Ke Andaman Hanya 1 Jam, Nova Kirim Negosiator Ulung Lobi Menhub dan Malindo Air

Dekatnya jarak tempuh dari Aceh ke Kepulauan Andaman, India, yang hanya sekitar 1 jam penerbangan, menjadi peluang dagang

Ke Andaman Hanya 1 Jam, Nova Kirim Negosiator Ulung Lobi Menhub dan Malindo Air
SERAMBI/BUDI FATRIA
Plt Gubernur Aceh, Nova Iriansyah menerima kunjungan Duta Besar India untuk Indonesia, Pradeep Kumar Rawat di Rumah Dinas Wakil Gubernur Aceh, Banda Aceh, Senin (5/8/2019). 

BANDA ACEH - Dekatnya jarak tempuh dari Aceh ke Kepulauan Andaman, India, yang hanya sekitar 1 jam penerbangan, menjadi peluang dagang yang sangat menguntungkan. Karena itu, Plt Gubernur Aceh Nova Iriansyah terus melakukan berbagai upaya mewujudkan dibukanya penerbangan langsung Aceh-Andaman.

Salah satu upaya yang telah dilakukan adalah menyurati Kementerian Perhubungan (Kemenhub), meminta agar Pemerintah bersedia membuka rute terbang dimaksud. Selain itu, Nova juga akan mengirim negosiator untuk melancarkan lobi-lobi, tidak hanya ke Kemenhub, tetapi juga kepada pihak maskapai dalam hal ini Malindo Air.

"Iya benar, sudah saya surati (Kemenhub)," kata Plt Gubernur Aceh, Nova Iriansyah, yang ditanyai Serambi, Selasa (13/8). Selain ke Kemenhub, surat itu juga ditembuskan ke sejumlah menteri lainnya.

Informasi yang didapat Serambi, surat diajukan oleh Plt Gubernur hanya berselang dua hari setelah pertemuannya dengan Duta Besar India untuk Indonesia, Pradeep Kumar Rawat pada 5 Agustus lalu. Dalam pertemuan itu, Rawat meminta Pemerintah Aceh melobi kementerian terkait dan pihak maskapai untuk membuka rute terbang Banda Aceh ke Port Blair, Andaman.

Dalam suratnya bernomor 555/12278, Plt Gubernur menyampaikan bahwa pembukaan rute penerbangan Banda Aceh-Port Blair adalah hasil kesepakatan antara Pemerintah Aceh dan India, dalam rangka menindaklanjuti Aceh-Andaman And Nicobar Island Business Connectivity yang juga masuk dalam Indonesia-Malaysia-Thailand Growth Triangle Plus India (IMT-GT plus).

Oleh karena itu, Nova mengajukan permohonan amandement atau perubahan perjanjian layanan udara (Air Service Agreement). Sebab di dalam perjanjian yang disepakati sebelumnya antara Pemerintah Indonesia dengan Pemerintah India, belum tercantum nama Bandar Sultan Iskandar Muda (SIM) sebagai salah satu bandara yang dapat dilakukan penerbangan langsung.

Namun Nova mengaku, hingga sekarang pihaknya belum menerima balasan dari Kemenhub atas surat permohonan tersebut. Karenanya, dalam dua hari ini ia berencana mengutus staf khusus ke Kemenhub. Di samping itu, ia juga akan mengirim negosiator ulung untuk melobi pihak kementerian terkait.

“Dalam upaya ini Pemerintah Aceh juga harus piawai dalam bernegosiasi. Bargaining position (posisi tawar) Aceh cukup baik, tapi harus didukung negosiator yang ulung. Nanti kita tetapkan para pebisnis Kadin untuk bernegosiasi," ungkap Nova.

Lebih lanjut dia menyampaikan, permintaan agar dibukanya rute terbang Banda Aceh-Port Blair adalah salah satu bentuk keseriusan Pemerintah Aceh dalam merajut kerja sama konektivitas Aceh-Andaman. Jika ini berhasil, Nova meyakini kerja sama ini akan sangat menguntungkan bagi Aceh. "Karena mereka (Andaman) tidak punya pilihan, ke daratan India sangat jauh dan mahal, ke Aceh hanya satu jam terbang, jadi mereka sangat butuh kerja sama dengan Aceh," ujar Nova.

Lantas bagaimana dengan rencana Pemerintah India membangun rumah sakit di Sabang? Terkait hal ini, Plt Gubernur mengatakan, prosesnya masih pada fase awal. “Kita berharap India mau membangun rumah sakit tersebut, karena India mempunyai kualitas baik dalam bidang kesehatan tetapi relatif murah," imbuhnya.

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved