Salam

Kita Prihatin, Pasien Jantung Meninggal Dalam Penantian

Dalam beberapa tahun terakhir, setiap hari Rumah Sakit Umum Zainoel Abidin (RSUZA) Banda Aceh menerima rujukan

Kita Prihatin, Pasien Jantung Meninggal Dalam Penantian
Dr dr Azharuddin Sp.BO, K-Spine, FCS

Dalam beberapa tahun terakhir, setiap hari Rumah Sakit Umum Zainoel Abidin (RSUZA) Banda Aceh menerima rujukan 5-10 pasien jantung dan kanker dari RSU kabupaten/kota di Aceh. Karena RSUZA hanya memiliki satu unit cath lab, sehingga pasien harus menunggu antrean dalam jangka waktu enam hingga 12 bulan untuk mendapat layanan. Maka, dari ribuan pasien yang masuk dalam daftar tunggu panggilan dari RSUZA, beberapa di antaranya ada yang meninggal dunia dalam masa penantian.

Direktur RSUZA, Dr dr Azharuddin Sp.BO, K-Spine, FCS mengatakan, Pemerintah Aceh sudah mengalokasikan anggaran tambahan senilai Rp 148 miliar untuk RSUZA dalam APBA Perubahan 2019. Dana itu untuk membeli sejumlah peralatan medis yang sangat dibutuhkan dokter spesialis guna melayani pasien. Salah satunya adalah penambahan cath lab atau laboratorium kateterisasi jantung.

Satu unit cath lab yang dimiliki RSUZA saat ini, tidak cukup untuk menangani jumlah pasien penyakit jantung yang masuk ke RSUZA. Cath lab ini sangat dibutuhkan, terutama untuk menolong masyarakat yang terkena serangan jantung dadakan. Melalui alat itu, dokter spesialis jantung bisa melihat kondisi jantung pasien, apakah tersumbat, terjadi penyempitan, atau pelebaran pada pembuluh darah.

Alat ini bisa digunakan sebagai pertolongan pertama bagi penderita penyakit jantung. Juga bisa dimanfaatkan dalam tindakan pemasangan alat picu jantung sementara maupun permanen, dan penyadapan jantung untuk melihat adanya kelainan jantung bawaan.

Yang paling tentu saja, dengan adanya penambahan alat itu jumlah antrean pasioen jantung bisa dperpendek. Jika sebelumnya harus menunggu dari enam sampai 12 bulan, maka kelak kita harap cuku satu sampai tiga bulan saja masa penantian pasien.

Bagi Aceh, ketersediaan dokter-dokter ahli jantung dan kelengkapan paralatan kedokteran untuk melayani pasien sakit jantung adalah hal yang mutlah bagi Aceh. Sebab, kita tahu bahwa daerah ini memiliki catatan buruk tentang penyakit jantung, yang kabarnya pernah memiliki catatan paling tinggi di Indonesia.

Dokter Zaini Abdullah saat masih menjabat Gubernur Aceh malah menuding para perokok sebagai biang keladinya. "Faktor paling utama adalah perokok‑perokok berat. Mohon besok ditulis besar‑besar (larangan merokok), agar tidak ada yang merokok," kata Zaini. Tentu saja, rokok bukan satu‑satunya faktor pemicu penyakit jantung dan pembuluh darah. Zainil menyebut, gaya hidup dan pola makan yang tidak sehat sebagai penyebab lainnya.

Sebagai daerah yang kasus penyakit jantung tertinggi di Indonesia, dalam beberapa tahun terakhir, setiap bulan, RSUZA menangani rata‑rata 60 pemasangan ring jantung, 30 bedah jantung, dan 30 kasus kelainan jantung bawaan pada anak. Ini adalah angka yang sangat menakutkan dan memprihatinkan bagi RSUZA yang kekurangan alat.

Hal penting yang juga harus diingat, penyakit jantung saat ini semakin bergeser ke usia muda. Catatan di sejumlah rumah sakit spesialis penyakit jantung, ada beberapa pasien usia produktif yakni 30‑40 tahun sudah terkena penyakit jantung. Kini semua faktor resiko penyakit jantung menghantui generasi muda. AMisalnya saat ini ada budaya mager alias males gerak. Lapar tinggal pesan online. Lalu makanannya tinggi GGL yakni Garam Gula Lemak. Diabetes, hipertensi, dan rokok ini faktor risiko penyakit jantung yang paling banyak. Ini semua temannya penyakit jantung, saudaranya. Kalau punya riwayat ketiganya berisiko kena sakit jantung,@ kata pejabat Kementerian Kesehatan RI yang juga ahli penyakit jantung.

Satu penelitian di Inggris menyebutkan, banyak penduduk dewasa tidak menyadari faktor risiko penyakit jantung. Hanya 2% yang takut akan penyakit jantung koroner. Di Inggris saja, satu dari sepuluh penduduk dewasanya mengakui tidak tahu cara memelihara kesehatan jantung mereka.

Dan, mungkin di Aceh angkanya bisa lebih ekstrem lagi. Oleh sebab itu, kita berharap pemerintah jangan bosan-bosan mensosialisasikan kepada masyarakat cara-cara hidup sehat, khususnya memelihara jantung agar tetap sehat.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved