleh Dr. Munawar. A. Djalil, MA, Pegiat Dakwah dan PNS di Lingkungan Pemerintah Aceh, Tinggal di Gampong Ateuk Jawoe, Banda Aceh
Belum lekang dalam ingatan kita peristiwa "sabotase" pengajian Masjid di wilayah Banda Aceh beberapa waktu lalu yang sempat viral di media sosial telah membuat resah banyak pihak. Setahu penulis kejadian-kejadian serupa agaknya kerap terjadi dalam lima tahun terakhir, malah tidak hanya sebatas "sabotase" pengajian melainkan juga upaya mengambil alih kepengurusan Masjid. Agar kejadian yang sama tidak kembali berulang, maka penulis mendorong Pemerintah Aceh mencari solusi dalam rangka mengurai keresahan masyarakat dengan menciptakan keharmonisan ibadah di Aceh.
Pada titik ini, Dinas Syariat Islam, Dinas Pendidikan Dayah, Biro Isra Setda Aceh dll, sejatinya berkoordinasi langsung untuk menyelesaikan berbagai permasalahan umat saat ini. Merujuk kepada Qanun Aceh Nomor 8 Tahun 2014 tentang Pokok-pokok Syariat Islam menjelaskan bahwa pemerintah memiliki kewajiban dan tanggung jawab untuk mewujudkan kondusivitas pelaksanaan ibadah di Aceh, seperti termaktub dalam Pasal 14 Ayat 8 Qanun tersebut "Pemerintahan Aceh dan Pemerintahan Kabupaten/Kota berkewajiban menyediakan fasilitas dan menciptakan kondisi serta suasana lingkungan yang kondusif untuk penyelenggaraan ibadah".
Karenanya instansi-instansi tersebut jangan "berpangku tangan" hanya jadi "penonton budiman" dengan membiarkan kondisi ini terus berlarut. Menurut penulis kejadian ini bukan hanya sebuah isu yang sepintas akan berlalu, namun sudah menjadi fenomena keagamaan yang sangat menganggu ketenteraman, keharmonian, dan dapat mencederai pelaksanaan syariat Islam di Aceh.
Hampir dapat dipastikan kalau kondisi ini dibiarkan tanpa penyelesaian secara komprehensif, maka bukan mustahil kejadian serupa akan terus terjadi di waktu-waktu mendatang, apalagi dalam pengamatan penulis selama ini "sabotase " tersebut sering "ditukangi" oleh kelompok yang menurut saya tergolong para cendekiawan muslim. Ironi memang keberadaan kita sebagai cendikiawan yang seharusnya menjadi pencerah, penyejuk, penerang malah berbalik menjadi peresah umat.
Sehubungan dengan prolog di atas, penulis sadar bahwa tulisan ini terlalu singkat untuk mengungkap kenyataan (realitas) para cendekiawan muslim terutama di Aceh. Namun saya berharap tulisan yang dibaca ini baik dirasa "pedas" atau tidak, semoga dapat mengingatkan kita bahwa masih ada permasalahan internal yang perlu segera disikapi dan sekaligus menjadi bahan kajian bahwa para cendikiawan muslim punya tanggung jawab besar dalam dakwah dan mengajarkan ilmu bagi kaum muslimin.
Cendikiawan Muslim
Sejarah para cendekiawan muslim yang pernah mengharumkan Islam merupakan teladan yang sangat berharga bagi generasi muslim sesudahnya. Lihatlah betapa seorang yang ahli fiqih pada saat yang sama dia ahli kedokteran, astronomi, filsafat dan beberapa keahlian lainnya. Kemampuan ini rata-rata dimiliki oleh cendekiawan muslim pada masa dahulu.
Yang lebih mengharumkan lagi adalah bagaimana karya-karya mereka masih dijadikan rujukan utama hingga saat ini. Karya-karya Imam Al-Ghazali misalnya, sampai sekarang menjadi kajian yang terus diminati tidak hanya di Dayah/Pesantren juga di Perguruan Tinggi. Begitu pula dengan karya cendikiawan Aceh tempo dulu Nuruddin Ar-raniry, Abdurrauf As-singkili, Hasbi Ash-Shiddiqi dll yang masih menjadi tema-tema seminar, menunjukan bahwa karya para cendikiawan muslim lahir dari kekuatan akal mereka yang terpencar dari keakraban mereka dengan nilai-nilai Rabbani.
Sebaliknya, apa yang terjadi sekarang adalah kenyataan yang sangat memprihatinkan. Sebagian cendekiawan muslim di Aceh bagaikan "burung beo" yang senang meniru. Malas menulis, tidak mau berijtihad, malas membaca, tidak kreatif, senang menghafal dan malas berpikir. Padahal, Allah SWT dalam Alquran sering menyindir kita: "Apakah kamu tidak berfikir, "apakah kamu tidak berakal". Nah, seolah-olah kemalasan pada diri kita terasa lebih manis dan madu. Akhirnya jarang sekali kita mendapati karya cendekiawan Aceh saat ini menjadi referensi bahkan tema-tema seminar baik nasional maupun internasional.
Kelemahan berikutnya yang masih melekat pada cendekiawan muslim Aceh adalah perpecahan dan perselisihan. Penyakit ini memang kerap lekat dengan para cendikiawan muslim Aceh, apalagi ditunjang berbagai latar belakang pendidikan mereka berasal (pendidikan Timur Tengah, Dayah dll). Seharusnya perbedaan latar belakang pendidikan menjadi kekuatan/potensi untuk membangun Aceh yang lebih baik ke depan. Perpecahan juga dapat muncul karena sikap merasa paling benar dan yang lainnya salah. Sikap ekstrem menyalahkan kelompok lain inilah yang memicu perselisihan.
Idealnya perselisihan dan perbedaan tersebut dapat diselesaikan dengan dialog, diskusi, mujadalah dengan cara yang baik seperti yang terdapat dalam Al-Quran (Surat An-Nahl Ayat 125). Karenanya Islam sangat melarang kekerasan dalam mensikapi perbedaan dan perselisihan apalagi sesama muslim.
Agaknya hal ini juga bagian yang tak terpisahkan dari grand skenario yang sedang dimainkan di dunia Islam, termasuk Aceh dengan satu agenda utama menciptakan perpecahan dan kegaduhan agar kekuatan kaum muslimin centang perenang. Sebagaimana diketahui skenario ini telah berhasil meruntuhkan Khilafah Islam pada 1924 dan telah berhasil pula mempengaruhi opini dunia dengan klaim Islam sebagai "the public enemy in the world" paska serangan World Trade Center (WTC) New York, Amerika, 11 September 2001.
Penyakit lain yang melekat pada cendekiawan muslim adalah kurangnya studi dan perencanaan yang benar. Terkesan apa yang dikerjakan berdasarkan perasaan yang sangat subjektif. Lemahnya dalam membuat studi dan perencanaannya, membuat aktivitas dakwah terkesan sembrono tanpa adanya perhitungan. Berlebih-lebihan juga merupakan penyakit yang mengental pada cendikiawan muslim, termasuk terlalu bangga dengan kejayaan yang telah dicapai selama ini.
Kelemahan yang tak kalah bahayanya adalah diam dan kurang kritisnya sebagian para cendekiawan dalam menyikapi setiap permasalahan yang dirasakan umat saat ini. Pada dataran ini mereka seharusnya mengambil peran mengkritisi sekaligus memberikan solusi pada setiap kebijakan pemerintah baik bidang ekonomi, politik, pendidikan, keagamaan dll. Saya percaya pemerintah yang bijak akan menerima segala masukan para cendikia, tentunya dalam rangka memperbaiki sendi-sendi kehidupan masyarakat yang lebih baik.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/dr-munawar-a-djalil-ma_20160816_144852.jpg)