Jurnalisme Warga
Desa Mesjid, Sentra Kerajinan Peci di Aceh Utara
SUARA jahit tak henti-hentinya menderu di sebuah kedai kecil yang penuh sesak oleh kain beludu, benang, dan juga peci yang terpajang apik
OLEH ABDUL AZIS, Mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Lhokseumawe, penikmat kopi yang aktif menulis di Steemit, melaporkan dari Syamtlira Aron
SUARA jahit tak henti-hentinya menderu di sebuah kedai kecil yang penuh sesak oleh kain beludu, benang, dan juga peci yang terpajang apik di atas rak yang menempel pada dinding kayu. Empat karyawan tampak duduk berhadapan dengan mesin jahit. Mereka terlihat fokus dan cekatan mengerjakan pekerjaannya. Kedai kecil tersebut berada di Desa Mesjid, Kecamatan Syamtalira Aron, Aceh Utara. Desa ini lebih dikenal oleh masyarakat sebagai “gampong peci”.
Jumat (13/12/2019) saya ditemani dua kolega mendatangi Desa Mesjid untuk melihat secara langsung kegiatan pembuatan peci dan ingin mengetahui awal mula kehadiran industri kerajinan peci di desa yang berada persis di sisi Daerah Aliran Sungai (DAS) Kureng Pase ini. Tempat produksi peci yang kami kunjungi adalah milik Iwan Sunarya, akrab disapa Bang Wan.
Setelah mempersilakan kami duduk, Bang Wan kembali ke aktivitasnya seraya mulai bercerita tentang sejarah berdirinya usaha produksi yang dikelolanya. Juga perihal hadirnya kegiatan kerajinan peci di Desa Mesjid. Bang Wan menuturkan, dia mulai menggeluti pekerjaan sebagai perajin peci saat masih SMP dan mulai berbisnis secara mandiri sekitar tahun 2001. Saat itu dia masih menimba ilmu di SMA Negeri 1 Syamtalira Bayu, Aceh Utara. “Saat itu saya hanya bisa bekerja sepulang sekolah. Selain itu, minimnya modal yang saya miliki mengharuskan saya bekerja sendiri sehingga jumlah peci yang bisa saya hasilkan sangat terbatas,” kata Bang Wan sambil tersenyum manis.
Usaha yang dulu dirintisnya dengan susah payah kini telah menjelma sebagai salah satu pusat produksi peci terkemuka di Aceh. Jika dulu hanya bekerja seorang diri dan sanggup memproduksi peci dalam jumlah terbatas, sekarang dengan bantuan belasan karyawan dan didukung alat yang memadai, usaha miliknya sanggup menyelesaikan ribuan peci dalam sebulan. Ini bukan sebuah kebetulan, tapi ada doa yang dipadukan dengan usaha dan kerja keras sehingga menjadikan produk peci miliknya dikenal luas.
Iwan Sunarya tidak sendiri, setidaknya ada tiga tempat produksi lainnya yang ada di Gampong Peci ini, antara lain, usaha peci milik adik kandung Bang Wan yaitu, Tgk Khairul Azmi serta usaha milik Tgk Wasly dan Tgk Mukhlis. Dua nama terakhir adalah adik dan abang yang memiliki ikatan kekerabatan erat dengan Bang Wan. Menjamurnya usaha kerajinan peci di Desa Mesjid ternyata tidak berdampak buruk terhadap hubungan antarpengrajin, justru sebaliknya mereka sering bekerja sama dalam memproduksi peci. “Masing-masing perajin memiliki pangsa pasar tersendiri. Jadi, saya dengan perajin lain tidak perlu takut kehilangan pelanggan, demikian pula sebaliknya,” ujar Bang Wan.
“Bahkan kami saling berkolaborasi dalam produksi, khususnya ketika kebanjiran pesanan seperti bulan Ramadhan dan hari raya,” tambahnya.
Dalam menunjang kegiatan produksi, Bang Wan memanfaatkan rumah warga. Selain karena kapasitas rukonya yang terbatas, tujuan lainnya adalah untuk memberdayakan dan melatih warga dalam membuat peci. Senada dengan Bang Wan, sentra produksi peci lain juga melakukan hal yang sama, sehingga bisa dipastikan hampir setiap rumah di sini punya satu mesin jahit dan mayoritas warga juga piawai dalam hal jahit-menjahit.
Peci yang sudah selesai, nantinya langsung diantar ke rumah produksi induk untuk dikemas dan siap dipasarkan. Setiap pekerja memiliki tugas masing-masing, biasanya pekerja yang sudah berpengalaman bertugas menjahit motif atau sering disebut dengan istilah “cob bungoeng”.
Motif-motif peci yang diproduksi di sentra pembuatan peci yang ada di Desa Mesjid sangat beragam, mulai dari motif kerawang gayo, pinto aceh, keong, kaligrafi, hingga rencong. Selain itu, perajin juga menerima motif-motif tertentu sesuai dengan selera konsumen. Keindahan produk peci asal Desa Mesjid terletak pada penggunaan bahan yang berkualitas dan juga pada jahitan motif yang khas dan menarik. Motif tersebut dijahit dengan warna benang yang beragam ditambah dengan kehadiran ornamen-ornamen unik sehingga menghadirkan peci dengan tampilan yang apik.
Peci-peci yang diproduksi memiliki harga yang variatif mulai dari Rp 30.000 hingga Rp 100.000, tergantung bahan dan motif yang digunakan. Kini, produk peci dari desa kecil ini sudah dipasarkan ke seluruh Sumatra dan sebagian Pulau Jawa. Sayangnya, untuk pasar luar negeri perajin belum memiliki akses langsung, sehingga tidak banyak produk mereka yang bisa diekspor ke luar.
Peci Turki
Dikenal sebagai pusat kerajinan peci terbesar di Aceh Utara, aktivitas produksi peci di Desa Mesjid ternyata sudah berlangsung sejak tahun 1942, sekitar tiga tahun sebelum kemerdekaan Indonesia. Mungkin, ini menjadi salah satu kegiatan produksi peci tertua di Aceh. Tokoh utama yang memegang peranan penting dalam kehadiran usaha pembuatan peci di desa Mesjid adalah Tgk Masri, beliau merupakan kakek Iwan Sunarya dan ayah dari Tgk Wasly dan Tgk Mukhlis.
Ide awal untuk membuat peci didapat oleh Tgk Masri pada saat beliau mondok di Dayah Labuhan Haji, Aceh Selatan, tahun 1940-an. Di sana sewaktu Tgk Masri sedang istirahat sembari mengulang kitab di bilik dayah, Tgk Masri melihat peci Turki miliknya. Peci tersebut memiliki model bagian atas yang bisa dilipat, berbeda dengan model peci yang diproduksi sekarang. Tgk Masri tertarik mempelajari bagaimana peci tersebut dibuat.
Ia juga ingin membuka usaha produksi jika nantinya berhasil mempelajari teknik pembuatan peci. Kemudian beliau mencoba untuk mendisain sebuah peci dengan bahan seadanya seperti kain beludu bekas yang dibelinya di pasar kaki lima, daun pisang kering, kulit kayu, hingga anyaman tikar. Sedangkan untuk benang beliau gunakan serat nanas. Bahan yang sangat sederhana itu berhasil beliau rangkai menjadi sebuah produk peci yang punya nilai jual. Keterampilan Tgk Masri dalam membuat peci mulai tercium oleh santri lain, sehingga banyak santri yang meminati peci buatannya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/abdul-azis-mahasiswa-sekolah-tinggi-ilmu.jpg)