Salam

Awas, Ada Teh Hijau Bodong Asal Thailand  

Tim dari Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BBPOM) Banda Aceh menertibkan dan mengawasi peredaran produk pangan

Awas, Ada Teh Hijau Bodong Asal Thailand   
SERAMBINEWS.COM/ SARI MULIASNO
Kepala BBPOM Banda Aceh, Zulkifli (dua kiri) bersama Kadis Kesehatan Simeulue dan tim, menertibkan produk pangan yang tidak layak edar di Kabupaten Simeulue, Selasa (17/12/2019). 

Tim dari Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BBPOM) Banda Aceh menertibkan dan mengawasi peredaran produk pangan tak layak edar dan tak berizin di sejumlah toko dan swalayan di Sinabang, Kabupaten Simeulue, dua hari lalu. Dalam penertiban itu, petugas menemukan dan menyita belasan bungkus teh hijau asal Thailand yang tak memiliki izin edar serta tidak berlabel BBPOM untuk dimusnahkan. "Ini kalau tidak teliti, bukannya minum teh hijau tapi minum zat pewarna. Pedagang punya tanggung jawab untuk mengawasi dagangannya sebelum dibeli konsumen," kata Kepala BBPOM Banda Aceh, Drs Zulkifli Apt.

Beberapa bulan sebelumnya, Bea Cukai Aceh juga menyita kemudian memusnahkan teh hijau dan sejumlah produk pangan serta kosmetik asal Thailand. Barang-barang itu, termasuk obat-obatan, selain masuk secara selundupan juga terdeteksi membawa virus yang sangat berbahaya bagi kesehatan manusia.

Temuan teh asal Thailand yang masuk secara tanpa izin menjadi penting bagi kita semua. Sebab, saat ini generasi milenial tanah air sedang menggandrungi bermacam-macam racikan minuman the Thailand. Sebut saja Thai tea, green Thai tea, dan lain-lain yang biasanya ditemukan di berbagai gerai di tepi jalan atau di mall.

Minuman perpaduan teh dan susu ini pemasaran kian merambah daerah-daerah pinggiran kota, bahkan desa-desa. Thai tea ada yang dijual sudah menjadi minuman sesuai selera, ada juga yang dijual berupak bubuk atau powder. Mereknya ada macam-macam. Pendek kata, bagi produsen Thai tea, Indonesia adalah pasar yang sangat empuk.

Karena begitu banya penggemar Thai tea, termasuk tek hijau di dalamnya, kemudian ada oknum-oknum memanfaatkan peluang ini untuk menyelundupkan berbagai formula dan mereka teh asal Thailand ke Indonesia, mungkin juga termasuk ke Aceh.

Yang menjadi persoalan kemudian adalah bagaimana konsumen bisa mengetahui bubuk Thai tea yang dijual itu berizin atau tidak? Sebab, biasanya para penjual Thai tea tidak pernah memperlihatkan kemasannya kepada konsumen. Bubuk teh itu umumnya sudah dimasukkan dalam toples plastik.  Jadi, konsumen betul-betul tidak bisa tahu barang itu resmi atau tidak, halal atau tidak, sehat atau tidak. Juga tidak pernah tahu teh itu merek apa.

Padahal, sebagian konsumen kita sekarang sudah cerdas. Sudah cermat memperhatikan informasi pada label pangan termasuk peringatan. Dengan mengenali peringatan pada label pangan dan membacanya secara teliti, konsumen akan memahami peruntukan, batasan, dan hal apa saja yang perlu dilakukan ketika  mengonsumsi suatu produk.

Oleh karenanya, kita berharap BBPOM Aceh lebih berkonsentrasi lagi mengawasi dan menertibkan peredaran dan penjualan minuman-minum dan makanan impor mengingat konsumen sangat sulit mendeteksi mana yang sehat dan mana pula yang berbahaya, seperti teh hijau temuan di Simeulue tadi.

Akan lebih kita harapkan lagi BBPOM Aceh bisa mengeluarkan public warning atau peringatan kapada masyarakat tentang misalnya merek-merek minuman, makanan, obat-obatan, kosmetik, dan lainnya yang berbahaya. Sebab, dengan kemudahan akses dan harga yang murah sering  membuat masyarakat sebagai konsumen mudah terbujuk untuk mengonsumsi produk-produk tertentu yang promosinya sangat hebat, termasuk secara online.

Jadi, BBPOM harus terus menunjukkan kipraghnya dalam mengedukasi masyarakat agar lebih berbahati-hati dalam mengonsumsi makanan, minuman, obat-obatan, kosmetik, dan lainnya.

Beberapa waktu lalu, seorang anggota dewan menyatakan dirinya sangat prihatin. Sebab, masyarakat Indonesia sedang berada di bawah ancaman produk-produk pangan, minuman, obat-obatan, dan kosmetika palsu. Kerananya, ia berteriak-teriak minta masyarakat supaya  "Jangan membeli obat di tempat sembarangan. Dilihat juga kemasannya dan izin edarnya. Menurut saya ini yang penting serta harus diperhatikan masyarakat saat ingin membeli obat, makanan, minuman, dan kosmetika. Merajalelanya produk-produk palsu dan illegal di pasaran karena harganya murah.”

Makanya, atas keprihatinan ini, dengan segala kewenangan yang ada, kita berharap BBPOM dapat terus meningkatkan pengawasan dan penertiban secara rutin terhadap produk-produk yang mengancam jiwa konsumen. Inspeksi jangan hanya menjelang tahun baru, bulan puasa, atau menjelang hari raya.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved