Opini
Umat Islam di Kashmir
Kondisi Kashmir kembali memanas dan bergolak, pasca pencabutan status otonomi khusus secara sepihak oleh India pada 5 Agustus 2019 lalu
Pada Oktober 1947, Pakistan menyerang Kashmir. Menghadapi serangan, pada 27 Oktober 1947 Hari Singh, memutuskan bergabung ke India dengan imbalan bantuan militer dan referendum. Padahal mayoritas rakyat menginginkan bergabung dengan Pakistan. Pada hari itu juga India mengirim pasukan menandai penguasaan atas Kashmir.
Kenapa India dan Pakistan Berebut Kashmir? Perdana Menteri India, Narendra Modi, beralasan pencabutan otonomi karena ancaman serangan Pakistan dan ingin mengintegrasikan Kashmir secara utuh. Menteri Dalam Negeri India, Eri Amit Shah kepada parlemen, dilansir BBC, Selasa (6/8/2019) menyatakan, pencabutan otonomi dikarenakan demokrasi tidak sepenuhnya berjalan, korupsi meningkat dan pembangunan tidak terlaksana.
Para pengamat menilai, itu hanya alasan India. Potensi Kashmir yang luar biasalah yang mendorong birahi penjajahan mereka meningkat. Beberapa di antaranya, Kashmir berakses secara langsung dengan Afghanistan dan Xinjiang Cina. Kashmir di kaki Himalaya yang bersalju kerap disebut "paradise on earth", surga dunia. Tanahnya sangat subur dikelilingi gunung dan sungai. Resort ski dan operator wisata berjamuran. Penyumbang PDB dan pendapatan di Asia Tengah.
Pakistan juga menganggap Kashmir sebagai jalur keberlangsungan hidup. Tiga dari enam sungai Pakistan, yakni sungai Indus, Jhelum, dan Chenab mengalir dari Kashmir. Tanpa sungai, Pakistan akan berubah menjadi gurun pasir. Kashmir juga menjadi jalur perdagangan sutra antara Pakistan dan China.
Sejak itulah India, Pakistan dan Cina berebut. Konflik terus terjadi. Pada 1962 disepakati batas India-Cina dan 1963 Pakistan-Cina. Pada 2 Juli 1972 dibuat perjanjian Simla. Pakistan mengontrol Barat Laut, Gilgit, dan Baltistan. India mengontrol Tengah dan Selatan, yakni Srinagar, Jammu dan Ladakh, dan Cina menguasai Timur Laut, Aksai Chin, dan Siachen Glacier. Sejak Juni 2018 Kashmir dipimpin gubernur.
Kondisi Islam
Sejak bergabung dengan India, dalam 72 tahun terakhir Kashmir terus bergolak. Kendati bergolak, sejak 1974 kehidupan mereka sedikit lega karena diberikan otonomi khusus. Namun sejak otonomi dicabut, kehidupan umat Islam semakin sulit. Sejumlah pemimpin dikenai tahanan rumah dan pertemuan umum dilarang. Pembatasan jaringan telepon dan internet menggambarkan betapa serius krisis yang terjadi. Kashmir diisolasi dari wilayah lain di India.
Sekarang kondisi umat Islam semakin menyedihkan. Kebebasan menjalankan ibadah semakin sulit didapat. Mereka sering kali mendapat ancaman atau diskriminasi. Terlebih kaum wanita yang menonjolkan simbol-simbol keislamannya seperti memakai jilbab.
Tidak terkira jumlah korban jiwa dan harta semenjak gejolak Kashmir terjadi. Konflik 1947-1948 saja menyebabkan satu juta orang tewas dan lebih satu setengah juta mengungsi ke Pakistan. Rakyat Kashmir memperingati 27 Oktober sebagai Black Day. Belum lagi beberapa konflik besar lainnya 1965-1966, 1971-1972, 1989-1990, 1999, 2016 dan 2018.
Tahun 2018 saja lebih 500 orang terbunuh. Tidak terhitung berapa banyak sengketa perbatasan yang berlangsung hingga kini. Pantas, mantan Wakil Direktur Central Intelligence Agency (CIA) Richard Kerr, menyebut krisis India-Pakistan jauh lebih menakutkan daripada krisis misil Kuba.
Kashmir akan terus bergolak selama hak-haknya ditindas. Semoga Muslim Kashmir diberi ketabahan, semangat, kekuatan, dan kemenangan oleh Allah dalam memperjuangkan hak-haknya. Amin yarabbal alamin.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/drs-mardin-m-nur-ma-dosen-luar-biasa.jpg)