Salam

Jangan Cuma Ingat Emas, Waspadai Juga Risikonya  

Seorang penambang emas mengatakan, ada tujuh lokasi aliran sungai yang menjadi tempat pencarian emas dalam kawasan hutan lindung itu

Jangan Cuma Ingat Emas, Waspadai Juga Risikonya   
DOK/ NYAK CUT
Warga mendulang emas secara tradisional di tepi sungai di kawasan pegunungan Geumpang, Pidie, Senin (11/11). 

Kawasan hutan Geumpang, Kabupaten Pidie, semakin ramai oleh para pencari emas. Setiap hari, ada seratusan penambang yang datang silih berganti, laki-laki maupun perempuan. Suasana perburuan emas itu kian ramai di musim setelah panen padi. Sebab, para pendulang emas secara tradisional itu adalah para petani dari Geumpang dan Tangse. 

Seorang penambang emas mengatakan, ada tujuh lokasi aliran sungai yang menjadi tempat pencarian emas dalam kawasan hutan lindung itu. Jaraknya cukup jauh dari pemukiman warga. “Jika kita berangkat pukul 07.00, tiba di lokasi sekitar pukul 13.00 WIB,” sebut Nurdin.

Mereka “mengeksploitasi” emas dengan tiga cara. Pertaman, mendulang menggunakan cobek besar terbuat dari kayu. Kedua, menyedot pasir sungai menggunakan mesin yang kemudian disaring menggunakan plastik khusus penyaring emas. Ketiga, menembakkan air ke karang atau batu yang diduga melekat butiran emas. Air hasil semprotan kemudian dialirkan ke dalam saringan.

Perburuan ini tak setiap hari berhasil. Tak jarang mereka pulang dengan tangan hampa. Tapi, kalau lagi beruntung, hasilnya bisa mencapai satu juta rupiah sehari. Ada juga di antara pemburu emas itu yang sudah membekali diri dengan makanan untuk bertahan di hutan itu berhari-hari.

Perburuan emas di kawasan Geumpang ini sudah dilakukan warga secara diam-diam sejak awal tahun 1980-an. Namun baru marak pada tahun 2008. Sudah banyak orang yang kaya dari hasil perburuan emas itu, Tapi, tak jarang juga yang celaka hingga kehilangan nyawa di lubang-lubang yang mereka gali untuk mendapat butiran logam mulia.

Jika mencari butiran-butiran emas hanya dilakukan masyarakat dengan cara yang sangat sederhana sebagai pekerjaan sambilan, tentu pemerintah tak perlu khawatir. Namun, jika itu dilakukan sampai menggunakan mesin, apalagi alat berat, tentu pemerintah dan aparat keamanan harus turun tangan.

Pertama karena itu di kawasan hutan lindung, kedua penggunaan mesin dan alat berat sudah pasti merusak lingkungan.  Membuat tanah rentan longsor serta nyawa penambangnya juga terancam, seperti yang sudah terjadi berkali-kali.

Sekali lagi kita ingin mengatakan sangat mendukung masyarakat mendulang emas dengan cara-cara tradisional yang tidak merusak dan mencemari lingkungan. Yang selalu ingatkan adalah jangan sampai masyarakat menggunakan merkuri atau zat kimia lainnya dalam proses menambang emas itu. 

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan melalui Direktorat Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah, Bahan Berbahaya dan Beracun (PSLB3) sudah sangat tegas menyatakan menghapus penggunaan merkuri oleh penambang emas skala kecil. Sebagai “kompensasinya”, pemerintah akan mengembangkan teknologi alternatif bebas merkuri. Bersamaan dengan itu, pemerintah juga akan melatih para penambang emas tradisional di daerah-daerah.

Di beberapa daeerah di Indonesia masyarakat sudah diperkenalkan cara mendapatkan emas secara tradisional tanpa menggunakan air raksa. Dan hasilnya ternyata melebihi dari cara-cara pencarian menggunakan zat-zat kimia berbahaya seperti merkuri atau air raksa.

Pemerintah harus terus- menerus mengampanyekan bahaya pengunaan air raksa dalam penambangan tradisional. Paparan air raksa berdampak sangat serius bagi tubuh manusia, dari keracunan hingga gangguan kesehatan permanen alias tidak dapat disembuhkan.

Mercuri dapat menyebabkan gangguan tidur, nyeri dada, iritasi, kulit terbakar, gusi bengkak dan berdarah, serta air liur berlebihan. Pada paparan lebih tinggi dapat memunculkan gejala mati rasa dan kesemutan, tremor dan gangguan koordinasi anggota gerak, penglihatan dan pendengaran berkurang, pikun, dan perubahan kepribadian.

Raksa juga dapat mengakibatkan cacat mental, kelumpuhan otak, kejang-kejang, lumpuh kayu, dan tremor (gemetar). Selain itu, air mercuri bisa terkandung dalam air susu ibu, yang mengakibatkan bayi baru lahir makin terpapar. Karena itu, ibu-ibu baru melahirkan, ibu-ibu hamil dan calon ibu hamil harus waspada bahaya air raksa. Nah!?

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved