Salam

Ini Tentang Wanita yang Dilarang Keluar Malam  

Bupati Aceh Utara, H Muhammad Thaib, mendukung surat edaran Forum Silaturahmi Organisasi Kemasyarakatan (Ormas) se‑Aceh Utara

Ini Tentang Wanita yang Dilarang Keluar Malam   
SERAMBINEWS.COM/JAFARUDDIN
Bupati Aceh Utara, H Muhammad Thaib 

Bupati Aceh Utara, H Muhammad Thaib, mendukung surat edaran  Forum Silaturahmi Organisasi Kemasyarakatan (Ormas) se‑Aceh Utara, yang salah satu isinya menyebutkan perempuan dilarang keluar rumah pada malam hari bila tak didampingi mahram (suami atau saudara)‑nya. Dalam edaran itu, anak‑anak yang usianya belim lebih 17 tahun juga dilarang keluar rumah pada malam hari dan tidak boleh berada di luar sekolah saat jam belajar pada siang hari. ASaya bersama unsur forkompimda ikut serta pada deklarasi surat edaran tersebut,@ kata Bupati yang akrab disapa Cek Mad itu.

Edaran dari forum ormas itu dideklarasikan di Masjid Agung Baiturrahim, Lhoksukon, Aceh Utara, 10 Juli lalu. Edaran dimaksud hanya berisi dua poin. Pertama, anak‑anak yang  berusia belum lebih 17 tahun tidak dibernarkan berada di luar rumah pada malam hari tanpa didampingi orang tua atau wali. Anak‑anak di bawah umur itu juga dilarang berada di luar sekolah atau luar rumah pada jam belajar tanpa didampingi orang tua/wali. Kedua, kaum perempuan tidak dibenarkan Aberkeliaran@ di luar rumah pada malam hari tanpa didampingi suami atau mahramnya.

ASaya sangat mendukung agar surat edaran yang sudah dideklarasikan itu disosialisasikan kepada masyarakat. Saya berharap muspika di semua kecamatan aktif terlibat membantu kegiatan sosialisasi edaran tersebut bersama dinas terkait,@ kata Bupati.

Ketua Tastafi Aceh Utara, Waled Sirajuddin, menyatakan surat edaran itu sudah ditandatangani  Bupati Aceh Utara, Muhammad Thaib, dan Kapolres AKBP Ian Rizkian Milyardin, dan Dandim Letkol Inf Agung Sukoco SH. AInsya Allah dalam beberapa ke depan kami ingin bertatap muka dengan semua kepala sekolah untuk dapat bekerja sama dalam menertibkan anak‑anak usia remaja agar waktunya tidak terbuang. Kita juga menyarankan kepada seluruh keuchik agar menerapkan qanun gampong sehingga nanti akan tertib,@ ujar Waled yang pada akhirnya berharap isi edaran itu menjadi Peraturan Bupati (Perbup) Aceh Utara.

Larangan remaja keluar rumah pada malam hari serta tidak berada di luar sekolah pada jam belajar siang hari, pastilah menjadi point yang tidak banyak dipermasalahkan. Artinya, mayoritas orang menyetujui jika itu menjadi aturan semacam Perbup atau qanun.

Akan tetapi, yang paling ramai mendapat tanggapan pro dan kontra tentu point nomor dua yang melarang wanita keluar rumah pada malam hari tanpa didampingi mahramnya. Edaran itu memang masih berupa seruan. Artinya diharapkan semua orang mematuhi. Namun, tidak ada sanksi formal bagi mereka yang tak mematuhinya.

Perbincangan tentang larangan keluar malam bagi wanita, dalam dua pekan terakhir memang sadang sangat hangat di media sosial Indonesia. Berawal dari kabar yang menyebutkan Rancangan Kita Undang‑undang Hukum Pidana (RKUHP) ada pasal yang menyebutkan wanita dilarang beraktivitas di luar rumah pada malam hari. Setelah begitu ramai diperbincangkan, akhirnya ada yang mengatakan bahwa itu hoaks.

Berbicara tentang aturan bagi wanita di Aceh tentu konteksnya adalah muslimah. Beberapa tahun lalu, ketika hal ini isu bergelinding di Banda Aceh, tanggapan pro dan kontra juga sangat ramai.  Dibahas hingga oleh pers luar negeri. Terutama dalam konteks hak azasi manusia (HAM).

Tapi memang hingga kini di Aceh belum ada kabupaten atau kota yang secara konkret menerapkan larangan wanita Aberkeliaran@ di luar rumah pada malam. Aturan‑aturan yang  diterapkan seperti ragu‑ragu. Ada yang hanya konsen di pakaian yang tak boleh ketat, Ada yang melarang wanita kongkow‑kongkow di warung kopi, dan semacamnya. Jadi masih terpilah‑pilah.

Namun, seorang wanita ulama Indonesia, dulu pernah ditanyai soal larangan wanita berkegiatan di luar rumah pada malam hari. Meski ada banyak referensi yang dibacanya, tapi ia tidak menyimpulkan secara tegas dalam jawabannya karena ia tahu hal itu masih sangat debatable. Ia hanya mengingatkan, wanita yang keluar rumah pada malam hari wajib meminta izin kepada orangtua atau suami. Itu pun jika kepergiannya dirasa aman. Akan tetapi, bila kepergiannya mencemaskan, maka alangkah baiknya ditemani mahramnya, seperti ayahnya, kakaknya, saudaranya, atau suaminya. Atau sebaiknya memilih tidak keluar rumah. Ini dimaksudkan supaya tidak terjadi sesuatu yang buruk pada wanita yang keluar malam hari dan tidak menjadi bahan gunjingan masyarakat.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved