Sabtu, 13 Juni 2026

Aceh Hebat

Dari Rumah Singgah Hingga Pengembangan RSUDZA

kehadiran rumah singgah untuk keluarga pasien yang menjalani pengobatan di rumah sakit itu sudah dinantikan sejak dulu

Tayang:
Editor: Muhammad Hadi
Serambinews.com/Muhammad Hadi
Rumah Singgah Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin, Kamis (26/9/2019) 

Laporan Muhammad Hadi | Banda Aceh

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Sebuah gedung megah berlantai dua berdiri tegak di belakang Rumah Sakit Umum Daerah dr Zainoel Abidin (RSUDZA). Beberapa orang dan petugas RSUDZA terlihat sedang berbicara di teras pada Kamis (27/9/2019) sore. Ada juga yang lalu lalang keluar masuk gedung tersebut.

Serambinews.com yang datang menyapa pria dan wanita yang duduk santai di teras gedung tersebut. Ternyata mereka penghuni sementara gedung yang bernama Rumah Singgah RSUDZA. Langsung terlibat dalam pembicaraan dengan orang-orang yang ternyata dari berbagai daerah di Aceh.

Mereka orang-orang daerah yang mendampingi pasien atau pasien yang menunggu jadwal operasi dan berbagai keperluan medis lainnya, termasuk rawat jalan. Meski sedang sakit atau mendampingi keluarganya, terpancar wajah-wajah penuh bahagia dari orang-orang berbagai dari berbagai kabupaten/kota. Ternyata keberadaan rumah singgah ini yang membuat mereka tenang dan tak perlu bolak-balik ke daerahnya lagi. Apalagi mereka tidak ada keluarga atau saudara di Banda Aceh untuk menginap.

Misalnya Ilyas (70) dari Desa Cot Bada, Blang Blahdeh, Bireuen. Sang kakek mengaku sudah 16 hari mendampingi istrinya yang sakit kanker payudara. Sebelumnya sang istri didampingi oleh anak pertama yang tinggal di Sumatera Utara. Tapi saat berobat kali ini, anak perempuannya itu tak bisa mendampingi lagi karena ada urusan keluarga di provinsi tetangga.

Sedangkan dua anaknya lagi sudah meninggal dua. Ilyas mengisahkan bila anak keduanya yang wanita meninggal dunia karena musibah tsunami tahun 2004 lalu. Kemudian anak ketiganya yang laki-laki hilang semasa konflik Aceh berkecamuk. Ilyas pun harus mendampingi istri tercintanya.

"Rencananya satu minggu di sini, tapi setelah diperiksa, ternyata tidak bisa pulang dulu. Kalaupun boleh pulang tiga hari, lalu balik ke sini lagi tidak mungkin juga. Berapa biaya bolak-balik ke kampung. Untung ada rumah singgah sehingga sangat membantu sekali. Jadi tak perlu pulang ke kampung," ujar Ilyas saat menceritakan kondisinya memakai Bahasa Aceh.

Baca: Aceh Raih Juara Harapan I Inovasi TTG Nasional di Bengkulu

Fauziah dari Luengputu, Pidie Jaya mendampingi suaminya, Sofyan di teras Rumah Singgah RSUDZA, Kamis (26/9/2019)
Fauziah dari Luengputu, Pidie Jaya mendampingi suaminya, Sofyan di teras Rumah Singgah RSUDZA, Kamis (26/9/2019) (Serambinews.com/Muhammad Hadi)

Sedangkan Fauziah dari Luengputu, Pidie Jaya mendampingi suaminya, Sofyan. Sang suami sudah diamputasi kakinya akibat menjadi korban tsunami tahun 2004 lalu. Awalnya kedatangan mereka ke RSUDZA untuk kontrol saja. Tapi oleh dokter tak diizinkan pulang dulu karena butuh perawatan lanjutan. "Alhamdulillah kami bisa menginap di rumah singgah ini," kata Fauziah.

Keberadaan Rumah Singgah RSUDZA juga sangat membantu keluarga Nur Athiah dari Nisam, Aceh Utara. Ibu dari empat anak ini mendampingi suaminya karena menderita saluran kencing. Suaminya Marzuki harus mendapatkan perawatan lebih lanjut. Nur pun harus mencurahkan perhatian untuk suaminya dan empat anaknya yang masih usia sekolah.

"Kalau kami pulang ke Nisam, jauh lagi masuk ke pedalaman. Kami sangat terbantu dengan adanya rumah singgah ini. Tempatnya bagus, nyaman, bersih dan sangat tenang tinggal di sini. Kami bahagia sekali tinggal di sini untuk sementara dan dekat lagi dengan rumah sakit. Dokter dan adek-adek perawat ini juga ramah-ramah dan baik-baik sekali," ujar Nur sambil memegang bahu wanita disampingnya yang berpakaian dinas RSUDZA.

Para wanita dan pria yang menjadi penghuni sementara Rumah Singgah RSUDZA juga membenarkan pendapat Nur. Beberapa orang yang lalu lalang saat ditanyakan asal dan siapa yang sakit juga menjelaskan secara detil. Misalnya Yusmanizar dari Sabang yang mendampingi adiknya untuk operasi batu karang. Kemudian Nur Habibah dari Aceh Barat mendampingi anaknya yang sakit jantung.

Kabar bahagia lainnya yang disampaikan para wanita dan pria dari berbagai daerah, yaitu mennginap di Rumah Singgah RSUDZA gratis atau tidak dipunggut biaya apapun. Bahkan para pasien atau keluarga pasien yang mendampingi selama menginap di Rumah Singgah RSUDZA juga mengaku diberi makan nasi siang gratis. "Walau satu waktu di kasih nasi sangat membantu sekali. Kalau kita beli di luar Rp 15 ribu juga satu bungkus nasi. Untuk berobat pun di sini gratis," ujar Fauziah.

Kepada Serambinews.com, petugas dari RSUDZA membenarkan gratis menginap di RSUDZA. Bahkan memberi makan nasi siang untuk pasien dan pendampingnya. Sebenarnya ini bukan kewajiban dari RSUDZA, tapi dilakukan semata-mata untuk membantu pasien dan pendampingi dari berbagai daerah di Aceh.

"Kebanyakan yang menginap di Rumah Singgah RSUDZA dari berbagai daerah di Aceh. Ada dari Aceh Tamiang, Aceh Singkil, Aceh Barat, Langsa, Aceh Tenggara, Pulo Aceh dan berbagai kabupaten/kota lainnya. Memang kita kasih bantuan nasi, walaupun satu waktu, tapi sangat terbantu. Kita doakan semoga diberi kemudahan nasi sampai 3 waktu. Kalau ada yang ingin menyumbang nasi untuk orang-orang ini boleh juga. Karena selama ini ada juga yang membantu nasi siang," jelas seorang petugas RSUDZA.

Baca: Pemerintah Aceh dan Kemenko Perekonomian Bersinergi Tingkatkan Produksi Kopi dan Kakao

Petugas RSUDZA juga menjelaskan tentang interaksi mereka dengan pasien dan keluarga pasien, termasuk kondisi di Rumah Singgah RSUDZA dengan berbagai fasilitas yang sangat membantu bagi pasien yang berasal dari daerah. Lantai satu untuk wanita dan lantai dua ditempati pria. Untuk tempat tidur dibuat dua ranjang, atas dan bawah. Untuk bawah diperuntukkan kepada pasien, dan atas kepada pendamping. Kadang hanya keluarga pasien saja yang meninap di sini, karena pasiennya sedang dirawat di rumah sakit.

Tapi kalau pasien wanita dan yang mendampingi pria atau sebaliknya, maka satu orang di lantai 2 dan satu lagi meninap di lantai 1. Untuk berbagai keperluan kepada pasien dibantu 24 jam oleh petugas RSUDZA dan tetap berkoordinasi dengan pendamping pasien. "Jadi kami selalu siap melayani orang-orang ini. Karena kasihan saudara-saudara kita yang datang jauh dari berbagai daerah," ujarnya.

Karena senasib bertemu di Rumah Singgah RSUDZA, para pasien dan keluarga pasien sudah saling kenal seperti saudara dekat walaupun berbeda daerah dari kabupaten/kota di Aceh. Beberapa pasien yang bisa bergerak karena sedang rawat jalan dan pendampingnya memilih bersantai di teras Rumah Singgah RSUDZA.

Mereka juga sudah mendapatkan jadwal untuk berbagai keperluan pemeriksaan dengan para dokter spesialis. Bagi yang sudah tuntas boleh pulang ke daerah masing-masing dengan meninggalkan kesan dan saudara baru di Rumah Singgah RSUDZA.   

Diresmikan Plt Gubernur Aceh 

Plt. Gubernur Aceh Nova Iriansyah didampingi Direktur RSUZA Banda Aceh, Dr dr Azharuddin SpOT K-Spine meresmikan Rumah Singgah usai meresmikan Rumah Singgah Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin, Kamis (11/4/2019).
Plt. Gubernur Aceh Nova Iriansyah didampingi Direktur RSUZA Banda Aceh, Dr dr Azharuddin SpOT K-Spine meresmikan Rumah Singgah usai meresmikan Rumah Singgah Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin, Kamis (11/4/2019). (Humas Pemerintah Aceh)

Rumah Singgah RSUDZA diresmikan langsung oleh Plt Gubernur Aceh, Nova Iriansyah, Kamis (11/4/2019). Fasilitas yang dimiliki, yaitu 132 tempat tidur (bed), dengan rincian 68 bed untuk laki-laki (lantai 2) dan 64 bed untuk perempuan (lantai I), serta dilengkapi toilet dan tempat cuci pakaian. Keluarga yang memiliki pasien di ICU, akan mendapat informasi mengenai perkembangan pasien.

Plt Gubernur Aceh mengatakan, mengatakan, kehadiran rumah singgah untuk keluarga pasien yang menjalani pengobatan di rumah sakit itu sudah dinantikan sejak dulu. Pemerintah Aceh berinisiatif membangun Rumah Singgah yang lokasinya cukup dekat dengan RSUDZA.

Lokasinya sangat dekat dengan RS Jiwa, atau sekitar 3 menit jalan kaki kalau menuju RSUDZA. Fasilitas tersebut diprioritaskan kepada keluarga pasien JKA atau BPJS kelas 3, dimana yang diizinkan menginap hanya satu orang untuk setiap pasien. Keberadaan Rumah Singgah ini sangat dibutuhkan, terutama oleh mereka yang datang dari luar kota.

"Kalau harus menginap di hotel atau penginapan, tentu agak berat karena butuh biaya yang mahal. Lokasi yang dekat itu tentu akan memudahkan keluarga untuk mendampingi pasien yang menjalani perawatan di rumah sakit ini. Dengan demikian, beban keluarga akan lebih ringan, sehingga pendampingan yang diberikan bisa lebih maksimal," harap Nova Iriansyah.

Baca: Plt Gubernur Aceh Ajak Pengurus Kadin Aceh Tekan Angka Kemiskinan dan Inflasi

Plt. Gubernur Aceh Nova Iriansyah didampingi Direktur RSUZA Banda Aceh, Dr dr Azharuddin SpOT K-Spine meninjau kamar tidur Rumah Singgah usai meresmikan Rumah Singgah Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin, Kamis (11/4/2019).
Plt. Gubernur Aceh Nova Iriansyah didampingi Direktur RSUZA Banda Aceh, Dr dr Azharuddin SpOT K-Spine meninjau kamar tidur Rumah Singgah usai meresmikan Rumah Singgah Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin, Kamis (11/4/2019). (Humas Pemerintah Aceh)

Direktur RSUZA Banda Aceh, Dr dr Azharuddin SpOT K-Spine mengatakan, selain melengkapi rumah singgah dengan tempat tidur, kursi, dan loker, pihaknya juga menyediakan satu mobil untuk operasional. "Rumah singgah ini akan dikelola seperti hotel, ada check in dan check out, serta berlaku syarat dan ketentuan untuk menjadi penghuni rumah singgah dalam jangka waktu tertentu," katanya.

Azharuddin berharap dengan adanya fasilitas rumah singgah, ke depan tumpukan keluarga pasien di lantai dan koridor rumah sakit, terlebih di sekitar ICU, dapat berkurang. "Kami berharap ini menjadi layanan unggulan dari JKA Plus. Mohon dukungan masyarakat untuk menjaga dan merawat fasilitas ini demi kenyamanan bersama," timpalnya.

Pengembangan RSUDZA

RSUDZA terus membenahi berbagai sektor mulai dari pelayanan hingga fasilitas. Rumah sakit pemerintah Aceh ini juga sudah mendapatkan berbagai sertifikasi dan akreditasi. Meraih Akreditasi Paripurna lima bintang yang diberikan SNARS (Standar Nasional Akreditasi Rumah Sakit). Kemudian meraih prestasi tertinggi untuk pelayanan kesehatan level nasional, predikat 'Best of The Best' atau terbaik dari terbaik untuk kategori RSUD.

RSUDZA juga telah mendapatkan sertifikasi sebagai Rumah Sakit Syariah dari MUKISI (Majelis Upaya Kesehatan Islam Seluruh Indonesia). Baru-baru ini RSUDZA juga sudah mendapatkan sertifikasi level internasional ISO 9001;2015 untuk enam unit pelayanan. Bahkan RSUDZA sedang dalam proses mendapatkan akreditasi bertaraf internasional dari JCI (Joint Commission International) yang dijadwalkan akhir tahun 2019 ini.

Baca: Dyah Erti Idawati, Intens Bina Petani Tiram

Untuk meningkatkan pelayanan dengan berbagai fasilitas lengkap. RSUDZA kini berpacu untuk pengembangan berbagai fasilitas terlengkap dan modern di areal rumah sakit lama. Pengembangan RSUDZA kali ini dilakukan dengan skema Kerja sama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU).

Plt Gubernur Aceh, Nova Iriansyah telah menandatangani perjanjian pelaksanaan fasilitas dan pendampingan transaksi pada proyek KPBU pembangunan RSUDZA dengan PT Penjaminan Infrastruktur Indonesia (PII) pada 8 Januari 2019. Ini berarti pembangunan RSUDZA merupakan proyek pertama di Aceh yang menggunakan KPBU.

“Jika hanya bergantung dengan skema APBA, maka tidak akan terjadi percepatan pembangunan, dan kemandirian akan menjadi fatamorgana semata. Kalau kita hanya terpaku dengan stimulan anggaran yang normatif, maka mengelola dan memelihara infrastruktur yang ada saja akan sulit,” kata Plt Gubernur Aceh.

Sedangkan Direktur RSUZA Banda Aceh, Dr dr Azharuddin SpOT K-Spine sangat berterima kasih atas komitmen dan dukungan semua pihak untuk pembangunan rumah sakit. Menurutnya, Aceh harus bangkit, harus kreatif, inovatif, berfikir out of the box agar lebih cepat maju dan berkembang.

Azharuddin menjelaskan, pembangunan gedung rumah sakit yang lengkap membutuhkan biaya yang besar. Bahkan tidak ada dana yang tersedia secara cukup dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh (APBA) maupun Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). “Kami apresiasi dan berterima kasih kepada Pemerintah Aceh yang mau membangun rumah sakit dengan sistem KPBU,” ujar Azharuddin.

Wakil Direktur Penunjang Medis RSUDZA dr Fakhrul Rizal MM.Kes juga menjelaskan tentang skema KPBU untuk pengembangan rumah sakit. Karena Plt Gubernur Aceh Nova Iriansyah sudah menandatangani kontrak perjanjian pelaksanaan skema KPBU antara Pemerintah Aceh dengan Dirjen Keuangan RI.

"Jadi telah disepakati antara kedua pihak tentang pembiayaan dana investasi untuk pembangunan pusat layanan unggulan (Center of Excellence) itu ada enam gedung yang terpadu dan terintegrasi. Pertama, Pusat Traumatologi, kemudian Pusat Jantung Terpadu, Bedah Terpadu, Ginjal Terpadu, Mata Terpadu, dan parkir," ujar kata dr Fakhrul Rizal kepada Serambinews.com di ruang kerjanya.

Baca: Aceh Besar Juara Umum, Sekda Tutup MTQ

Wakil Direktur Penunjang Medis RSUDZA dr Fakhrul Rizal MM.Kes
Wakil Direktur Penunjang Medis RSUDZA dr Fakhrul Rizal MM.Kes (Serambinews.com/Muhammad Hadi)

Nantinya, kata dr Fakhrul Rizal, ada penambahan private wing, seperti RSCM Kencana di Jakarta. Memang ini merupakan terobosan baru dan RSUDZA sebagai garda terdepan untuk pembangunan enam pusat terbaik yang ada di Aceh. Karena ini untuk mengupayakan jangan sampai masyarakat Aceh harus berobat ke Penang atau ke luar negeri dan luar daerah. 

"Kita sedang mengupayakan fasilitas yang terlengkap dan luar biasa dalam pengembangan RSUDZA ini dengan skema KPBU. Sehingga bisa langsung menangani warga Aceh yang berobat ke RSUDZA. Nantinya warga Aceh benar-benar terlayani dengan baik dan tak perlu memikirkan lagi berobat ke luar negeri. Karena di daerah sendiri sudah bisa ditangani," kata dr Fakhrul Rizal yang juga Ketua DPD Lembaga Anti Narkotika (LAN) Provinsi Aceh.

Terkait dengan berapa lamanya pembangunan itu, dr Fakhrul Rizal mengatakan, prediksinya mungkin tiga tahun sudah bisa operasional. Karena dihitung dalam time scedulnya setahun dua tahun gedung dan pemasangan alat-alat yang dibutuhkan bakal tuntas. Maka sekitar tahun 2023 fasilitas baru yang dibangun di RSUDZA lama itu sudah bisa operasional. "Kita harapkan Pusat Layanan Terpadu itu sudah bisa digunakan pada 2023 untuk melayani masyarakat Aceh dan warga luar daerah yang berobat ke RSUDZA," harap dr Fakhrul Rizal.

Serambinews.com juga mendapatkan penjelasan Ir Sunawardi Desky M.Si. Sebelumnya ia menjabat sebagai Kepala Biro Administrasi Pembangunan Pemerintah Aceh dan sangat intens mengikuti tahap demi tahap proses pembangunan RSUDZA melalui skema KPBU hingga ke Jakarta. Kini Ir Sunawardi yang dipercaya menjadi Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Aceh (Kalak BPBA).

Sunawardi mengatakan, pemenerintah dibolehkan membangun suatu proyek pemerintah dengan cara dibiayai oleh pihak ketiga, tetapi mekanismenya itu dibantu oleh Kementerian Keuangan RI. Kebetulan RSUDZA ini difasilitas oleh PT PII yang merupakan salah satu BUMN dibawah Kementerian Keuangan RI. "Kita alhamdulillah untuk RSUDZA ini sudah melalui berbagai tahap, 10 tahap dari 11 langkah yang menuju sampai selesainya perjanjian itu," ujarnya.

Kalau ditanya apa keuntungan, Sunawardi menjelaskan tentu ada keuntungannya bahwa membangun sebuah infrastruktur tanpa mengerus APBA. Jadi Aceh dapat membangun RSUDZA, tapi tidak mengurangi APBA. Kalau dilihat khusus untuk RSUDZA ini bangunan fisik, manajemen rumah sakit dengan peralatannya bisa memakan biaya sampai Rp 4 triliun lebih. "Kita membuat surat perjanjian dengan BUP (Badan Usaha Pelaksana) yang nanti pihak ketiga yang masuk mendapat tender itu sekita 17 tahun dengan dua tahun proses pembangunan," jelasnya.

Apa kelebihan lagi dengan cara ini, menurut Sunawardi, Aceh membeli layanan bahwa setelah itu perjanjian 15 tahun ke depan, bangunan harus berfungsi normal, manajemennya berjalan, alatnya tidak boleh rusak. Untuk tiga hal ini dengan volume pengembalian yang disepakati itu rasanya tidak rugi. Tiga keunggulan inilah yang menjadi prasyarat untuk masuk ke BLUD (Badan Layanan Umum Daerah) yang masuk ke skema KPBU.

Baca: Hasil Liga Italia - Ronaldo Cetak Gol, Juventus Bungkam SPAL

Tambah satu lagi bahwa di Aceh itu minta pola syariah, dimana pinjaman untuk Aceh itu masuk pola syariah dan ini pertama di Indonesia. "Kita sampai sudah ke dewan syariah MUI, mereka memulai belajar bagaimana sistim pinjaman dengan pola syariah. Sesuai dengan syariat Islam yang berlaku di Aceh, pola pinjaman kita juga secara syariah," ujarnya.

Ketika fiskal Aceh tidak tergerus, ini luar biasa manfaatnya. Kondisi RSUDZA hari ini ada yang berobat lebih 2.000 orang per hari dengan parkir yang luar biasa. Kamar operasi bisa untuk digunakan untuk umum cuma enam dari delapan yang dimiliki, dan dua kamar operasi khusus. Tahun ini memang dari APBA bisa ditambah tiga kamar operasi, tapi itu tidak cukup, kenapa? Karena sekarang orang yang antre untuk operasi di rumah sakit perlu waktu 3 bulan.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Aceh (Kalak BPBA), Ir Sunawardi Desky M.Si
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Aceh (Kalak BPBA), Ir Sunawardi Desky M.Si (Serambinews.com/Muhammad Hadi)

"Sumber daya kita luar biasa, kita satu-satunya rumah sakit pemerintah daerah yang memiliki sumber daya yang paling besar se-Indonesia. Akreditasi kita sudah tingkat internasional. Kalau tingkat nasional kita sudah paripurna itu. Sumber daya bagus, akreditasi baik, tapi kita tidak cukup ruang untuk sumber daya kita yang besar ini demi melayani masyarakat. Kita butuh tempat, sehingga rumah sakit yang ini, hospital yang akan terbangun nanti, itu akan menambah 20 kamar operasi, ditambah dengan 30 lebih poliklinik baru, lebih 600 tempat tidur baru dan membangun satu tempat parkir khusus," ujarnya.

Apa yang menguntungkan di sini, menurut Sunawardi, peralatannya baik, dokter ada, rumah sakit manajemen baik, sistem syariah, juga nanti berlaku di rumah sakit baru ini pola syariah juga. Dokter perempuan melayani pasien perempuan, kecuali hal-hal tertentu yang memang dibutuhkan. Ini sejalan juga, onkologi sudah jalan multiyers. Onkologi itu didorong dari APBA. "Onkologi jalan, semua layanan di rumah sakit ini jalan. Saya yakin di dua tahun atau tiga tahun yang akan datang, kita memiliki layanan untuk masyarakat luar biasa," ujarnya.

Kondisi fiskal Aceh, kata Sunawardi, cukup dan ini izin-izinnya sudah bukan hanya dari daerah saja, Tapi Bappenas (Badan Perencanaan Pembangunan Nasional) dan Kemendagri (Kementerian Dalam Negeri) sudah keluar. Nah yang perlu juga disimpulkan di sini, jika tidak mampu atau hal sesuatu terjadi di Aceh nanti atau force majeure tidak mampu membayar talangan. Maka sudah ada jaminan Kementerian Dalam Negeri dan Kementerian Keuangan untuk menalanginya. "Jadi kita tidak perlu khawatir di sini. Banyak orang kan khawatir kalau kita tidak bisa bayar bagaimana. Nah inilah lebihnya KPBU yang dibeli itu adalah layanan," ujarnya.

Baca: BAZIS RSUDZA Bantu Keluarga Pasien Tumor dari Simeulue

Dikatakan Sunawardi, RSUDZA ini tipe A dan pemerintah membangun rumah sakit regional tipe B yang sudah dicanangkan. Maka rumah sakit RSUDZA ini menjadi pusat rujukan. Dokter di Aceh sub spesialis dan spesialis ada 204 di RSUDZA, lebih dari 100 dokter umum. Berapa pelarian kapital Aceh bila rakyat berobat ke Penang Malaysia, berapa lari ke Medan Sumatera Utara, dan berapa lari ke Jakarta. "Mereka semua itu tenaga Aceh, kalau ini tidak kita beri ruang mereka untuk bekerja melayani rakyat Aceh, orang lain akan ambil, mereka hebat-hebat sub spesialis," ujarnya.

Untuk pusat rujukan ini nanti, kata Sunawardi, bahkan dibangun dengan adanya helipad (tempat pendaratan helikopter) di atas.  Sehingga jika ada emergency dari daerah mendarat langsung di rumah sakit RSUDZA. Ini sesuatu yang luar biasa sekali dan boleh dibilang berkah bagi rakyat Aceh dan semuanya harus mendukung.

Dokter Spesialis Bedah Onkologi RSUDZA, dr Noer Faisal Darmi Sp.B(K)Onk
Dokter Spesialis Bedah Onkologi RSUDZA, dr Noer Faisal Darmi Sp.B(K)Onk (Dok Pribadi)

Sedangkan Dokter Spesialis Bedah Onkologi RSUDZA, dr Noer Faisal Darmi Sp.B(K)Onk sangat mendukung pengembangan fasilitas rumah sakit termasuk tuntasnya pembangunan Gedung Ongkologi Center. Sehingga dengan fasilitas lengkap membuat orang luar Aceh yang berobat ke Tanah Rencong. "Tapi apa salahnya kita punya perspektif orang dari luar datang ke sini untuk minta pelayanan itu. Kita tidak hanya melihat perpindahan pasien, tapi juga perputaran ekonomi," ujarnya.

Ditambahkan dr Noer, coba bayangkan orang luar daerah katakanlah bukan tidak mungkin orang dari Pekanbaru bisa datang ke sini, orang dari Medan dan Padang bisa datang ke sini. Kalau sebelumnya orang Aceh itu kosnya di Medan, sekarang gilirannya orang Pekanbaru dan orang Padang kosnya di sini. "Sehingga ada yang namanya efek domino, artinya bahwa kita menggerakkan satu dan yang lainnya juga ikut bergerak. Itu harapan saya seperti itu," ujarnya.(*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Grup B - Matchday 1
Sabtu, 13 Juni 2026 | 02:00 WIB
Canada
Kanada
1 - 1
Bosnia
Bosnia
Grup D - Matchday 1
Sabtu, 13 Juni 2026 | 08:00 WIB
United States
Amerika Serikat
VS
Paraguay
Paraguay
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved