Jurnalisme warga
Kisah Parang Sikureung dan Inspirasi Kehidupan
PENAMAAN suatu daerah biasanya diawali dengan berbagai cerita rakyat yang terkadang tidak terekam dalam sejarah
Saya juga sempat berbincang dengan Imum Gampong, Tgk Khairul yang membawa kami untuk melihat lokasi rencana pembangunan balai pengajian. Ia juga menunjukkan kepada kami waduk yang berpotensi untuk dikembangkan sebagai tempat wisata islami dengan harapan ada pendapatan untuk kas gampong dan mampu meningkatkan perekonomian masyarakat sekitarnya. Saat asyik berbincang tiba-tiba saya dikagetkan oleh segerombolan lembu dan kambing yang nyaris menabrak saya. Mereka langsung mendekati waduk dan dengan sigap penggembala memberi minum ternaknya, lalu menggiringnya tanpa perlawanan mamasuki hutan untuk mencari makanan. Alam dan manusia di desa ini masih menyatu. Suara gemercik air pun turut menemani perbincangan kami di tengah hijaunya rerumputan.
Pemerintah Kabupaten Bireuen juga telah menetapkan Parang Sikureung sebagai gampong Keluarga Berencana (KB), bukan karena penduduknya banyak, tetapi justru karena masuk dalam kriteria desa tertinggal. Selain itu, pemahaman warganya tentang KB juga rendah, tempat pelayanan KB jauh, dan perekonomian masyarakat rendah, sebagaimana disampaikan Safwandi, anggota Tim Penyuluh KB BKKBN Kabupaten Bireuen. Program ini awalnya dicanangkan oleh Presiden Joko Widodo pada 14 Januari 2016.
Manfaat adanya gampong KB adalah membangun masyarakat berbasis keluarga, menyejahterakan masyarakat, dan memenuhi kebutuhan masyarakat melalui pelaksanaan integrasi program lintas sektor sesuai dengan kebutuhan seperti penyuluhan tentang KB oleh BKKBN, narkoba oleh BNN, administrasi kependudukan oleh Dinas Kependudukan dan Pencatatn Cipil, serta penyuluhan kesehatan oleh Puskesmas Kecamatan Kutablang.
Secara keseluruhan, tujuan penetapan Gampong KB Parang Sikureung adalah pengembangan sumber daya manusia (SDM) masyarakat gampong, terutama pembangunan keluarga, sebagaimana tertuang dalam delapan fungsi keluarga, yaitu: agama, sosial budaya, cinta kasih, perlindungan, reproduksi, sosialisasi dan pendidikan, ekonomi, dan pembinaan lingkungan sehingga diharapkan jika keluarga telah menerapkan delapan fungsi ini maka anak-anak akan tumbuh menjadi pribadi yang baik dan memiliki karakater yang baik pula, serta mampu membawa Gampong Parang Sikureung berdiri sejajar dengan gampong maju lainnya.
Dalam kehidupan sehari-hari kisah Parang Sikureung dapat kita jadikan inspirasi bahwa jika ada kemauan pasti ada jalan. Hanya memulainya saja yang sulit, tapi setelah itu menjadi terbiasa. Bak kata pepatah: lancar kaji karena diulang, lancar jalan karena ditempuh.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/chairul-bariah-dosen-fakultas-ekonomi-universitas-almuslim-peusangan.jpg)