Jumat, 15 Mei 2026

Opini

Membangun SDM dengan Pendekatan Teknologi  

Adalah melegakan bahwa Pemerintah Jokowi-Ma'ruf Amin selama lima tahun kedepan ini memberi perhatian yang besar

Tayang:
Editor: bakri
IST
Profesor Emeritus Darwis A.Soelaiman, Direktur Pusat Studi Pendidikan dan Kebudayaan The Darwis Center, Banda Aceh 

Oleh Profesor Emeritus Darwis A.Soelaiman, Direktur Pusat Studi Pendidikan dan Kebudayaan The Darwis Center, Banda Aceh

Adalah melegakan bahwa Pemerintah Jokowi-Ma'ruf Amin selama lima tahun kedepan ini memberi perhatian yang besar kepada upaya membangun Sumber Daya Manusia, dalam arti peningkatan kualitasnya. Negeri ini kaya dengan jumlah SDM tetapi agak lemah dalam kualitasnya. Jumlah SDM yang besar tanpa kualitas yang tinggi akan lebih memberi beban kepada bangsa ketimbang membawa Indonesia menjadi bangsa yang maju, yang disegani oleh bangsa-bangsa di dunia.

Sudah hampir 75 tahun Indonesia merdeka dari penjajah, namun adalah kenyataan bahwa kualitas SDM-nya masih jauh berada di bawah kualitas SDM sejumlah negara yang juga pernah dijajah, seperti India, Malaysia, Vietnam, dan Philipina. Menteri Kemendikbud Muhajir mengatakan bahwa dalam hal mutu pendidian dan budaya literasi Indonesia ketinggalan 45 tahun.

Menurut penilaian lembaga studi PISA (2016), literasi siswa Indonesia berada pada peringkat 64 dari 72 negara. Minat baca rata-rata orang Indonesia menurut penilaian Unesco (2015) adalah antara 0-1 buah buku dalam setahun dengan durasi membaca 2 jam sehari, sedangkan negara maju rata-rata 7 buku selama 6-8 jam sehari.

Rendahnya budaya literasi bangsa Indonesia sudah tentu menimbulkan implikasi yang sangat kompleks dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa melalui pendidikan. Adalah tidak mungkin seseorang akan memiliki kecerdasan intelektual, spiritual, sosial, emosional dan kecerdasan lainnya yang handal, dan juga tidak mungkin mampu menguasai dan mengembangkan IPTEK, tanpa banyak membaca, terutama membaca buku. Bangsa yang memiliki budaya literasi rendah akan kalah dalam daya saing, dan tidak akan  pernah menjadi bangsa yang unggul.

Dilihat dari sudut daya saing ternyata menurut laporan FED (Forum Ekonomi Dunia) tahun 2016-2017, daya saing global Indonesia semakin merosot dari peringkat 37 menjadi 41 dari 138 negara. Kondisi lulusan pendidikan yang tidak berbasis talenta (bakat, minat, potensi) telah membuat daya saing tenaga kerja Indonesia sangat lemah. Laporan Institute of Management Development (IMD) di Swiss (World Talen Report 2015) menunjukkan bahwa dari 1.000 orang di Indonesia hanya 4,3% yang terampil (memiliki talenta yang handal), kalah dibandingkan Philipine (8,3%), Malaysia (32,6%), dan Singapura (34,7%).

Kondisi SDM Indonesia seperti dipaparkan di atas menjadi indikasi bahwa pekerjaan pendidikan kita masih terlalu kompleks untuk dapat dibenahi dengan cepat seperti yang diharapkan oleh Pemerintah Jokowi-Ma'ruf Amin, apalagi bila dipahami bahwa penilaian terhadap SDM tersebut adalah penilaian mengenai bagian-bagian dari sosok seorang SDM yang seutuhnya.

Pekerjaan pendidikan adalah mendidik manusia seutuhnya, (a total person) yaitu pribadi yang berkembang potensi jasmaniah dan rohaniahnya secara serentak dan seimbang; yang berkembang kecerdasan, keterampilan, dan akhlak/karakternya dengan sempurna; yang selalu menjaga dengan baik hubungannya dengan Tuhan, dengan sesama manusia dan dengan alam; dan yang selalu mau bertanggungjawab atas perbuatannya. Singkatnya adalah pribadi yang berkualitas dalam IPTEK dan IMTAQ.

Dalam kaitan ini saya kira patut diapresiasi kebijakan Presiden yang menyatukan kembali penyelenggaraan pendidikan tinggi dengan pendidikan dasar dan menengah, serta mengembalikan penyelenggaraan kebudayaan kepada Kementerian Pendidikan. Memisahkan urusan pendidikan tinggi dengan pendidikan dasar dan menengah memberi pengaruh kepada upaya mendidik pribadi seutuhnya secara berkesinambungan, sementara antara pendidikan dan kebudayaan pada dasarnya merupakan dua entitas yang tidak terpisahkan. Memisahkan keduanya dapat berimplikasi pada pemahaman generasi muda terhadap kebudayaan tidak sebagaimana mestinya.

Yang menjadi konsen masyarakat ialah bagaimana kinerja Kementerian Pendidikan dan Kebudayasan di bawah nakoda baru Nadiem Anwar Makarim yang diberi mandat utama oleh Presiden untuk membangun SDM Indonesia. Nadiem Makarim adalah seorang pemuda yang cerdas dan kreatif, yang berhasil dalam kegiatan bisnisnya di bidang digital, karena terbukti ia mampu menerapkan pengetahuannya di bidang tersebut. Tetapi ia tidak memiliki pengalaman dalam mengurus birokrasi, dan kurang memiliki pengetahuan dalam ilmu dan praktek pendidikan, namun ia mengatakan akan segera belajar dan mendengarkan pengalaman dari tokoh dan pakar pendidikan mengenai hal tersebut, termasuk ingin segera mengenal peta permasalahan lembaga yang dipimpinnya itu. Masyarakat juga ingin mengetahui sejauh mana ia mampu menerjemahkan visi dan misi Presiden Jokowi mengenai pengembangan SDM Indonesia dalam konteks tugas Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan secara keseluruhan.

Seperti diketahui bahwa SDM yang dimaksud oleh Presiden Jokowi adalah SDM kreatif yang siap pakai dan siap bekerja, yang dibina dengan pendekatan teknologi melalui link and match dengan dunia industri. SDM siap pakai sering dimaksudkan sebagai SDM yang terampil dalam melaksanakan tugas yang dibebankan kepadanya di tempat ia bekerja, atau yang mampu menciptakan lapangan kerja sendiri. Ini berarti bahwa SDM dimaksud tertuju untuk siswa tingkat pendidikan menengah umum dan kejuruan (SMA/SMK) dan mahasiswa perguruan tinggi jurusan profesi, dan tentu bukan untuk siswa tingkat pendidikan dasar (SD dan SLP).

Sebenarnya peran pendidikan dasar justru sangat penting dan menentukan dalam upaya membangun SDM yang handal. Kualitas pendidikan pada tingkat lanjutan sangat tergantung pada kualitas pendidikan tingkat dasar itu. Karena itu saya kira tugas utama Kemendikbud dalam hubungan dengan pembangunan pendidikan lima tahun ke depan ini, haruslah mencakup keseluruhan spektrum pendidikan, baik pendidikan umum maupun kejuruan, dengan mengutamakan peningkatan kualitas pengetahuan umum dan agama semua peserta didik, bukan hanya terfokus pada pembangunan SDM dalam arti siap pakai, yang pada era Menteri Pendidikan Wardiman gagasan SDM siap pakai ini sudah pernah dilaksanakan. 

Hal yang juga prinsipil, adalah mengenai pendekatan teknologi yang akan diterapkan dalam pendidikan, yang seperti dikatakan oleh Nadiem bahwa ia akan mengubah kebudayaan ke arah teknologi. Perlu diingat bahwa watak teknologi modern adalah mesin, dan sifat dari mesin adalah mekanistik. Bahaya dari sifat mesin yang mekanistik itu ialah bahwa ia dapat membuat manusia berwatak sebagai mesin, yang tidak lagi berkepribadian sebagai manusia atau terjadi proses dehumanisasi pada manusia. Pendidikan adalah proses humanisasi, proses memanusiakan manusia untuk menjadi sempurna kemanusiannya.

Karena itu tugas guru tidak bisa sepenuhnya diganti dengan teknologi. Teknologi yang berwatak mesin itu adalah alat bukan tujuan. Sebagai alat, teknologi digital yang sangat berpengaruh di era teknolgi informasi sekarang ini memang harus dipelajari oleh siswa, harus menjadi bagian dari kurikulum sekolah. Namun perlu dimaklumi bahwa komputer, handphone, dan berbagai produk teknologi informasi canggih yang dipakai oleh manusia dewasa ini, adalah mesin-mesin digital yang diprogramkan, yang ternyata di samping banyak kegunaannya, banyak pula bahayanya kalau tidak mampu menggunakannya dengan benar. Di sinilah perlunya bersikap arif dalam bersahabat dengan teknologi modern yang berpotensi dehumanisasi itu. Berbeda dengan teknologi tradisional yang masih bersifat alami dan manusiawi. Wallahualam.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved