Salam

Masyarakat Ingin Pariwisata Islami  

Pemahaman tentang wisata islami atau wisata halal atau wisata syariah dengan segala implikasinya terindikasi belum cukup membumi di Aceh

Masyarakat Ingin Pariwisata Islami   
SERAMBINEWS.COM/MUHAMMAD NAZAR
Polisi masih melakukan pengamanan di lokasi kios dibakar di objek wisata Mantak Tari, Kecamatan Simpang Tiga, Pidie, Minggu (8/9/2019). 

Pemahaman tentang wisata islami atau wisata halal atau wisata syariah dengan segala implikasinya terindikasi belum cukup membumi di Aceh. Dua hari lalu, ratusan kaum wanita di Pidie mengobrak-abrik sejumlah pondok dan kios pantai Mantak Tari yang dikhawatirkan dapat menimbulkan kemksiatan jika lokasi wisata itu terus dikembangkan. 

Meski ada pro dan kontra masyarakat terhadap aksi itu, polisi menyatakan Pantai Mantak Tari ditutup sementara bagi para wisatawan. Dan, selanjutnya nasib lokasi wisata itu akan ditentukan melalui hasil musyawarah tingkat kecamatan bahkan tingkat Kabupaten Pidie.

Berwisata atau berlibur sesungguhnya adalah kebutuhan yang secara psikologis memang tak bisa kita elak. Paling-paling, kita cuma bisa membatasi saja. Artinya, karena itu kebutuhan yang sangat manusiawi, maka ketersediaan tempat-tempat berwisata adalah satu hal yang mutlak.

Pada 31 Maret 2015, Menteri Pawiwisata RI mencanangkan Kota Banda Aceh sebagai World Islamic Tourism. Yaitu, ibu kota Provinsi Aceh ini sebagai destinasi wisata unggulan islami atau wisata halal di Indonesia untuk dunia.

Maka sejak itu Pemerintah Banda Aceh mulai menguatkan SDM pariwisata, pengembangan budaya dan tradisi, pembenahan prasarana dan sarana wisata, pengembangan transportasi wisata, dan senantiasa mendorong masyarakat sadar wisata islami. “Semua program itu kita lakukan dalam bingkai keislaman.”

Pengembangan destinasi wisata halal difokuskan pada tiga hal yaitu akses, atraksi, dan amenitas. Akses, ditujukan pada ketersediaan sarana transportasi. Atraksi, adalah apa yang bisa dilihat dan dilakukan wisatawan di destinasi. Sedangkan amenitas adalah segala fasilitas pendukung yang bisa memenuhi kebutuhan dan keinginan wisatawan selama berada di destinasi. Contohnya, restauran, souvenir, kafe, hotel, dan tempat ibadah.

Jadi, sejak beberapa tahun terakhir, Aceh sudah kembanagkan sebagai salah satu destinasi wisata halal dunia. Dan, karenanya, Aceh sudah dikenal para wisatawan mancanegara, terutama wisatawan muslim.

Pariwisata halal disebut juga wisata syariah. Yakni, pariwisata yang mengedepankan nilai-nilai Islam dalam setiap aktivitas wisatawan ataupun destinasi wisatanya. Dalam pandangan awam wisata syariah lebih dimaknai sebagai wisata religius. Yaitu, berkunjung ke tempat ibadah untuk berziarah atau tempat-tempat ibadah lainnya. Padahal, pariwisata syariah tidak terfokus pada objek saja. Akan tetapi, adab perjalanan dan fasilitas yang tersedia untuk wisatawan juga termasuk di dalamnya. Mulai bandara halal hingga toilet halal di lokasi wisata.

Dengan kata lain, pariwisata syariah bermakna bahwa masyarakat atau wisatawan muslim harus berprilaku islami di manapun dan kapanpun. Maka, bila ada pemaknaan yang kurang tepat terkait pariwisata syariah, itu disebabkan karena edukasi yang kurang.

Seorang akademisi beberapa waktu lalu menulis, potensi berkembangnya wisata syariah ke depannya sangat menjanjikan. Apalagi, jika dikaitkan dengan pendapatan asli daerah. Konsep pariwisata syariah ke depannya akan menjadi bisnis yang banyak dilirik para pelaku bisnis wisata baik swasta maupun pemerintah provinsi dan kabupaten/kota.

Pengembangan pariwisata di dunia ini selalu saja tak terlepas dengan industri kreatif. Yakni, industri yang berasal dari pemanfaatan kreativitas, keterampilan, serta bakat individu untuk menciptakan kesejahteraan serta lapangan pekerjaan dengan menghasilkan dan mengeksploitasi daya kreasi maupun daya cipta individu tersebut. Saat ini, indstri kreatif dipandang semakin penting dalam mendukung kesejahteraan perekonomian karena sebagian besar tergantung pada produksi pengetahuan melalui kreativitas. Dan, pariwisata memerlukan proses-proses yang kreatif dalam pengembangannya. Jadi, industri pariwisata memiiiki hubungan timbal balik dengan industri kreatif. Industri kreatif dapat mengembangkan potensi pariwisata syariah di setiap daerah.

Kita ingin mengingatkan bahwa pariwisata syariah hanya akan berkembang jika telah terbentuk opini tentang makna pariwisata syariah di masyarakat. Ironisnya, sejauh ini, masih banyak pelaku wisata dan masyarakat yang kurang mengetahui konsep pariwisata syariah. Nah?!

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved