Senin, 11 Mei 2026

Opini

MTQ; Upaya Membumikan Alquran  

Perhelatan akbar Musabaqah Tilawatil Qur'an (MTQ) XXXIV Aceh telah dimulai yang dibuka secara resmi oleh Plt Gubernur Aceh, Nova Iriansyah

Tayang:
Editor: bakri
IST
Dr. Nazaruddin Abdullah, M.A, Dewan Hakim MTQ XXXIV Aceh 

Oleh Dr. Nazaruddin Abdullah, M.A, Dewan Hakim MTQ XXXIV Aceh

Perhelatan akbar Musabaqah Tilawatil Qur'an (MTQ) XXXIV Aceh telah dimulai yang dibuka secara resmi oleh Plt Gubernur Aceh, Nova Iriansyah, Sabtu 21 September 2019. Gema MTQ kali ini cukup terasa sampai ke seluruh pelosok negeri. Kabupaten Pidie yang dipilih untuk melaksanakan even dua tahunan ini juga telah mempersiapkan diri cukup baik guna mensukseskan kegiatan keagamaan tersebut.

Saat membuka MTQ, Plt Gubernur menekankan bahwa tujuan dilaksanakan MTQ sebagai ajang memperkuat ukhuwah islamiyah serta menumbuhkan minat masyarakat untuk kembali membaca dan mengamalkan Alquran dalam kehidupan sehari-hari, mengingat begitu banyak tantangan yang dihadapi masyarakat dewasa ini khususnya para pemuda yang kerap disibukkan dengan berbagai persoalan seperti narkoba, pergaulan bebas, pornografi, dan sebaginya.

Sebagai umat Islam, tentu semua berharap agar kegiatan tersebut membawa dampak positif bagi kelangsungan serta kemaslahatan Islam. Harapan ini tentunya tidaklah berlebihan mengingat Alquran sebagai pedoman dan tuntunan hidup bagi manusia, khususnya orang yang beriman. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah sudahkah nilai-nilai Alquran itu diimplementasikan masyarakat dalam kehidupannya sehari-hari.

Tentunya pertanyaan tersebut sedikit sulit untuk kita jawab, mengingat fenomena yang terjadi di masyarakat masih terkesan jauh dari nilai-nilai yang ada dalam Alquran. Sebut saja misalnya tentang akhlak, korupsi, kemiskinan, sosial politik dan lain sebagainya masih cukup jauh dari apa yang telah dicontohkan dalam Alquran.

Ketika kita meyakini Alquran sebagai pedoman hidup seorang muslim, maka seyogyanya semua aspek kehidupan yang kita jalankan hendaknya berlandaskan nilai-nilai Alquran. Hal ini terlihat dari penjelasan Alquran di surat al-Baqarah ayat 185; "Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu, dan pembeda (antara yang haq dan yang batil)...".

Dalam memahami ayat ini, Imam Al-Suyuthi menjelaskan bahwa Alquran mangandung petunjuk yang dapat menghindarkan manusia dari kesesatan, ayat-ayatnya cukup jelas yang berisi tentang hukum-hukum untuk mengarahkan seseorang kepada jalan yang benar.

Dalam upaya mewujudkan nilai-nilai Alquran di tengah-tengah kehidupan masyarakat, maka semua pihak harus siap memulai dari sekarang agar terbiasa dengan situasi dan kondisi yang ada. Membumikan Alquran di tengah masyarakat setidaknya dapat dimulai dengan beberapa hal berikut:

Awali dengan membaca

Sebagai upaya menanamkan nilai-nilai Alquran dalam kehidupan, maka hendaknya diawali dengan membiasakan diri membaca Alquran. Gerakan magrib mengaji perlu terus digalakkan setiap lapisan masyarakat. Pemerintah dan tokoh masyarakat harus bersinergi mengembalikan tradisi mangaji bakda magrib sebagaimana yang pernah terjadi di masa lalu.

Di era tahun 70-80an misalanya, hampir di setiap rumah warga Aceh terdengar suara bacaan Alquran. Bacaan tersebut khususnya oleh anak-anak yang belajar Alquran menggunakan metode Bagdadiyah atau dalam istilah Aceh disebut "Beut Aleh Ba". Suasana masa lalu tersebut menjadi barang langka dewasa ini di saat warga Aceh telah disibukkan dengan berbagai hal yang berbau duniawi. Televisi, handphone, komputer dan alat elektronik lainnya telah mengubah perilaku sebagian besar masyarakat, khususnya anak-anak dan para remaja. Mereka lebih banyak menghabiskan waktu bermain game melalui HP ketimbang membaca Alquran.

Kondisi seperti ini tentunya tidak boleh dibiarkan, harus ada upaya dan langkah-langkah strategis yang perlu ditempuh Pemerintah, kembali membudayakan bacaan Alquran di tengah-tengah masyarakat. Disadari atau tidak, sudah semakin langka orang-orang yang mampu membaca Alquran secara baik dan benar yang sesuai dengan kaidah-kaidah ilmu tajwid. Oleh sebab itu, Pemerintah Daerah hendaknya lebih serius lagi memikirkan solusi yang tepat agar masyarakat kembali mencintai Alquran.

Memperbanyak even

Upaya lainnya yang bisa dilakukan untuk menanamkan kembali nilai-nilai Alquran adalah melalui berbagai even keagamaan, khususnya menyangkut bacaan Alquran. Musabaqah tilawatil quran sebagai salah satu even penting yang perlu terus digalakkan, baik di tingkat nasional, propinsi, kabupaten/kota sampai ke pelosok desa. Dengan adanya even-even tersebut tentunya akan membangkitkan motovasi bagi masyarakat untuk kembali mencintai Alquran setidaknya melalui bacaan.

Selama ini kita sering merasakan bahwa dukungan untuk hal-hal yang berbau keagamaan masih sangat kurang baik dari pemerintah maupun masyarakat sendiri. Sebagai contoh, saat pemerintah mengucurkan dana desa untuk seluruh wilayah Indonesia tidak terkecuali Aceh, hampir bisa dipastikan dana tersebut lebih banyak difokuskan untuk pembangunan fisik dan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Sangat sedikit untuk pemberdayaan keagamaan masyarakat, khususnya dalam hal pengkajian Alquran.

Jika berfikir realistis, sesungguhnya pembangunan manusia jauh lebih penting dibandingkan pembangunan fisik semisal membangun saluran, jalan rabat beton, talut, dan sebagainya. Hal inilah yang tidak banyak dilakukan masyarakat kita, sehingga membawa dampak buruk bagi kecintaan masyarakat terhadap agamanya dan pedoman hidupnya yaitu Alquran.

Sekali lagi, hal ini tentunya membutuhkan dukungan dari semua pihak. Jika pemerintah dan masyarakat bersinergi dan saling bahu membahu dalam upaya pembangunan manusia, maka akan lahir kembali generasi yang cinta Alquran.

Pemberian reward

Pemberian reward kepada peserta yang memperoleh juara dalam MTQ juga menjadi motivasi bagi masyarakat dalam mempelajari Alquran. Hadiah umrah bagi para juara misalnya yang dijanjikan beberapa kepala daerah akan membangkitkan semangat untuk terus belajar agar menjadi yang terbaik. Selain itu, pemerintah juga punya kemampuan memberikan reward kepada para penghafal Alquran. Hal tersebut diharapkan akan tercipta lebih banyak hafidh dan hafidhah di bumi Seuramoe Mekkah ini.

Para juara MTQ juga handaknya mendapatkan pembinaan dan pemberdayaan dari pemerintah daerah untuk meningkatkan gairah meraka dalam belajar Alquran. Tidak ada salahnya kita coba mengadopsi apa yang dilakukan negara tetangga Malaysia yang menempatkan para juara MTQ sebagai imam di berbagai mesjid dengan mendapatkan gaji tetap, bahkan sebagai pegawai kerajaan. Aceh tentunya mampu melakukan hal yang sama dengan dana Otsus.

Harapan dan keinginan Gubernur Aceh untuk menjadikan "Aceh Carong" khususnya dalam bidang Alquran akan menjadi kenyataan bila semua pihak serius melaksanakannya. Keseriusan tersebut tentunya bisa dilihat secara nyata bila pemerintah daerah berani mengeluarkan regulasi sebagai payung hukum dalam pembinaan dan pemberdayaan qari/qariah.

Selama ini para juara MTQ sering terkatung-katung dan terlunta-lunta, bahkan tidak jarang muncul kesan meraka hanya "dibutuhkan saat diperlukan". Sekali lagi kondisi seperti ini tidak boleh terus menerus terjadi, bila kita menginginkan Aceh carong. Semoga ke depan nilai-nilai Alquran akan terus terpancar dalam setiap aspek kehidupan masyarakat Aceh, dan menjadikan Aceh negeri yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur. Wallahu a'lam.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved