SALAM SERAMBI

Cukup Sekali Bangkai Babi Risaukan Singkil

DALAM tiga hari terakhir warga Kota Subulussalam kemu­dian masyarakat Kabupaten Aceh Singkil dibikin repot, ri­sau, dan dongkol gara-gara

Cukup Sekali Bangkai Babi Risaukan Singkil
Dok. Vetor.
Bangkai babi terlihat hanyut di sungai belakang Desa Pasar, Singkil, Aceh Singkil, Kamis (14/11/2019). 

DALAM tiga hari terakhir warga Kota Subulussalam kemu­dian masyarakat Kabupaten Aceh Singkil dibikin repot, ri­sau, dan dongkol gara-gara sekitar 20 bangkai babi hanyut dan mencemari hulu hingga muara Sungai Singkil melalui Lae Soraya.

Bangkai-bangkai babi itu bikin heboh ketika pertama kali terlihat di Lae Souraya di sekitar Desa Gelombang, Kecamat­an Sulatan Daulat, Kota Subulussalam, Kamis, 14 November 2019 pagi.

Lalu sorenya bangkai-bangkai babi yang hanyut tersebut mulai terlihat mengapung di Sungai Singkil. Sungai ini meru­pakan sungai terpanjang di Aceh yang hulunya berada di Alas, Aceh Tenggara, dan terhubung dengan Sungai Dairi di Suma­tera Utara.

Karena sungai ini sangat panjang dan lebar, maka keber­adaan bangkai-bangkai babi tersebut berada dalam durasi lama di aliran Sungai Singkil. Ini jelas menjijikkan.

Apalagi, sungai tersebut merupakan sumber air minum bagi sebagian masyarakat Aceh Singkil yang bermukim di se­panjang daerah aliran sungai (DAS). Bahkan air baku Perusa­haan Daerah Air Minum (PDAM) Singkil juga bersumber dari sungai yang sama melalui anak sungai yang dinamakan Su­ngai Bengkolan.

Jadi, dapat dibayangkan betapa galaunya masyarakat Aceh Singkil begitu tahu air yang didistribusikan PDAM ke rumah-rumah mereka merupakan air dari sungai yang sudah terce­mar bangkai babi dalam tiga hari terakhir. Apalagi pemberita­an tentang itu gencar di media massa maupun media sosial.

Kemudian, terbetik pula kabar bahwa bangkai babi-babi ter­sebut merupakan babi yang mati massal di Kabupaten Dairi, Sumatera Utara, karena terjangkit kolera. Lalu dibuang pemi­liknya ke sungai. Bah, makin gawatlah.

Ada kesan, orang yang membuang bangkai-bangkai babi tersebut ke sungai seperti orang yang tak punya nalar sehing­ga tak terpikir olehnya bahwa tindakan pandirnya itu bakal mencemari sungai. Sedangkan air sungai itu digunakan un­tuk berbagai keperluan oleh masyarakat di sepanjang DAS, baik di Dairi, maupun di Kota Subulussalam hingga ke Sing­kil, tempat Lae Alas dan Lae Souraya bermuara.

Pada hari kedua, bangkai-bangkai babi tersebut mulai tak terlihat lagi di Sungai Singkil karena hanyut langsung ke laut melewati muara. Nah, jangan kira persoalan selesai sudah. Tidak, tidak.

Persoalan berikutnya pun muncul, yakni masyarakat Sing­kil pesisir mulai ogah makan ikan laut. Mereka mengimajina­sikan bahwa bangkai-bangkai babi tersebut sudah dimangsa dalam pesta pora para penghuni laut. Rasa jijik mulai bera­lih ke ikan.

Alhasil, sejak Sabtu hingga Minggu kemarin harga ikan laut di Aceh Singkil terjun bebas. Pembeli tak mau beli ikan kare­na dua hal. Pertama, karena menduga ikan-ikan laut sudah makan bangkai babi. Kedua, babi tersebut mati massal ka­rena terjangkit kolera. Konsumen ikan khawatir mereka pun bisa terjangkit kolera jika makan ikan yang sebelumnya me­makan bangkai babi mengandung kolera. Jadi, cukup kom­pleks permasalahannya.

Atas dasar itu, sangat kita tuntut pengertian dari sau­dara-saudara kita yang memelihara babi di Sumatera Uta­ra sana, tolong hargai kami umat muslim di Aceh, dengan cara tidak membuang bangkai babi, anjing, atau bangkai apa pun ke sungai.

Akal sehat dan moral agama mestinya membimbing para tetangga kita di Dairi sana agar tidak membuang bangkai he­wan ke sungai. Selain salah secara hukum negara karena melanggar Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Di sana di­atur tentang pencemaran lingkungan, yakni tindakan mema­sukkan makhluk hidup, zat, energi, dan/atau komponen lain ke dalam lingkungan hidup oleh kegiatan manusia sehingga melampaui baku mutu lingkungan.

Nah, memasukkan bangkai babi yang konon mati massal karena kolera sungguh perbuatan yang melanggar hukum negara, juga norma agama. Jadi, cobalah berupaya untuk bisa selalu menjadi tetangga yang baik. Tetangga yang ber­tenggang rasa.

Dengan cara itu pula kami di Aceh bisa berharap: cukup sekali ini saja bangkai-bangkai babi mencemari sungai dan merisaukan masyarakat Aceh Singkil. Jangan sampai lagi ter­ulang. Jangan sampai kasus seperti ini memicu pertikaian yang akhirnya berujung ke meja hijau.

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved