Breaking News
Senin, 18 Mei 2026

Jurnalisme Warga

Kenduri Opom, Tradisi Khas Aceh Singkil

ACEH Singkil tidak hanya terkenal dengan keindahan alamnya yang terdiri atas laut dan pulau yang memukau. Singkil juga memiliki beragam jenis kuliner

Tayang:
Editor: hasyim
IST
KHAIRUDDIN, M.Ag., Koordinator Warung Penulis Chapter Aceh Singkil dan dai perbatasan Aceh, melaporkan dari Tanah Bara, Aceh Singkil 

KHAIRUDDIN, M.Ag.,  Koordinator Warung Penulis Chapter Aceh Singkil dan dai perbatasan Aceh, melaporkan dari  Tanah Bara, Aceh Singkil

ACEH Singkil tidak hanya terkenal dengan keindahan alamnya yang terdiri atas laut dan pulau yang memukau. Singkil juga memiliki beragam jenis kuliner khas yang mampu memanjakan lidah siapa saja, mulai dari cemilan hingga ke makanan berat. Banyak kuliner yang bisa kita jumpai di Singkil, baik yang modern maupun yang tradisonal. Namun, kali ini saya fokus mereportasekan makanan tradisional. Di antara makanan tradisional yang paling menarik untuk dibahas adalah kue opom yang bentuknya mirip serabi.

Opom merupakan satu di antara banyak kue tradisional warga Aceh Singkil dan Subulussalam yang umumnya bermukim di aliran sungai. Kue ini telah menjadi kue favorit  bagi masyarakat setempat karena warga yang tinggal di aliran sungai masih memegang teguh adat istiadat nenek moyangnya.

Opom Singkil berbentuk bulat seperti lingkaran, tebalnya sekitar 1 cm, dan lebar sekitar 10-15 cm. Biasanya berwarna abu-abu dan putih. Opom ini sama dengan kue apam. Dalam bahasa Indonesia kerap disebut serabi. Namun, keduanya memiliki sedikit perbedaan. Serabi terbuat dari tepung beras, santan, air kelapa, air putih, garam, dan gula pasir, sedangkan opom Singkil terbuat dari tepung pulut/sepokot, santan, dan garam.

Kue opom ini bukanlah makanan tradisoanal satu-satunya di Aceh Singkil. Masih banyak jenis makanan tradisional unik dan lezat lainnya yang agak susah ditemukan di daerah lain, seperti lompong sagu, gedah sagu, dan godekh sagu.

                                                            Kenduri opom

Opom bukan hanya sekadar kue tradisional, tapi merupakan nama salah satu bulan bagi masyarakat Singkil yang dimulai dari bulan Muharam, Safar, Mulud Satu, Mulud Dua, Mulud Tiga, Mulud Empat, Opom, Nasi, Puasa, Khekhaya, Muhafidz, dan Haji.  Jika hitungan bulan kampung Aceh Singkil dengan bulan Hijriah maka bulan Opom itu bertepatan dengan bulan Rajab. Nama-nama bulan yang menjadi keseharian masyarakat Singkil memang terdengar aneh. Tetapi itulah kearifan lokal yang patut dilestarikan.

Kembali ke topik pembahasan, kue opom ini tidak dihidangkan di sembarangan bulan dalam tahun Hijriah. Sebaliknya, ada waktu tertentu untuk pesta opom. Ada beberapa waktu yang biasanya kue opom ini dibuat oleh masyarakat Singkil, di antaranya pada bulan Opom (bulan Rajab), tepatnya ketika memperingati Isra Mikraj Nabi Muhammad saw.

Nah, biasanya ada tim dari ibu-ibu yang khusus untuk membuat opom tersebut yang betul-betul ahli di bidangnya. Para ibu sibuk mempersiapkan segala kepentingan opom, sementara bagi anak muda hanya sekadar memperhatikan saja. Minim sekali anak muda di masa sekarang ini bisa membuat kue opom. Sebagian yang lainnya membersihkan masjid maupun musala yang akan dimanfaatkan pada hari H serta menyiapkan segala peralatan yang diperlukan.

Kemudian, setelah menu kue masak, pada malam harinya masyarakat berkumpul di masjid maupun musala (surau), untuk mendengarkan riwayat Isra Mikraj yang disampaikan dalam bentuk syair dan prosa. Setelah itu, kue opom yang ditunggu-tunggu pun dihidangkan dan siap dinikmati bersama-sama. Nah, bagian ini baru tugas kaum lelaki, maksudnya makan opom.

Sebagian masyarakat Singkil tepatnya Desa Tanah Bara, Kecamatan Gunung Meriah, membuat kue opom ini bukan hanya pada bulan Opom saja, tetapi ada pada hari lain seperti ketika para petani telah menanam padinya dan tumbuh subur, kemudian mereka mengadakan kenduri yang mereka sebut  kenduri ladang yang biasanya dilakukan setahun dua kali.

Kemudian warga membawa kue opom yang sudah dibuat dan membawa perlengkapan tepung tawar ke lokasi persawahan padi tersebut. Mereka berdoa kepada Allah. Mereka kemudian menaburkan air tepung tawar ke sawah miliknya, setelah itu mereka makan kue tradisional  yang disebut opom. Ritual ini dilakukan dengan harapan agar padi mereka selamat dan hasilnya memuaskan, bahkan berharap agar bisa mengeluarkan zakat padi. Alhasil, banyak di antara mereka yang panen raya dan mampu menunaikan zakat. Tradisi ini sudah dilakukan dari nenek moyang mereka dan masih dipertahankan hingga sekarang.

Kue opom juga dibuat ketika  turun dapur (selesai bersalin), agar para tamu dengan lahapnya menyantap makanan tersebut dari segala kalangan, baik anak-anak, remaja maupun orang dewasa.

Sebagian dari masyarakat Aceh Singkil membuat kue opom ketika memperingati 40 atau pun 100 hari orang meninggal.

Kenduri ini konon berasal dari seorang sufi bernama Abdullah Rajab yang hidup miskin bahkan sangat fakir di Mekkah. Saat dia meninggal, keluarganya tak mampu menggelar acara kenduri seperti lazimnya. Orang sekampungnya berinisiatif membuat opom karena tidak memerlukan banyak bahan untuk membuatnya. Ternyata tradisi membuat opom masih hidup sampai kini.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved