Opini
MTQ; Upaya Membumikan Alquran
Perhelatan akbar Musabaqah Tilawatil Qur'an (MTQ) XXXIV Aceh telah dimulai yang dibuka secara resmi oleh Plt Gubernur Aceh, Nova Iriansyah
Jika berfikir realistis, sesungguhnya pembangunan manusia jauh lebih penting dibandingkan pembangunan fisik semisal membangun saluran, jalan rabat beton, talut, dan sebagainya. Hal inilah yang tidak banyak dilakukan masyarakat kita, sehingga membawa dampak buruk bagi kecintaan masyarakat terhadap agamanya dan pedoman hidupnya yaitu Alquran.
Sekali lagi, hal ini tentunya membutuhkan dukungan dari semua pihak. Jika pemerintah dan masyarakat bersinergi dan saling bahu membahu dalam upaya pembangunan manusia, maka akan lahir kembali generasi yang cinta Alquran.
Pemberian reward
Pemberian reward kepada peserta yang memperoleh juara dalam MTQ juga menjadi motivasi bagi masyarakat dalam mempelajari Alquran. Hadiah umrah bagi para juara misalnya yang dijanjikan beberapa kepala daerah akan membangkitkan semangat untuk terus belajar agar menjadi yang terbaik. Selain itu, pemerintah juga punya kemampuan memberikan reward kepada para penghafal Alquran. Hal tersebut diharapkan akan tercipta lebih banyak hafidh dan hafidhah di bumi Seuramoe Mekkah ini.
Para juara MTQ juga handaknya mendapatkan pembinaan dan pemberdayaan dari pemerintah daerah untuk meningkatkan gairah meraka dalam belajar Alquran. Tidak ada salahnya kita coba mengadopsi apa yang dilakukan negara tetangga Malaysia yang menempatkan para juara MTQ sebagai imam di berbagai mesjid dengan mendapatkan gaji tetap, bahkan sebagai pegawai kerajaan. Aceh tentunya mampu melakukan hal yang sama dengan dana Otsus.
Harapan dan keinginan Gubernur Aceh untuk menjadikan "Aceh Carong" khususnya dalam bidang Alquran akan menjadi kenyataan bila semua pihak serius melaksanakannya. Keseriusan tersebut tentunya bisa dilihat secara nyata bila pemerintah daerah berani mengeluarkan regulasi sebagai payung hukum dalam pembinaan dan pemberdayaan qari/qariah.
Selama ini para juara MTQ sering terkatung-katung dan terlunta-lunta, bahkan tidak jarang muncul kesan meraka hanya "dibutuhkan saat diperlukan". Sekali lagi kondisi seperti ini tidak boleh terus menerus terjadi, bila kita menginginkan Aceh carong. Semoga ke depan nilai-nilai Alquran akan terus terpancar dalam setiap aspek kehidupan masyarakat Aceh, dan menjadikan Aceh negeri yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur. Wallahu a'lam.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/dr-nazaruddin-abdullah-ma-dewan-hakim-mtq-xxxiv-aceh.jpg)