Jurnalisme Warga

Souraya, Sungai Peradaban Singkil yang Mulai  Ditinggalkan

Sejak ratusan tahun lalu masyarakat Daerah Aliran Sungai (DAS) Singkil telah bersahabat dan mengais rezeki dari sungai

Souraya, Sungai Peradaban Singkil yang Mulai  Ditinggalkan
IST
WANHAR LINGGA, pegiat wisata dan budaya Singkil juga Anggota Forum Aceh Menulis (FAMe), melaporkan dari Singkil

OLEH WANHAR LINGGA, pegiat wisata dan budaya Singkil juga Anggota Forum Aceh Menulis (FAMe), melaporkan dari Singkil

Sejak ratusan tahun lalu masyarakat Daerah Aliran Sungai (DAS) Singkil telah bersahabat dan mengais rezeki dari sungai yang dihuni ribuan ekor buaya ini. Setidaknya mereka yang dulu pernah mengonsumsi air di sungai ini, kini telah menjadi guru, sarjana, TNI, polisi, dan berbagai profesi yang telah berkiprah di bidangnya masing-masing di seluruh Nusantara ini.

Peradaban di belahan dunia ini banyak dimulai dari peradaban sungai. Peran sungai sangatlah penting sebagai sumber kehidupan dalam membangun peradaban. Bagaimana sungai menyediakan air minum dan kebutuhan air dalam keseharian. Sungai juga digunakan sebagai jalur transportasi pada masanya dan digunakan pula untuk mengairi perkebunan dan pertanian. Maka sudah sangat pantaslah anak negeri ini banyak belajar tentang manajemen sungai agar potensi sungai yang jumlahnya ribuan di negara ini bisa dimaksimalkan keberadaannya.

Pemanfaatan sungai pada era kejayaan Singkil menunjukkan bahwa perannya begitu dominan. Sungai Souraya adalah prasarana utama yang digunakan untuk berpencar, baik dalam rangka memenuhi kebutuhan hidup, mencari nafkah (berdagang), berpindah dari satu lokasi ke lokasi lain. Terbukti bahwa di Tanah Alas, Aceh Tenggara, ribuan masyarakat Suku Singkil sebelum adanya Kabupaten Aceh Singkil, bahkan ratusan tahun lalu telah bermukim di sana.

Pada saat itu daratan pun masih berupa hutan. Jalan darat tidak berkembang. Hingga pada tahun 1984 jalan darat Singkil-Sumatera Utara mulai dibuka. Dulu di sepanjang aliran sungai ini banyak ditemukan lampung alias kedai terapung. Saat menempuh perjalanan jauh menyusuri sungai orang biasanya mampir di kedai terapung tersebut. Katakanlah, misalnya, untuk sekadar menyeruput kopi atau singgah sejenak untuk menumpang shalat dan makan siang.

Tak jarang pula di lampung ini terdapat penggilangan tebu yang digerakkan dengan mengandalkan arus sungai. Air tebu tersebut biasanya dimasak menjadi manisan atau gula tebu. Tapi sayang, kini pemandangan seperti ini sudah tak ada lagi.

Berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 12 Tahun 2012 tentang Penetapan Wilayah Sungai, Aceh memiliki sembilan wilayah sungai besar. Salah satunya adalah wilayah Sungai Alas-Singkil yang luasnya mencapai 10.090,13 kilometer persegi. Di sepanjang bantaran sungai inilah masyarakat Singkil (Aceh Singkil-Kota Subulussalam) sejak dahulunya memulai peradaban. Tapi kini hampir 80% penduduk setempat pindah ke daerah yang agak jauh dari DAS akibat faktor bencana alam, terutama untuk menghindari banjir bandang dan terutama banjir luapan yang kerap terulang.

Pun demikian, masih ada beberapa perkampungan di pinggir Sungai Souraya yang masih dihuni penduduk, di antaranya Kampung Gelombang, Dah, Sibuasen, Sibungkai, Panglima Saman, Muara Batu-Batu, Runding, Belukur , Binanga, Kuta Beringin, Siperkas, Oboh, Longkib, Sepang, dan Kampung Lentong.

Sepanjang sungai ini juga masih bisa kita saksikan kearifan lokal masyarakat yang masih menggunakan moda transportasi bungki (perahu). Keceriaan anak-anak yang mandi di sungai menjadi pemandangan yang sangat sulit kita temukan di era modern ini. Menjadi lebih spesifik karena ternyata hampir setiap rumah masih memiliki tempat mandi dan mencuci di sungai yang justru berada di depan rumah mereka. Dalam bahasa Singkil tempat ini dinamakan bagan atau jamban.

Dulu, Sungai Souraya ini menjadi poros terpenting dalam bisnis, sebab melalui sungai inilah pedagang asal Singkil dan Alas (Aceh Tenggara) saling berinteraksi. Itu pula yang menyebabkan sekitar 30 persen penduduk Singkil mahir berbahasa Alas dan tak sedikit pula orang Alas yang paham bahasa Udik atau bahasa Ulu Singkil.

Sungai terpanjang di Aceh ini pula yang menjadi saksi sejarah tentang miliaran kubik kayu-kayu berkualitas bagus dari hutan Singkil dirakit, dihela oleh tugboat  melewati muara menuju laut, dan akhirnya dikapalkan ke berbagai negara. Penebangan kayu secara jor-joran sejak 1969 itu akhirnya menyebabkan deforestasi yang luar biasa dan ujung-ujungnya sungai ini kerap meluap bahkan menyebabkan banjir bandang.

Di balik kejayaannya dahulu dan keterpurukannya sekarang, tentu masih tersimpan misteri menarik bagaimana awal mula masuknya masyarakat Singkil zaman dahulu ke kawasan ini, lalu membangun peradaban di sepanjang DAS Lae Soraya.

Terima kasih, ya Allah. Engkau telah menitipkan Souraya di negeri Syekh Abdurrauf As-Singkily ini. Kini giliran kami, anak muda di era sekarang, yang harus menjaga kelestarian dan kebersihan Sungai Souraya Singkil, sungai terpanjang kebanggaan Aceh.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved