OPINI

Rahasia Musibah dalam Alquran

TIDAK terasa 15 ta­hun musibah gempa tsunami Aceh telah berlalu. Musibah tersebut sampai kini masih menyi­sakan trauma mendalam

Rahasia Musibah dalam Alquran
IST
DR. MUNAWAR A. DJALIL, MA Pegiat Dakwah, Tinggal di Blang Beringin Gampong Cot Masjid, Banda Aceh

TIDAK terasa 15 ta­hun musibah gempa tsunami Aceh telah berlalu. Musibah tersebut sampai kini masih menyi­sakan trauma mendalam, apalagi bagi yang merasa­kan langsung kedahsyatan peristiwa itu. Namun seba­gai masyarakat yang kental semangat religiusnya tentu memiliki sandaran vertikal bahwa musibah merupakan peringatan dan ujian dari Al­lah swt.

Meskipun terkadang per­tanyaan-pertanyaan kecil biasanya muncul ketika kita mendengar, melihat, bahkan malah merasakan suatu mu­sibah; Mengapa Allah me­nakdirkan demikian? Apa ar­tinya? Kadang kita menam­bahkan hampir dengan rasa frustasi, kejamkah engkau ya Allah?

Pertanyaan-pertanyaan di atas tentunya akan sulit kita jawab, bila kita tidak mema­hami bahwa musibah itu me­rupakan ujian yang diberikan Allah swat. Allah mencipta­kan dunia sebagai ujian bagi manusia. Sebagaimana sifat ujian itu sendiri, terkadang dia menguji manusia dengan kesenangan terkadang juga dengan penderitaan.

Allah memberikan musi­bah sebagai ujian bukan ber­makna Allah itu kejam dan marah kepada kita, namun sebagai peringatan supaya kita kembali kepada jalan yang benar. Kalau Allah itu marah mustahil Allah mem­punyai sifat Pengasih lagi Maha Penyayang.

Orang-orang yang meni­lai berbagai peristiwa tidak berdasarkan Alquran pasti mereka tidak mampu menaf­sirkan secara tepat berbagai peristiwa tersebut, kemudian menjadi bersedih hati dan kehilangan harapan. Pada­hal, Allah mengungkapkan rahasia penting dalam Alqur­an yang hanya dapat difa­hami oleh orang-orang yang benar-benar beriman.

Allah berfirman dalam Su­rat Asy-Syarh Ayat 5-6: "Ka­rena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudah­an, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudah­an". (Asy-Syarh : 5-6).

Dengan memahami ra­hasia ini, orang-orang yang beriman menjumpai kebaik­an dan keindahan dalam se­tiap musibah. Musibah dan penderitaan tidak membuat mereka merasa gentar dan khawatir.

Mereka justru bersyukur karena kerugian di dunia tidak ada apa-apa diban­dingkan dengan kerugian di akhirat. Kerugian di akhirat artinya azab yang kekal aba­di dan sangat pedih. Orang-orang yang tetap sibuk mengingat akhirat melihat setiap musibah sebagai ke­baikan dan keindahan untuk menuju kehidupan akhirat.

Orang-orang yang bersa­bar dengan musibah sebagai ujian Allah akan menyadari bahwa dirinya sangat lemah di hadapan Allah. Hal itu menjadi sandaran vertikal bahwa musibah adalah per­ingatan Allah bahwa selama ini kita telah dilalaikan oleh kenikmatan dunia dan me­lupakan pengabdian kepada Allah.

Dalam Alquran Allah te­lah menjelaskan rahasianya dengan kisah-kisah silam tentang musibah yang diberi­kan kepada suatu negeri yang telah ingkar atas nikmat Allah dengan melakukan kemak­siatan dan kezaliman. Allah berfirman dalam Surat Saba: 15-16 Kisah kaum Saba)" Aki­bat keingkaran mereka (Kaum Saba') terhadap nikmat Allah, maka Allah mendatangkan bencana berupa banjir besar dengan bocornya bendungan 'Arim yang melanda seluruh negeri Saba'.

Halaman
123
Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved