Minggu, 19 April 2026

OPINI

Rahasia Musibah dalam Alquran

TIDAK terasa 15 ta­hun musibah gempa tsunami Aceh telah berlalu. Musibah tersebut sampai kini masih menyi­sakan trauma mendalam

Editor: hasyim
IST
DR. MUNAWAR A. DJALIL, MA Pegiat Dakwah, Tinggal di Blang Beringin Gampong Cot Masjid, Banda Aceh 

TIDAK terasa 15 ta­hun musibah gempa tsunami Aceh telah berlalu. Musibah tersebut sampai kini masih menyi­sakan trauma mendalam, apalagi bagi yang merasa­kan langsung kedahsyatan peristiwa itu. Namun seba­gai masyarakat yang kental semangat religiusnya tentu memiliki sandaran vertikal bahwa musibah merupakan peringatan dan ujian dari Al­lah swt.

Meskipun terkadang per­tanyaan-pertanyaan kecil biasanya muncul ketika kita mendengar, melihat, bahkan malah merasakan suatu mu­sibah; Mengapa Allah me­nakdirkan demikian? Apa ar­tinya? Kadang kita menam­bahkan hampir dengan rasa frustasi, kejamkah engkau ya Allah?

Pertanyaan-pertanyaan di atas tentunya akan sulit kita jawab, bila kita tidak mema­hami bahwa musibah itu me­rupakan ujian yang diberikan Allah swat. Allah mencipta­kan dunia sebagai ujian bagi manusia. Sebagaimana sifat ujian itu sendiri, terkadang dia menguji manusia dengan kesenangan terkadang juga dengan penderitaan.

Allah memberikan musi­bah sebagai ujian bukan ber­makna Allah itu kejam dan marah kepada kita, namun sebagai peringatan supaya kita kembali kepada jalan yang benar. Kalau Allah itu marah mustahil Allah mem­punyai sifat Pengasih lagi Maha Penyayang.

Orang-orang yang meni­lai berbagai peristiwa tidak berdasarkan Alquran pasti mereka tidak mampu menaf­sirkan secara tepat berbagai peristiwa tersebut, kemudian menjadi bersedih hati dan kehilangan harapan. Pada­hal, Allah mengungkapkan rahasia penting dalam Alqur­an yang hanya dapat difa­hami oleh orang-orang yang benar-benar beriman.

Allah berfirman dalam Su­rat Asy-Syarh Ayat 5-6: "Ka­rena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudah­an, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudah­an". (Asy-Syarh : 5-6).

Dengan memahami ra­hasia ini, orang-orang yang beriman menjumpai kebaik­an dan keindahan dalam se­tiap musibah. Musibah dan penderitaan tidak membuat mereka merasa gentar dan khawatir.

Mereka justru bersyukur karena kerugian di dunia tidak ada apa-apa diban­dingkan dengan kerugian di akhirat. Kerugian di akhirat artinya azab yang kekal aba­di dan sangat pedih. Orang-orang yang tetap sibuk mengingat akhirat melihat setiap musibah sebagai ke­baikan dan keindahan untuk menuju kehidupan akhirat.

Orang-orang yang bersa­bar dengan musibah sebagai ujian Allah akan menyadari bahwa dirinya sangat lemah di hadapan Allah. Hal itu menjadi sandaran vertikal bahwa musibah adalah per­ingatan Allah bahwa selama ini kita telah dilalaikan oleh kenikmatan dunia dan me­lupakan pengabdian kepada Allah.

Dalam Alquran Allah te­lah menjelaskan rahasianya dengan kisah-kisah silam tentang musibah yang diberi­kan kepada suatu negeri yang telah ingkar atas nikmat Allah dengan melakukan kemak­siatan dan kezaliman. Allah berfirman dalam Surat Saba: 15-16 Kisah kaum Saba)" Aki­bat keingkaran mereka (Kaum Saba') terhadap nikmat Allah, maka Allah mendatangkan bencana berupa banjir besar dengan bocornya bendungan 'Arim yang melanda seluruh negeri Saba'.

Wajah kota Ma'aarib (ibu­kota Saba') berubah, negeri yang dulunya hijau ranau dengan pepohonan menjadi negeri tandus dengan mayat bergelimpangan di kota, di kampung, di jalan raya dan juga di dalam bangunan-bangunan megah. Kondisi seperti ini, Allah juga telah menjelaskan tentang kehan­curan kaum Nabi Nuh yang ingkar kepada Allah, Allah menjelaskan dalam Surat Al-'Araf : 64 dan Surat Al-Syu'ara : 119-120

Allah juga memberikan peringatan kepada kaum Nabi Shaleh akibat kecong­kakan dan kesombongan mereka. Karena itu mereka ditimpa gempa, maka jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan ditempat tinggal mereka.

Maka Shaleh meninggal­kan mereka seraya berkata: "Hai kaumku sesungguhnya­aku telah menyampaikan ke­padamu amanah Tuhanku, dan aku telah memberikan nasihat kepadamu, tetapi kamu tidak menyukai orang-orang yang memberi nasi­hat". (Al-'araf: 78-79).

Allah pula memberikan peringatan kepada kaum Nabi Hud ('Ad) yang meno­lak ajakan Nabinya dengan memusnahkan mereka, ter­sebut dalam Al-`araf 72. Be­gitu pula dengan kaum Nabi Luth yang dihancurkan Allah dengan menurunkan hujan batu dari langit (Al-'Araf: 83-84). Di samping itu pula, ba­gaimana Allah membinasa­kan penduduk Madyan yang ingkar terhadap Nabi Syu'aib (Al-'Araf:91).

Ayat-ayat tersebut menje­laskan sebuah rahasia bah­wa Allah memberikan musi­bah akibat dari tingkah polah penduduk negeri itu sendiri. Ada tiga katagori musibah yang diberikan Allah kepada manusia.

Pertama, musibah sebagai azab yang yang diturunkan Allah kepada orang-orang kafir. Kedua, musibah dalam bentuk peringatan yang di­berikan kepada suatu negeri yang sebagian penduduknya masih lalai beribadah kepa­da Allah. Dan ketiga, musi­bah berupa ujian bagi orang-orang beriman.

Musibah gempa dan tsunami yang melanda Aceh 15 tahun lalu me­rupakan peringatan Allah agar kita kembali ke jalan yang benar. Oleh karena­nya sudah sepatutnya ma­sing-masing kita bermu­hasabah (introspeksi diri), meminta ampun dan ber­taubat kepada Allah. Me­minta ampun dan bertau­bat adalah satu-satunya jalan agar Allah terus me­nerus menurunkan keber­kahan dan kenikmatannya.

Sebagaimana yang diki­sahkan ketika kaum `Ad ber­buat dosa Allah memerintah­kan Nabi Hud agar menyeru kepada kaumnya untuk me­mohon ampun kepada Allah agar Allah memberikan ke­berkahan dan kenikmatan yang terus menerus.

Seperti yang disebutkan dalam Alquran Surat Hud ayat 3: "Dan hendaklah kamu meminta ampun kepa­da Tuhanmu dan bertaubat kepada-nya. (jika kamu me­ngerjakan yang demikian), niscaya dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah di­tentukan.

Menghadapi berbagai an­caman bencana yang kerap terjadi di negeri kita. Biasa­nya kita sering membahas terkait upaya meminimalisir jumlah korban, mengurangi resiko bencana dengan cara membangun escape building, early warning system, jalur evakuasi dan pengajaran ke­bencanaan bagi masyarakat dan siswa sekolah dan lain-lain.

Namun sebagai Muslim kita terkadang lupa, bahwa sandaran vertikal kita dalam membangun kesiagaan ben­cana itu adalah dengan me­minta ampun dan bertaubat kepada Allah Swt.

Demikian Allah telah men­jelaskan berbagai rahasianya dalam Alquran sebagai pel­ajaran sekaligus sandaran vertikal bagi orang yang ber­iman, bahwa perumpamaan bangsa dan kaum yang telah dimusnahkan Allah hanya karena ulah dan kejahatan mereka sendiri.

Ingat Endatu kita dahulu juga pernah mengatakan: "Suatu saat nanti apabila penduduk negeri ini (Aceh) sudah sangat zalim, bejat moralnya, mengabaikan hu­kum, melanggar adat dan pantangan, maka air baik dari laut maupun dari sungai akan naik ke darat memus­nahkan mereka, agar bumi Aceh tetap bersih seperti sedia kala". Allahu'Alam bis­sawab!

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved