Kisah Mohammed Dahlan, Mantan Pemimpin Fatah Palestina yang Masuk Daftar Teroris di Turki

Dahlan dianggap memiliki sejarah panjang merencanakan revolusi Musim Semi Arab di sejumlah negara di kawasan timur tengah dan Afrika Utara.

Kisah Mohammed Dahlan, Mantan Pemimpin Fatah Palestina yang Masuk Daftar Teroris di Turki
Alresalah via middleeastmonitor.com
Gambar anggota Fatah Mohammed Dahlan (depan) dan Mahmoud Abbas 

SERAMBINEWS.COM, ANKARA - Pada hari Jumat (13/12/2019), Turki memasukkan nama mantan pemimpin Fatah Palestina, Mohammed Dahlan, ke dalam daftar teratas teroris yang paling dicari untuk hubungan dengan FETO (Fetullah Terrorist Organization).

Dahlan dicari dengan hadiah hingga 10 juta lira Turki (sekitar Rp 24 miliar).

Tuduhan Turki untuk Mohammed Dahlan bukanlah tuduhan pertama terhadapnya.

Dahlan dianggap memiliki sejarah panjang merencanakan revolusi Musim Semi Arab di sejumlah negara di kawasan timur tengah dan Afrika Utara.

Dia dituduh mengambil bagian dalam kontra-revolusi yang bertujuan menjegal kelompok-kelompok Islam, terutama Ikhwanul Muslimin, dari meraih kekuasaan di negara mereka, seperti yang terjadi di Mesir.

Pada 2012, Dahlan bekerja sama dengan Menteri Pertahanan Abdel Fattah al-Sisi saat itu untuk menggulingkan Mohamed Morsi, presiden Mesir pertama yang terpilih secara demokratis.

Namanya juga muncul di Libya yang dilanda konflik, tempat dia mendukung, atas nama Uni Emirat Arab, komandan militer kontroversial Khalifa Haftar di Libya timur.

Dahlan, mantan pejabat keamanan terkenal dan operator politik yang berbasis di Abu Dhabi, telah bersembunyi selama bertahun-tahun dalam bayang-bayang politik Palestina.

Cara Licik Israel Dirikan Negaranya, Curi Kesempatan Setelah Inggris Angkat Kaki dari Palestina

MIN 1 Banda Aceh Galang Dana untuk Palestina, Sejumlah Hafiz Cilik Dapat Hadiah dari Syeikh Ibrahim

Dilahirkan pada 1961 di Khan Yunis di Jalur Gaza, Dahlan mengepalai aparat Keamanan Preventif Palestina di Gaza dari 1995 hingga 2000, mengikuti pembentukan Otoritas Palestina pada 1994.

Selama bertahun-tahun, pasukannya terlibat dalam aksi kekerasan dan intimidasi terhadap kritik, jurnalis dan anggota kelompok oposisi, terutama dari Hamas dan Jihad Islam, memenjarakan anggota kedua kelompok tanpa tuduhan resmi.

Halaman
1234
Editor: Zaenal
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved