OPINI
Rahasia Musibah dalam Alquran
TIDAK terasa 15 tahun musibah gempa tsunami Aceh telah berlalu. Musibah tersebut sampai kini masih menyisakan trauma mendalam
TIDAK terasa 15 tahun musibah gempa tsunami Aceh telah berlalu. Musibah tersebut sampai kini masih menyisakan trauma mendalam, apalagi bagi yang merasakan langsung kedahsyatan peristiwa itu. Namun sebagai masyarakat yang kental semangat religiusnya tentu memiliki sandaran vertikal bahwa musibah merupakan peringatan dan ujian dari Allah swt.
Meskipun terkadang pertanyaan-pertanyaan kecil biasanya muncul ketika kita mendengar, melihat, bahkan malah merasakan suatu musibah; Mengapa Allah menakdirkan demikian? Apa artinya? Kadang kita menambahkan hampir dengan rasa frustasi, kejamkah engkau ya Allah?
Pertanyaan-pertanyaan di atas tentunya akan sulit kita jawab, bila kita tidak memahami bahwa musibah itu merupakan ujian yang diberikan Allah swat. Allah menciptakan dunia sebagai ujian bagi manusia. Sebagaimana sifat ujian itu sendiri, terkadang dia menguji manusia dengan kesenangan terkadang juga dengan penderitaan.
Allah memberikan musibah sebagai ujian bukan bermakna Allah itu kejam dan marah kepada kita, namun sebagai peringatan supaya kita kembali kepada jalan yang benar. Kalau Allah itu marah mustahil Allah mempunyai sifat Pengasih lagi Maha Penyayang.
Orang-orang yang menilai berbagai peristiwa tidak berdasarkan Alquran pasti mereka tidak mampu menafsirkan secara tepat berbagai peristiwa tersebut, kemudian menjadi bersedih hati dan kehilangan harapan. Padahal, Allah mengungkapkan rahasia penting dalam Alquran yang hanya dapat difahami oleh orang-orang yang benar-benar beriman.
Allah berfirman dalam Surat Asy-Syarh Ayat 5-6: "Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan". (Asy-Syarh : 5-6).
Dengan memahami rahasia ini, orang-orang yang beriman menjumpai kebaikan dan keindahan dalam setiap musibah. Musibah dan penderitaan tidak membuat mereka merasa gentar dan khawatir.
Mereka justru bersyukur karena kerugian di dunia tidak ada apa-apa dibandingkan dengan kerugian di akhirat. Kerugian di akhirat artinya azab yang kekal abadi dan sangat pedih. Orang-orang yang tetap sibuk mengingat akhirat melihat setiap musibah sebagai kebaikan dan keindahan untuk menuju kehidupan akhirat.
Orang-orang yang bersabar dengan musibah sebagai ujian Allah akan menyadari bahwa dirinya sangat lemah di hadapan Allah. Hal itu menjadi sandaran vertikal bahwa musibah adalah peringatan Allah bahwa selama ini kita telah dilalaikan oleh kenikmatan dunia dan melupakan pengabdian kepada Allah.
Dalam Alquran Allah telah menjelaskan rahasianya dengan kisah-kisah silam tentang musibah yang diberikan kepada suatu negeri yang telah ingkar atas nikmat Allah dengan melakukan kemaksiatan dan kezaliman. Allah berfirman dalam Surat Saba: 15-16 Kisah kaum Saba)" Akibat keingkaran mereka (Kaum Saba') terhadap nikmat Allah, maka Allah mendatangkan bencana berupa banjir besar dengan bocornya bendungan 'Arim yang melanda seluruh negeri Saba'.
Wajah kota Ma'aarib (ibukota Saba') berubah, negeri yang dulunya hijau ranau dengan pepohonan menjadi negeri tandus dengan mayat bergelimpangan di kota, di kampung, di jalan raya dan juga di dalam bangunan-bangunan megah. Kondisi seperti ini, Allah juga telah menjelaskan tentang kehancuran kaum Nabi Nuh yang ingkar kepada Allah, Allah menjelaskan dalam Surat Al-'Araf : 64 dan Surat Al-Syu'ara : 119-120
Allah juga memberikan peringatan kepada kaum Nabi Shaleh akibat kecongkakan dan kesombongan mereka. Karena itu mereka ditimpa gempa, maka jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan ditempat tinggal mereka.
Maka Shaleh meninggalkan mereka seraya berkata: "Hai kaumku sesungguhnyaaku telah menyampaikan kepadamu amanah Tuhanku, dan aku telah memberikan nasihat kepadamu, tetapi kamu tidak menyukai orang-orang yang memberi nasihat". (Al-'araf: 78-79).
Allah pula memberikan peringatan kepada kaum Nabi Hud ('Ad) yang menolak ajakan Nabinya dengan memusnahkan mereka, tersebut dalam Al-`araf 72. Begitu pula dengan kaum Nabi Luth yang dihancurkan Allah dengan menurunkan hujan batu dari langit (Al-'Araf: 83-84). Di samping itu pula, bagaimana Allah membinasakan penduduk Madyan yang ingkar terhadap Nabi Syu'aib (Al-'Araf:91).
Ayat-ayat tersebut menjelaskan sebuah rahasia bahwa Allah memberikan musibah akibat dari tingkah polah penduduk negeri itu sendiri. Ada tiga katagori musibah yang diberikan Allah kepada manusia.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/munawar-a.jpg)